Skip to content

Kuliah Undang-Undang Farmasi & Etika Profesi

06/06/2011

Sekitar delapan bulan yang lalu, setelah Program Studi Farmasi meloloskan saya dari jeratannya dengan titel Sarjana, sempat terbesit satu pemikiran : ”Udah susah-susah dikeluarin dari kampus, eh ini malah sengaja masuk lagi…”. Ya, yang saya maksud adalah kembali ke bangku kuliah di Program Studi Profesi Apoteker. :)

Buat apa susah-susah ngambil kuliah Apoteker lagi sih, kalau toh yang bertitel Sarjana saja tetep bisa dapet kerjaan?

Ternyata memang ada alasan fundamental mengapa rasanya ’tanggung’ kuliah di Farmasi tapi nggak jadi Apoteker. Alasan-alasan tersebut bisa saja bervariasi tergantung masing-masing individu. Jika dilihat dari sisi pendidikan, sudah pasti banyak dan signifikan sekali perbedaan antara keduanya. Ilmu-ilmu pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk mata kuliah di Program Studi Apoteker tentu berbeda dan bisa dibilang lebih advanced dibandingkan mata kuliah di bangku sarjana. Salah satunya, yang nggak bakal saya dapet di kuliah Sarjana (entah di perguruan tinggi lainnya) adalah mata kuliah Undang-Undang Farmasi dan Etika Profesi.

Mendengar kata Undang-Undang, rasanya udah keburu males duluan. Kebayang sebegitu banyaknya peraturan perundang-undangan di Indonesia dengan berparagraf-paragraf kalimat yang jika dibaca sepintas kok muter-muter nggak jelas ya? Udah gitu, gimana nanti ujiannya? Haruskah menghafal semua kalimat-kalimat itu?

Well, later, yang saya pribadi rasakan selama kuliah UU ini ternyata turns out to be interesting kok.. :)

Diawali dari kuliah mengenai dasar-dasar hukum kefarmasian. Apa pentingnya profesi Apoteker dan kegiatan pekerjaan kefarmasian dilandasi oleh hukum. Apa saja peraturan perundang-undangan di bidang kefarmasian. Di sini saya mulai diperkenalkan kepada UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan PP No.51 Tahun 2009 mengenai Pekerjaan Kefarmasian.

Lalu apa bedanya antara hukum, moral, dan etika? Dan bahwa Apoteker termasuk ke dalam salah satu profesi kesehatan yang memiliki dan harus mematuhi kode etik profesi. Yang disebut profesi sendiri memiliki beberapa ciri, seperti mendapatkan pendidikan khusus berbasis keahlian, memiliki perhimpunan keprofesian, memberlakukan kode etik keprofesian, memberikan pelayanan praktik profesinya kepada masyarakat, merupakan proses pembelajaran seumur hidup, dan mendapatkan jasa profesi. Lalu apa itu kode etik? Kode etik dibuat oleh organisasi profesi untuk memberikan pedoman kepada anggotanya dalam menjalankan profesinya. Di dalam kode etik Apoteker terdapat kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi yaitu terhadap pasien, terhadap teman sejawat Apoteker, dan terhadap teman sejawat petugas kesehatan lainnya. Kode etik ini disusun berdasarkan keputusan Kongres Nasional XVII ISFI No 007/KONGRES/XVII/2005 tanggal 18 Juni 2005 di Bali dan sudah diperbaharui pada Kongres XVIII tanggal 18 Desember 2009.

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, mata kuliah ini membahas mengenai Undang-Undang yang lebih spesifik mengatur penggolongan obat dan produk farmasi lainnya, registrasi, syarat-syarat pendirian apotek, perizinan industri farmasi, peraturan tentang distribusi dan peredaran produk-produk farmasi, sampai peraturan periklanan di bidang farmasi. Dosen-dosen yang mengajar sudah pasti merupakan orang-orang yang kompeten di bidangnya, selain dosen tetap ada juga dosen tamu dari Badan POM RI.

 Sounds boring?

Ah, enggak kok. Beberapa kali pertemuan para mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk kemudian mempresentasikan suatu pembahasan mengenai kasus-kasus yang marak terjadi di masyarakat menyangkut bidang Farmasi. Contohnya tentang jamu palsu, apotek rakyat, pelanggaran iklan obat, dan lain sebagainya. Yang paling lucu adalah ketika kelompok saya membuat sebuah video sejenis iklan layanan masyarakat mengenai obat paketan dengan aktor dan aktris dari kelompok kami sendiri. :p

Gimana ujiannya? Harus menghafal dong? Ya, mau nggak mau harus iya. Tapi bukan berarti hafal mati tanpa mengerti esensi dari masing-masing peraturan perundang-undangan tersebut lho. Karena sebetulnya hukum beserta peraturan perundang-undangan ini sangat penting dan akan terus terpakai sampai ke depannya nanti saat kita terjun langsung ke dalam pekerjaan kefarmasian, apapun dan dimanapun itu. Saya percaya kok, semua materi-materi kuliah di Program Studi Apoteker ini memang di-desain untuk mempersiapkan para calon-calon Apoteker Indonesia yang kompeten dan qualified.

So, mulai tercerahkan kah bahwa pendidikan Apoteker rasanya sayang untuk dilewatkan kalau kamu-kamu udah berhasil meraih gelar S.Farm…? :)

About these ads
5 Comments leave one →
  1. 06/06/2011 1:44 pm

    Yang paling membuat saya bingung itu istilah “harus dengan resep dokter”. Sebelumnya saya pikir obat-obatan dengan label seperti itu tidak bisa dibeli bebas. Ternyata ada obat-obat “harus dengan resep dokter” yang bisa saya tebus tanpa resep. Ada juga obat-obat seperti ini yang tidak bisa ditebus di satu apotek tapi bisa ditebus di apotek yang lain. Apa kebijakan seperti ini tetap subjektif terhadap apotek/apoteker terkait ya?

    • 06/06/2011 8:00 pm

      halo mas amir, terimakasih sudah berkunjung ke blog kami :)

      mengenai pertanyaan mas, saya mencoba menjawab ya..
      jadi label “harus dengan resep dokter” itu adalah tanda bahwa obat tersebut merupakan golongan obat keras yg memang peredarannya sangat ketat dan tidak boleh sembarangan dibeli oleh masyarakat, biasanya terdapat logo lingkaran merah bertuliskan huruf K di kemasannya.
      namun, ada juga kelompok obat yang disebut OWA (Obat Wajib Apotek). OWA ini merupakan kelompok obat-obatan golongan obat keras yg diperbolehkan untuk dibeli tanpa resep dokter… asalkan… membelinya harus di apotek, dan yang menyerahkannya harus apoteker.

      kurang lebih seperti itu mas yg bisa saya sampaikan. semoga bisa bermanfaat. :)
      ikuti terus artikel2 kami yaa.. :)

      • 17/11/2012 7:19 pm

        mau tanya apa sih Etika profesi TTK aku ngg nemu nemu apa sama kya apoteker jg ya

  2. sisi permalink
    21/04/2012 9:44 pm

    aku mau nanya dong,,,,Mengapa perlu per undang-undangan dan etika kefarmasian??

  3. goldo permalink
    26/04/2013 8:23 am

    mau tanya ni, adakah undang undang mengenai Apotek Panel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,278 other followers

%d bloggers like this: