Skip to content

Apoteker dalam Distribusi Obat, Perlukah?

16/04/2011

Adalah syarat mutlak bahwa setiap obat yang beredar harus aman (safety), bermutu (quality), dan bermanfaat (efficacy). Faktanya, obat tidak segera digunakan setelah dibuat. Perjalanan dari gudang pabrik hingga ke tangan pasien memerlukan waktu yang tidak dapat ditentukan. Bisa dalam hitungan bulan, bahkan tahun. Di sepanjang perjalanan itu banyak sekali faktor lingkungan yang mungkin saja mempengaruhi mutu obat, misalnya saja suhu, cahaya, dan lembab. Tidak ada yang bisa mengetahui apakah obat masih sama bagusnya dengan saat produksi atau tidak. Oleh karena itu, perlu adanya sistem yang dapat menjamin syarat mutlak itu terpenuhi, bukan hanya saat obat didaftarkan, atau setelah diproduksi di pabriknya, namun saat obat didistribusikan, hingga saat digunakan oleh pasien.

Pada saat dibuat, pengujian keamanan, mutu dan khasiat obat tentu saja tidak mungkin dilakukan terhadap semua obat. Pengujian dilakukan dengan cara sampling. Jumlah sampel yang diambil memang sudah diperhitungkan agar serepresentatif mungkin terhadap jumlah semua obat yang dibuat. Namun tidak menutup kemungkinan di antara obat yang tidak ter-sampling ada yang tidak memenuhi persyaratan. Bayangkan jika obat yang seperti itu sampai ke tangan pasien, terlebih jika obat itu adalah obat yang krusial seperti obat jantung, hipertensi, diabetes mellitus… Namun itu semua dapat dihindari jika proses yang dilakukan benar dari awal pembuatan hingga akhir, dari bahan baku menjadi obat yang siap di tangan pasien. Itulah sebabnya dibuat berbagai peraturan di semua sektor yang terlibat, dari hulu ke hilir. Di industri ada yang namanya Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), di apotek dan IFRS disebut Pelayanan Farmasi yang Baik (PFB), yang paling baru di bidang distribusi sudah ada juga Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).

Distribusi obat melibatkan tidak hanya distributor/PBF (Pedagang Besar Farmasi) saja, melainkan termasuk sarana pelayanan kefarmasian seperti apotek, rumah sakit, praktek bersama, dan sebagainya. CDOB sendiri bertujuan untuk menjamin penyebaran obat secara merata dan teratur agar dapat diperoleh oleh pasien saat dibutuhkan, pengamanan lalu lintas dan penggunaan obat, melindungi masyarakat dari kesalahan penggunaan dan penyalahgunaan obat, menjamin agar obat yang sampai ke tangan pasien adalah obat yang efektif, aman, dan dapat digunakan sesuai tujuan penggunaannya, menjamin penyimpanan obat aman dan sesuai, termasuk selama transportasi. Disinilah peran Apoteker yang berkompeten dibutuhkan.

Mengapa Apoteker? Distribusi obat tidak seperti distribusi barang dan jasa yang lain. Obat bukan sekedar objek perdagangan yang komersil semata. Lebih dari itu, obat memiliki nilai yang lebih besar, yaitu nilai sosial. Salah-salah, nyawa jutaan manusia taruhannya. Dunia obat adalah bisnis yang dilematis. Apoteker, melalui sumpah profesinya, memegang tanggung jawab besar atas ilmu yang dimilikinya, tak hanya pada profesi tetapi juga kepada Tuhannya. Melihat krusialnya aspek obat itu sendiri, kini Apoteker tak hanya dituntut untuk bisa ‘membuat’ atau ‘memberikan’ obat saja, tetapi juga dalam memastikan peredarannya (distribusi).

Rujukan :

1. KepMenkes No. 1191/Menkes/SK/IX/2002 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 918/ Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi

2. Kepmenkes No. 1331/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 167/Kab/B VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat

3. SK Ka Badan POM No : HK 00.05.3.2522 Tahun 2003 tentang Penerapan Pedoman Cara Distribusi Obat yang Baik

4. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

5. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1998 tentang Pengawasan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan

About these ads
15 Comments leave one →
  1. 16/04/2011 9:36 am

    banyak info penting nih, link blog nya aku pajang di blog ku ya, boleh? :D

  2. 05/05/2011 11:58 am

    Keren! Kalau boleh saran, diberikan juga gambaran real/nyata penerapannya di PBF ;) eniwei, tetap saja isinya bermanfaat :mrgreen:

    Salam kenal rekan sejawat :oops:

    • 09/05/2011 10:12 am

      amin. semoga lekas jadi rekan sejawat di oktober ini. :)

    • 10/05/2011 10:55 am

      Wah syukur kalo bermanfaat :D

      Terimakasih sarannya:) Kalau mengenai penerapan CDOB di PBF sendiri sebenarnya sebelas dua belas dengan penerapan CPOB di Industri Farmasi. Ruang lingkup CDOB meliputi :
      1. Regulasi di bidang distribusi produk farmasi
      2. Organisasi dan manajemen
      3. Personalia
      4. Sistem mutu
      5. Bangunan, pergudangan dan penyimpanan
      6. Kendaraan dan peralatan
      7. Kontainer pengapalan dan pelabelan kontainer
      8. Pengiriman dan penerimaan
      9. Pengangkutan dan produk dalam transit
      10. Dokumentasi
      11. Pengemasan ulang dan pelabelan ulang
      12. Keluhan
      13. Penarikan kembali produk
      14. Barang Kembalian
      15. Produk farmasi palsu]
      16. Impor
      17. Kegiatan kontrak
      18. Inspeksi mandiri

      Informasi yang saya peroleh dari seminar yang diadakan oleh HISFARDIS (Himpunan Seminat Farmasi Distribusi) bulan lalu, CDOB itu sendiri belum terstandardisasi pelaksanaannya oleh PBF-PBF di Indonesia. Dengan kata lain, belum ada standard/ sertifikasi CDOB oleh badan POM. Kabarnya saat ini wacana standardisasi dan sertifikasi CDOB sedang dalam penggodokan.

      Demikian, semoga cukup menjelaskan

      • Deni Fajar permalink
        11/07/2011 11:04 am

        kalo standarisasi sih rasanya sudah dimulai. Setiap mapping PBF kan BPOM selalu memberikan checklist persyaratan dari minor sampai yang critical

        Salam,
        DFA

  3. 12/07/2011 6:32 am

    info yang saya peroleh bulan maret kemarin dari HISFARDIS, checklist persyaratannya memang sudah ada, hanya standar untuk sertifikasinya yang belum ada (semacam sertifikat CPOB). jadi standar untuk sertifikasi CDOB ini yang sedang digagas.

    nah, sekarang sudah jadi atau belum saya belum mendapat infonya. mohon koreksi kalau salah. hehe

    Regards,
    Vidya

  4. intan permalink
    24/08/2011 8:40 pm

    ak dpt panggilan interview di posisi Apt PJ nih….jd CDOB bgt….makasih infonya

  5. Jimmy Widjaja permalink
    25/10/2011 11:56 am

    Halo,

    Saya mau tanya apakah Food Suplement juga termasuk dalam kategori Obat? Bisakah saya mendapat detail dari CDOB ini?

    Thanks,
    Jimmy Widjaja

  6. indz permalink
    22/03/2012 10:03 am

    buku pedoman CDOB ini dalam pengaplikasiannya aga membingungkan. ada ga sih buku pedoman teknis atau petunjuk teknis yang menjelaskan secara rinci seperti juknis cpob 2010???

  7. Mia permalink
    06/08/2012 6:14 pm

    ijin ngutip ya

  8. 16/08/2012 7:41 am

    ulasannya lenkap dg kesimpulan aspek manajemen distribusi obat tetap penting adanya peran apoteker, tapi untuk kebijakannya sendiri adakah kebijakan terbaru tentang distribusi obat di indonesia

  9. sutono permalink
    06/12/2012 9:46 am

    Salam rekan Sejawat

  10. 03/04/2013 3:20 pm

    Ada yg punya file checklist audit pbf dr BPOM gak?
    Bagi dong….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,287 other followers

%d bloggers like this: