Skip to content

Dari Tanaman Jadi Bahan Obat??

18/03/2011

Bagi yang sering ataupun pernah menggunakan obat batuk, mungkin pernah membaca label obat yang mengandung kodein. Kodein ini termasuk antitusif atau penekan batuk yang termasuk alkaloid dari tumbuhan Papaver somniferum. Penemuan obat dari tumbuhan ini mengalami proses yang sedemikian panjang. Dunia obat memang tidak lepas dari tumbuhan, khususnya masyarakat  indonesia yang memiliki kepercayaan cukup tinggi terhadap obat herbal. Oleh karenanya, seorang sarjana farmasi yang akan menjadi apoteker,  harus  memiliki pengetahuan tentang tumbuhan dan prosesnya  hingga dapat digunakan sebagai obat.

Para calon apoteker yang sedang menjalani kuliah sarjana farmasi dibekali pengetahuan tentang seluk beluk bermacam-macam tanaman pada mata kuliah Botani Farmasi. Belajar teori di dalam kelas, mengamati wujud tanaman obat secara langsung ditempat tumbuhnya, sampai pengamatan di laboratorium. Tidak ketinggalan materi mengenai sistem klasifikasi tanaman tersebut, karakteristik, dan juga senyawa yang terkandung didalamnya. Bagian paling mengesankan dari mata kuliah ini adalah ujian praktikumnya, dimana kita harus menghafal “biodata” tanaman-tanaman yang sudah dipelajari selama 1 semester tersebut. Yang menggelitik dan membuat si ujian semakin mencekam adalah sistem “ujian ketok meja”. Entah nama resminya apa, dalam ujian ini para praktikan harus mengerjakan berbagai soal yang masing-masing diletakkan terpisah berjajar di meja  dengan cara berpindah – pindah dari satu soal ke soal yang lainnya. Bentuk soalnya macem-macem dan misterius, bisa berupa bagian tanaman yang dipertanyakan ataupun soal teori. Satu soal diberi waktu sekitar 1 menit, setiap waktu habis pengawas akan mengetok meja sehingga akan terdengar suara mengagetkan yang  “nggak banget”, pertanda kita harus bergeser ke soal selanjutnya. Itulah mengapa ujian ini sering disebut “ujian ketok meja”.  Rasanya seperti sedang bermain dalam kuis di TV. Menegangkan tetapi cukup mengesankan untuk diingat.

Selain mempelajari wujud dan karakteristik tumbuhan yang potensial sebagai obat, mahasiswa farmasi juga mengulik bagaimana suatu tanaman dapat digunakan sebagai bahan obat yang layak. Masyarakat Indonesia tentu sangat akrab dengan pemakaian obat-obat tradisional seperti jamu yang sebagain besar berasal dari tumbuhan. Apakah suatu tanaman dapat begitu saja digunakan sebagai obat?

Tanaman yang selama ini telah digunakan turun-temurun untuk pengobatan, tentu dapat ditelusuri secara ilmiah.  Nah,  mahasiswa farmasi mempelajari senyawa pada tanaman yang berpotensi memiliki khasiat, melalui kuliah Fitokimia. Mulai dari teori golongan senyawa-senyawa yang terkandung pada tanaman, struktur dan karakteristik senyawa, sampai mekanisme mengidentifikasi senyawa tersebut. Dalam praktikumnya, mahasiswa melakukan rangkaian tahap isolasi untuk memperoleh senyawa dari tanaman yang diinginkan. Melakukan penelusuran pustaka, untuk memperoleh metode mengisolasi suatu senyawa, kemudian dilakukan lah proses isolasi tersebut selama hampir satu semester. Berteman dengan segala bentuk alat ektraksi, distilasi, faksinasi dan spektrofotometri. Setelah mendapatkan senyawa yang dimaksud, lalu bagaimana khasiatnya? Uji khasiat ini akan dilakukan di farmakologi.  Dalam praktikum fitokimia cukup sampai mendapatkan senyawanya.

Praktikum fitokimia ini memang cukup menyita waktu, karena proses pengerjaannya berhari – hari, maka rasanya seperti praktikum setiap hari. Memang melelahkan, tapi sebenarnya bisa dinikmati dan dibuat menyenangkan. Berkecimpung seputar tanaman ini terus berlanjut sampai tingkat akhir. Walaupun demikian, bagi yang berminat merasakan jadi mahasiswa farmasi dan alergi dengan perkuliahan tanaman tidak perlu khawatir, karena  masih banyak mata kuliah lain yang “menghibur”. Dengan mempelajari beragam tumbuhan dan cara memperoleh senyawa yang terkandung didalamnya, tidak hanya sekedar belajar menjadi seorang scientist tetapi juga menjadi bagian yang peduli dengan keadaan sekitar, yaitu  fenomena  penggunaan tumbuhan dalam pengobatan yang terkadang simpang siur.

Yuk kita buktikan dengan ilmiah!

 

About these ads
One Comment leave one →
  1. farahekaputriwisuda permalink
    19/03/2011 10:41 am

    setujuuu..apalagi skrg lg gencar2nya penggunaan obat bahan alam… Sbg seorg calon farmasis hrus tau seluk beluk smpai cr pakai tanaman obat yg baik,,paling gak yg ada di sekitar kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,287 other followers

%d bloggers like this: