“It is health that is real wealth and not pieces of gold and silver.”
-Mahatma Gandhi-
Wabah flu burung akhir – akhir ini mulai mewabah lagi, banyak ditemukan kejadian wabah flu burung di belahan bumi ini, dimulai akhir tahun lalu ketika hongkong dibayang – bayangi kematian unggas akibat terinfeksi virus H5N1, setelah di temukannya bangkai ayam yang terinfeksi virus H5N1di pasar grosir Cheung Sha Wan pada hari Selasa 20 Desember 2011 (kompasiana:2012). Kemudian pada periode Oktober 2011 juga ditemukan kasus di Jimbaran Bali, akhir tahun ada kejadian pasien suspect flu burung di Jakarta, dan banyak kejadian lain yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini, bahkan awal tahun ini saja ditemukan 2 kasus di Indonesia. Kejadian – kejadian ini seolah kembali mengingatkan kita pada wabah beberapa tahun lalu yang begitu menakutkan. Banyak orang yang meninggal akibat virus flu burung, banyak unggas yang dimusnahkan, dan lebih dari itu, tenaga, pikiran dan investasi besar-besaran terkuras untuk mengatasi wabah tersebut.
Sayangnya, sampai saat ini baru ada satu obat yang bias dikatakan dapat diandalkan untuk melawan virus tersebut, kalaupun dulu ada amantadine dan rimantadine, sudah diketahui bahwa kedua obat tersebut sudah mencapai tingkat resistensi yang tidak bisa melawan virus flu burung untuk starin H5N1. Dan sekarang kita kembali ‘hanya’ mengandalkan satu obat yang biasa kita kenal dengan nama Tamiflu, dengan nama generic oseltamivir. Maka dari itu, marilah kita berdongeng sejenak terkait bagaimana obat tersebut ditemukan.
Seorang pakar rekayasa protein, Dr. Dr Arif B Witarto, MEng seperti yang tertulis di harian kompas tahun 2006 silam mengungkapkan bagaimana oseltamivir ini ditemukan dengan berbagai aspek kecanggihan, kreativitas dan tentu saja keberuntungan. Telah kita ketahui bersama bahwa oseltamivir termasuk dalam kelompok antivirus neuraminidase inhibitor dimana mekanisme kerjanya adalah menghalangi tertempelnya neuraminidase dari virus ke asam sialat yang terdapat pada permukaan sel sehingga dapat menghalangi protein neuraminidase dari virus tersebut dalam memotong permukaan sel sehingga kemudian virus dapat melepaskan diri dari sel induk tersebut. Protein NA ini menjadi sangat penting bagi virus, sekaligus menjadi titik tolak kenapa oseltamivir dan ‘temannya’ zanamivir ditemukan, berawal dari keberuntungan Graeme Laver dari Universitas Nasional Australia pada tahun 70-an ketika mampu memekatkan protein NA dari virus, kenapa dikatakan keberuntungan, dikarenakan Graeme laver tersebut ‘hanya’ dengan proses sederhana yaitu sentrifugasi mampu mendapatkan kristal protein, padahal saat ini untuk mendapatkan kristal protein RNA, harus dilakukan di ruang antariksa dengan menggunakan pesawat ulang –alik. Dan keberuntungan tersebut membawa berkah yang luar biasa bagi proses pengembangan sebuah antivirus yang sampai saat ini tidak tergantikan untuk memberantas virus flu burung yang makin hari makin bermutasi dengan cepat menjadi strain – strain baru.
Proses selanjutnya, kristal NA yang didapat tersebut menjadi barometer penelitian untuk mengetahui bagaimana struktur molekul protein NA dari virus tersebut berikatan dengan asam sialat dari permukaan sel, dari struktur Kristal protein tersebut juga diketahui pergantian asam amino mana yang dapat menyebabkan perubahan antigen, dan juga diketahui sebaliknya bahwa posisi asam amino yang sama dari berbagai tipe virus yang berbeda. Bahkan karena bentuk kristal yang begitu indah dari kristalografi protein NA tersebut, dengan struktur asam amino yang saling berikatan dengan yang lain, ilmuwan Amerika saat itu menjulukinya sebagai rangkaian bunga mawar.
Dengan berbekal kecanggihan teknologi saat itu, disertai logika para ilmuwan terkait mekanisme dan struktur dari protein NA, maka dibuatlah senyawa yang mirip dengan substrat alami dari protein NA yang saat itu dinamakan DANA. Namun karena kekuatan ikatannya hanya 10 mikromolar, maka kekuatan ikatannya tidak cukup kuat untuk melumpuhkan aksinya, penelitian lebih lanjut didapatkan bahwa pada satu sisi ikatan asam sialat tersebut diisi oleh gugus hidroksil yang berukuran kecil yang dapat menghalangi ikatannya dengan ion negatif dari gugus asam glutamate yang terdapat pada sisi aktif protein NA, penelitian selanjutnya adalah dengan mengganti gugus hidroksil tersebut dengan gugus positif seperti gugus amin dan guanidine, dengan substitusi gugus amin tersebut didapat senyawa turunan asam sialat yang mampu berikatan sebesar 100 mikromolar dengan protein NA, sedangkan dengan guanidine, didapat senyawa turunan asam sialat dengan ikatan nanomolar yang lebih kuat. Maka kemudian munculah pertama kali obat turunan pertama dari inhibitor neuraminidase yang kemudian dinamakan zanamivir yaitu dengan penambahan gugus guanidin, ironisnya justru dengan adanya guanidine inilah menyebabkan zanamivir tidak dapat digunakan secara oral dikarenakan obat yang dalam bentuk ion tidak akan dapat menembus membrane sel yang notabene sebagai pintu pertama untuk beredar keseluruh tubuh. Maka kemudian kita kenal obat zanamivir dalam bentuk obat hirup (local). Dan karena manfaatnya tidak sebaik obat oral, maka penelitian selanjutnya adalah bagimana menemukan jawaban obat antivirus tersebut dikembangkan menjadi obat oral yang relative lebih bias diterima oleh semua pasien dengan rentang umur dari anak – anak hingga dewasa.
Atas permasalahan tersebut, maka munculah usaha keras dan ide kreatif dari para peneliti waktu itu dengan menggunakan kimia kombinasi, yaitu dengan cara sintesa acak dengan membubuhkan berbagai gugus kimia pada senyawa inti, dari proses terbutlah maka kemudian didapat satu gugus dari ratusan ribu gugus kimia yang mempunyai kekuatan ikatan yang setara dengan zanamivir namun tidak ada gugus positif yang menggantikan gugus hidroksil seperti pada zanamivir, gugus inilah yang kemudian diberi nama GS 4071 (singkatan dari Gilead Sciences-penemu gugus tersebut-) yang mampu membentuk kantong hidrofobik setelah berikatan dengan protein NA. namun pekerjaan tidak berhenti disini, berbeda dengan zanamivir, obat turunan kedua ini harus mampu menjawab masalah dari obat pertama sekaligus mempunyai keunggulan lain yang bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat dunia dengan menjadikannya menjadi obat dengan rute oral, bagiamana caranya? Yaitu dengan menambahkan atau dengan kata lain menutupi gugus karboksil yang bermuatan negative tersebut dengan gugus yang tidak bermuatan ion. Hasilnya adalah ditambahkannya GS 4104 dalam struktur obat yang nantinya ketika dalam tubuh dapat berubah menjadi GS 4071, dan obat inilah yang kemudian diberi nama oseltamivir yang dalam tubuh akan mengalami proses hidrolisis pada bagian ester dan berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu oseltamivir karboksilat.
Memang penuh dengan keberuntungan, kecanggihan teknologi serta hasil kreatifitas serta kerja keras dari para peneliti sehingga obat ini lahir dan menjadi pilihan pertama dan terakhir untuk penyakit flu burung, namun pada tahun 2008 silam telah ditemukan berbagai efek samping yang cukup berbahaya bagi perkembangan mental remaja, kasus yang terjadi di Jepang dan Korea membenarkan fakta bahwa oseltamivir mampu mempengaruhi keseimbangan mental dan otak untuk anak – anak dan remaja, 1.268 kasus perilaku luarbiasa yang dilaporkan dan 85% adalah remaja. Mereka dilaporkan melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari gedung – gedung atau mobil. (The Korean Times:2008). Terlepas dari pernyataan seorang wartawan Jerry D. Gray dalam bukunya Deadly Mist yang mengatakan bahwa virus flu burung sengaja diciptakan untuk upaya membentuk tatanan dunia baru, entah dia menyebutnya sebagai senjata massal yang kemudian ditambahkan oleh menkes kita waktu itu Siti Fadilah Supari tentang dominasi dan rahasia dibalik penyebaran virus flu burung, namun virus ini telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup manusia, sementara obat yang kita gunakan sangat terbatas sementara dari waktu ke waktu perkembangan mutasi virus menjadi strain – strain baru, maka pertanyaan selanjutnya bagi kita apakah kita akan selalu berlomba dan berkejaran waktu dengan virus untuk kembali menciptakan dan mengembangkan obat antivirus baru yang masih mempunyai khasiat untuk mengatasi penyebaran virus flu burung. Menarik untuk ditunggu akhir dari ‘race’ ini. Karena sehat adalah kekayaan yang sebenarnya.
-fuadpribadi-
Cermati Kemasan Plastik yang Kita Pakai
Plastik seolah sudah tidak dapat lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Plastik telah banyak dibuat menjadi berbagai perlengkapan rumah tangga termasuk wadah makanan dan minuman ataupun untuk keperluan lainnya. Plastik menjadi pilihan banyak orang karena sifatnya yang tidak mudah pecah dan juga harganya yang relatif murah. Namun, apakah jenis plastik yang biasa kita gunakan tersebut aman untuk kesehatan kita? Untuk itu, sebelumnya kita perlu mencermati bahan plastik yang akan kita gunakan. Caranya yaitu dengan melihat kode yang biasanya terdapat di bawah kemasan atau wadah plastik. Kode tersebut menunjukkan jenis bahan yang digunakan untuk membuat plastik tersebut.
Ada 7 macam kode kemasan plastik. Mari kita kenali satu persatu!
1. PETE atau PET
Polyethylene terephthalate (PETE atau PET) – Kemasan plastik berlabel angka 1 dalam segitiga. Kemasan jenis ini memiliki ciri-ciri berupa warna yang jernih atau transparan, biasanya digunakan untuk botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Kemasan jenis ini direkomendasikan HANYA SEKALI PAKAI. Kemasan jenis ini dapat melepaskan senyawa antimony trioxide. Semakin lama cairan berada di dalam kemasan ini, semakin besar kemungkinan lepasnya senyawa antimony ke dalam cairan tersebut. Pemaparan senyawa tersebut terhadap tubuh dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan iritasi kulit, peningkatan masalah menstrual, dan memperlambat perkembangan anak pada 12 bulan pertama.
2. HDPE
High Density Polyethylene (HDPE), – Kemasan plastik berlabel angka 2 dalam segitiga, merupakan bahan pastik yang memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, opaque, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE biasa dipakai untuk botol susu, botol shampoo, galon air minum, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena memiliki kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. Namun, sama seperti PET, kemasan jenis HDPE ini tidak untuk dipakai berulang kali karena pelepasan senyawa antimony trioxide dapat terus meningkat seiring waktu.
3. V atau PVC
Vinyl atau Polyvinyl Chloride (V atau PVC) – Kemasan plastik berlabel angka 3 dalam segitiga, merupakan bahan plastik yang berbahaya dan paling sulit untuk didaur ulang. Biasanya plastik jenis ini dipakai untuk plastik pembungkus (cling wrap), beberapa macam botol, dan kadang digunakan pada mainan anak. PVC dibuat dari monomer vinil klorida (VCM). Monomer vinil klorida yang tidak ikut bereaksi dapat terlepas ke dalam makanan terutama yang berminyak/berlemak atau mengandung alkohol terlebih dalam keadaan panas. Dalam pembuatan PVC kadang ditambahkan penstabil seperti senyawa timbal (Pb), kadmium (Cd), timah putih (Sn) atau lainnya, untuk mencegah kerusakan PVC. Kadang-kadang agar lentur atau fleksibel ditambahkan senyawa ester ftalat, ester adipat, dan lain-lain.
Residu VCM, Pb, Cd dan ester ftalat berbahaya bagi kesehatan. VCM terbukti mengakibatkan kanker hati. Senyawa Pb merupakan racun bagi ginjal dan syaraf, senyawa Cd merupakan racun bagi ginjal dan dapat mengakibatkan kanker paru, dan senyawa ester ftalat dapat menganggu sistem endokrin. Penggunaan kemasan jenis PVC ini sebagai pembungkus makanan atau minuman sebaiknya dihindari dan carilah alternatif kemasan lain yang lebih aman.
4. LDPE
Low Density Polyethylene (LDPE) – Kemasan plastik berlabel angka 4 dalam segitiga. Kemasan jenis ini biasa digunakan untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek (yang bisa ditekan) seperti botol kecap atau sambal. Kemasan plastik ini sulit dihancurkan, namun tetap baik digunakan sebagai wadah atau kemasan makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas.
5. PP
Polypropylene (PP) – Kemasan plastik berlabel angka 5 dalam segitiga, merupakan bahan kemasan yang sering digunakan untuk tempat makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, dan terutama botol minum untuk bayi. Bahan jenis Polypropylene ini merupakan pilihan bahan plastik yang terbaik. Polypropylene lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi. Sebagai saran, pilihlah plastik dengan kode angka 5 bila membeli wadah untuk mengemas berbagai makanan dan minuman.
6. PS
Polystyrene (PS) – Kemasan plastik berlabel angka 6 dalam segitiga, biasa digunakan dalam wadah styrofoam, karton telur, gelas dan mangkuk disposable, dan lain-lain. Bahan styrene dapat lepas dari wadah polystyrene dan berpindah ke dalam makanan kita terutama jika makanan tersebut berminyak dan dalam keadaan panas. Styrene merupakan pengganggu endokrin dengan menyerupai hormon estrogen wanita, yang berpotensi menyebabkan masalah reproduksi dan perkembangan. Pemaparan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak dan sistem syaraf. Penggunaan bahan jenis ini sebaiknya dihindari karena beresiko buruk untuk kesehatan kita.
7. Lain-lain
Other atau lain-lain – Kemasan plastik berlabel angka 7 dalam segitiga, yaitu jenis bahan kemasan plastik yang tidak termasuk ke dalam 6 kategori yang disebutkan sebelumnya. Dengan demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kategori ini karena ada bahan yang berbahaya bagi tubuh seperti Polycarbonate, tetapi ada juga bahan yang baik untuk lingkungan karena dapat diurai yang berbasis bioplastik yang terbuat dari tepung jagung, kentang, dan tebu.
Contoh kemasan plastik yang termasuk ke dalam kategori lain-lain ini adalah kemasan dengan bahan polycarbonate (PC). PC dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi kekebalan tubuh. Bahan ini dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan ataupun minuman.
Sistem pengkodean tersebut di atas telah dikembangkan sejak tahun 1988 oleh warga Amerika Serikat dari Society of Plastic Industry untuk memfasilitasi daur ulang pasca penggunaan plastik. Namun, sistem pengkodean tersebut kini sudah menjadi standar relatif pada produk plastik tertentu yang dijual secara global. Oiya, selain dari ketujuh kode tersebut, plastik yang aman untuk makanan biasanya bertanda gelas dan garpu seperti logo di bawah ini dengan tulisan “for food use” atau ‘untuk makanan’.
Bagaimana? Sudah tahu kan jenis kemasan plastik yang sebaiknya kita gunakan dan yang sebaiknya kita hindari (khususnya untuk makanan dan minuman)? Dengan mengetahui arti kode tersebut, kita dapat memilih dan menggunakan plastik sesuai kebutuhan dan meminimalisir dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan kita.
Referensi:
http://pom.go.id/public/peringatan_publik/pdf/KH.00.02.1.55.2891.pdf diakses tanggal 22 Januari 2012
http://www.wrap.org.uk/recycling_industry/information_by_material/plastics/types_of_plastic.html diakses tanggal 22 Januar 2012
http://lifewithoutplastic.com/en/plastic-types diakses tanggal 22 Januari 2012
http://koran.republika.co.id/berita/62202/Pilih_Plastik_Makanan_Aman diakses tanggal 22 Januari 2012.
Lactose Intolerance
Pernah denger Lactose Intolerance nggak? Kira-kira istilah apa ya itu?
“Nggak tahu. Dulu pernah punya guru waktu SD, kalau abis minum susu langsung diare.” – Angga, mahasiswa Magister Manajemen
“Nggak tahu. Batas toleransi bakteri yang ada di perut bukan?” – Titania, Konsultan Real Estate
“Apa ya? Kayanya sejenis alergi ya?” – Hardi, siswa SMA
“Suka sih minum susu tapi nggak terlalu sering. Tapi istilah ini baru denger deh…” – Mella, karyawan swasta
“Nggak terlalu suka minum susu, eneg, ini penyakit ya?” – Yanti, ibu rumah tangga
“Nggak ada bayangan euy, baru tau. Saya sih nggak suka susu, mending kopi.” – Rian, teknisi IT
“Lactose itu laktosa. Intolerance itu intoleransi. Jadi maksudnya ketidakmampuan dalam mentoleransi laktosa. Tapi nggak tahu kenapa. Hehe…” – Diaz, mahasiswa FIKOM
“Kalo nggak salah pernah denger. Ada hubungan sama sakit di bagian pencernaan gara-gara makanan.” – Siska, sekretaris
Nah, kalau begitu, mari kita bahas seluk-beluk mengenai Lactose Intolerance lebih lanjut…
What is Lactose Intolerance (LI)?

Sebelum kita membahas mengenai LI, ada baiknya kita kenali dulu apa itu lactose. Lactose atau laktosa merupakan komponen karbohidrat berupa gula disakarida yang terkandung secara alami dalam berbagai jenis susu, termasuk ASI, dan juga produk-produk olahan susu (dairy product) lainnya seperti mentega, keju, krim, es krim, whey, yogurt, dan sebagainya. Laktosa yang berupa gula disakarida ini terdiri dari glukosa dan galaktosa yang terikat oleh ikatan beta-galaktosida. Ketika kita mengonsumsi susu atau produk susu lainnya, enzim laktase yang berada di dinding usus halus akan menghidrolisis atau memecah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga masing-masing monosakarida ini dapat diserap dengan cepat dan menjadi sumber energi.
Lactose Intolerance terjadi ketika seseorang mengalami defisiensi atau kekurangan jumlah enzim laktase di dalam pencernaannya. Jika hal ini terjadi, laktosa tidak dapat diserap dengan baik dan akan masuk ke dalam kolon atau usus besar. Di dalam kolon, bakteri-bakteri pencernaan melakukan fermentasi terhadap laktosa, menghasilkan asam dan gas. Hal inilah yang menyebabkan seorang lactose intolerant kemudian merasakan sakit perut setelah mengonsumsi laktosa.
What are the symptoms of Lactose Intolerance?
Beberapa gejala yang umum dirasakan oleh penderita lactose intolerance di antaranya berupa rasa sakit di bagian perut, kram, kembung, mual, muntah, dan diare.
Gejala-gejala ini muncul 30 menit sampai 2 jam setelah mengonsumsi susu atau produk susu lainnya.
What causes Lactose Intolerance?
Penyebab Lactose Intolerance secara umum telah disebutkan sebelumnya, yaitu karena defisiensi enzim laktase dalam tubuh.
Adapun defisiensi laktase sendiri dibagi menjadi dua klasifikasi, yaitu:
1) Primary lactase deficiency
Berkembang seiring bertambahnya usia, dimana kandungan laktase akan menurun setelah melewati usia 2 tahun. Kebanyakan anak-anak tidak akan merasakan adanya gejala apapun sampai usia mereka mencapai akhir remaja atau dewasa.
2) Secondary lactase deficiency
Penurunan enzim laktase yang disebabkan adanya luka atau kerusakan pada dinding usus halus. Bisa terjadi setelah mengalami diare parah, penyakit celiac, Crohn’s disease, atau kemoterapi.
Beberapa peneliti juga menyebutkan adanya hubungan ras dan faktor genetik terhadap penurunan enzim laktase di dalam tubuh, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Saat masih bayi, kandungan enzim laktase dalam tubuh berada pada level yang paling tinggi, kecuali untuk keadaan dimana bayi lahir prematur. Hal ini mungkin dikarenakan bayi membutuhkan enzim laktase yang tinggi untuk mencerna ASI. Seiring dengan bertambahnya usia, jumlah enzim laktase dalam tubuh akan menurun. Oleh sebab itu, Lactose Intolerance paling banyak dialami oleh orang-orang berusia dewasa.
Seorang lactose intolerant terkadang menganggap dirinya menderita ‘alergi’ terhadap susu atau produk susu. Padahal kedua hal ini berbeda. Alergi susu adalah suatu reaksi yang timbul dari sistem kekebalan tubuh seseorang terhadap kandungan protein dalam susu, bukan laktosa. Dan reaksi alergi ini tidak hanya dapat menyebabkan sakit perut tetapi dapat mengancam nyawa seseorang.
Lactose Intolerance and Calcium Intake
Seperti yang kita ketahui, asupan kalsium sangatlah penting bagi tubuh, terutama yang berasal dari susu dan produk olahan susu (Lebih jauh tentang kalsium please read Kalsium: Asupan Cukup untuk Tulang dan Tubuh yang Sehat & Suplemen Kalsium). Terlebih lagi, bagi seorang lactose intolerant dimana konsumsi susu dan produk susu sangat terbatas, asupan kalsium sangatlah harus diperhatikan. Beberapa jenis makanan non-susu lain yang juga mengandung high-calcium di antaranya ikan salmon, ikan sarden, sayuran berwarna hijau seperti bayam dan brokoli, kacang almond, oysters, dan sebagainya.
Ternyata, walaupun seorang lactose intolerant memiliki kesulitan dalam mencerna laktosa, bukan berarti mereka tidak diperbolehkan sama sekali mengonsumsi susu. Mereka tetap memerlukan asupan nutrisi yang berasal dari susu seperti kalsium yang tadi telah disebutkan, juga vitamin A dan D, riboflavin, serta fosfor.
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam pengaturan konsumsi susu dan produk susu bagi seorang lactose intolerant :
- Batasi jumlah konsumsi susu, jangan langsung banyak tetapi mulailah dengan ukuran satu cangkir.
- Konsumsi susu bersamaan dengan makanan lain, misalnya sereal.
- Susu dalam keadaan panas, dipercaya akan lebih mudah ditoleransi dibandingkan susu dingin.
- Konsumsi susu lactose-free, misalnya susu kedelai.
- Konsumsi yogurt prebiotik yang mengandung kultur bakteri aktif (probiotik). Probiotik adalah mikroorganisme non-patogen yang memiliki enzim laktase intraselular sehingga dapat membantu mencerna laktosa di dalam usus kita. Beberapa contoh probiotik di antaranya Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Saccharomyces.
- Konsumsi suplemen yang mengandung laktase sebagai penambah enzim laktase alami tubuh. Namun jangan lupa konsultasikan terlebih dahulu dengan professional kesehatan sebelum memutuskan untuk mengonsumsi suplemen tersebut.
Demikianlah sekilas seluk-beluk tentang lactose intolerance. Buat kalian yang sering merasa nggak enak perut setelah minum susu atau makan produk susu lainnya, kira-kira udah bisa tau kan penyebabnya apa?
Semoga artikel ini bisa menambah informasi bagi kalian ya… Salam sehat!
REFERENCES
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, 2009, Lactose Intolerance, NIH Publication No. 09-2751
(http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/lactoseintolerance/Lactose_Intolerance.pdf)
NICHD Information Resource Center, 2006, Lactose Intolerance – Information for Health Care Providers, NIH Publication
(http://www.nichd.nih.gov/publications/pubs/upload/NICHD_MM_Lactose_FS.pdf)
University of Oregon, 2004, Lactose Intolerance,University of Oregon Publication
(http://pages.uoregon.edu/uoshc/patientinfo/allergy_asthma/Lactose%20Intolerance.pdf)
University of WisconsinHospitalsand Clinics Authority, 2004, Lactose Intolerance, UW Health – Online Health Fact
(http://www.uhs.wisc.edu/docs/uwhealth_lactose_177.pdf)
Vesa, T. H., Philippe M., and Riitta K., 2000, Lactose Intolerance, Journal of The American College of Nutrition, (19) 2 : 165S – 175S
(http://bioquest.org/scope/projectfiles/Lactase_review.pdf)
Wilt, T. J., et al., Minnesota Evidence-based Practice Center, 2010, Lactose Intolerance and Health – Evidence Report/Technology Assessment, AHRQ Publication No. 10-E004
(http://www.ahrq.gov/downloads/pub/evidence/pdf/lactoseint/lactint.pdf)
Hari Kusta Sedunia
Hari Kusta Sedunia: 25 Januari
Di bulan Januari ini, masyarakat dunia memperingati Hari Kusta Sedunia yang jatuh setiap tanggal 25. Peringatan ini ditujukan selain untuk men-support pasien-pasien kusta secara moral agar tidak merasa terkucil akibar penyakit ini juga untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar hidup bersih dan sehat sehingga terhindar dari penularan penyakit kusta.
“Lho, memangnya kusta itu penyakit apa ya? Kok bisa pasien jadi merasa terkucil?”
Jadi gini sahabat, memang umumnya penyakit kusta terjadi di negara berkembang, yang sebagian besar penderitanya adalah dari golongan ekonomi lemah. Hal ini akibat keterbatasan negara tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan yang memadai, ditambah dengan kurangnya penyelenggaraan edukasi dan kesejahteraan sosial ekonomi pada masyarakat. Indonesia sendiri termasuk negara yang paling banyak memiliki penderita kusta, setelah India, Brazil, dan Myanmar (WHO). Wah kita harus waspada nih.
Kusta dikenal juga dengan penyakit Morbus Hansen. Nama ini diambil sesuai dengan nama ilmuwan yang menemukan patogen penyebab kusta, yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874. Selain itu, masyarakat juga mengenal kusta sebagai penyakit lepra, karena bakteri yang menyebabkan penyakit ini adalah Mycobacterium leprae dan Mycobacterium lepromatosis. Mycobacterium leprae merupakan bakteri gram positif berbentuk batang yang termasuk dalam basil tahan asam karena tahan pada pewarnaan oleh asam dan alkohol.
Gambaran mikroskopik Mycobacterium lepromatosis dan Mycobacterium leprae dari lesi kulit
Sumber Gambar: http://www.human-healths.com/mycobacterium-leprae-2/mycobacterium-leprae.php)
Bakteri ini menyerang menyerang saraf tepi, kulit dan jaringan tubuh lainnya, termasuk saluran pernapasan. Pada penyakit ini lesi pada kulit dapat terlihat jelas, bila tidak diberikan perawatan intensif, maka kusta bisa menyebabkan kerusakan pada kulit, saraf, dan anggota gerak. Tanda-tanda yang dapat terlihat antara lain timbulnya adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. Pada awalnya bercak putih ini hanya sedikit, kemudian akan semakin melebar dan bertambah. Muncul juga bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit. Pada keparahan kondisi, dapat terjadi benjolan-benjolan di wajah yang tegang disebut facies leomina (muka singa).
Sedangkan gejala umum yang dirasakan pasien antara lain: demam, mual kadang disetai muntah, nyeri kepala, kadang disertai iritasi, orchitis (peradangan testis), pleuritis (peradangan pleura), dan neuritis (peradangan pada saraf optik).
Patut diketahui juga cara penularan penyakit kusta ini. Dari penelitian disebutkan bahwa kusta dapat menular dari lendir/sekret hidung pasien. Bakteri yang berasal dari sekret hidung penderita namun sudah mengering, masih dapat hidup 2–7 x 24 jam. Selain itu kusta juga bisa menular melalui kontak kulit dengan luka terbuka. Penularan ini juga dapat diperparah dengan daya tahan tubuh pasien yang menurun dan keganasan bakterinya sendiri.
Penanggulangan penyakit kusta sudah banyak diusahakan pemerintah dan juga warga dunia melalui WHO. Bahkan sejak tahun 1995 sampai 2010, WHO memberikan paket obat untuk terapi kusta secara gratis pada negara endemik, melalui Kementerian Kesehatan. Terapinya adalah multidrug therapy (MDT), yang terdiri dari 3 obat: dapsone, rifampicin dan clofazimine.
Tentunya selain terapi obat dibutuhkan juga rehabilitasi sosial bagi pasiennya, agar pasien tidak minder dalam pergaulan dan dapat tetap produktif. Dalam hal ini diperlukan peranan keluarga, masyarakat dan praktisi kesehatan untuk mendukung proses penyembuhan pasien. Nah, setelah kita tahu mengenai kusta, yuk kita sama-sama dukung penyembuhan moral untuk pasien kusta dengan tidak mengucilkan mereka J.
Sumber:
- Zulkifli, 2003, Penyakit Kusta dan Masalah yang Ditimbulkannya, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. (USU digital library)
- WHO, 1995, Leprosy disabilities: magnitude of the problem, Weekly Epidemiological Record 70 (38): 269-75
- http://www.human-healths.com/mycobacterium-leprae-2/mycobacterium-leprae.php
Pentingnya Minum Bagi Tubuh! Kalo Soft Drink?
Tidak lengkap rasanya jika makan tanpa minuman berasa! Jarang sekali kita memesan air mineral untuk melengkapi makan kita, terutama untuk anak-anak kost yang harus makan di luar rumah. Sampai kost, kebanyakan malah kita lupa untuk mengambil sekedar air mineral untuk melengkapi kebutuhan tubuh kita akan air. Kita sering lupa bahwa minum juga memiliki peranan penting bagi kesehatan kita, tidak hanya makanan bergizi saja. Kalo kamu suka minum apa untuk melengkapi makanmu? Apakah es teh, es jeruk, minuman bersoda, kopi, atau air mineral tetap menjadi pilihan utama kamu? Mari kita sama-sama mengenal pentingnya minum bagi tubuh kita dan apa sih manfaat dari kita meminum air mineral dan pada kesempatan kali ini saya akan membahas lebih jauh tentang soft drink!
Tahukah kamu? Ternyata tubuh kita terdiri dari banyak jumlah air. Tubuh kita terdiri dari setidaknya 37 L pada rata-rata tubuh orang dewasa, pada otak sebanyak 75%, pada tulang 25% dan pada darah 83%.Tubuh kita memerlukan asupan air setidaknya 2L atau 8 gelas per hari. Cukup banyak juga ya? Pasti teman-teman juga pernah dengar bahwa “manusia dapat bertahan beberapa minggu tanpa makanan, sedangkan tanpa air, manusia hanya dapat bertahan kurang dari 1 minggu”, sebegitu pentingnya ya air untuk tubuh kita. Air sendiri dibutuhkan oleh tubuh untuk mengatur suhu tubuh, melembabkan jaringan seperti di atas mulut, mata dan hidung, melubrikasi sendi, melindungi organ tubuh dan jaringan, membantu mencegah susah buang air besar (konstipasi), mengurangi beban kerja ginjal dan hati dengan mengeluarkan produk sisa dari tubuh, membantu melarutkan mineral dan nutrient lain sehingga dapat terserap oleh tubuh serta membawa nutrient dan oksigen ke sel.
Sumber Gambar :http://www.coastalcoolers.com/body.pdfhttp://www.coastalcoolers.com/body.pdf
Air juga dapat membantu dalam memetabolisme lemak yang tersimpan dalam tubuh, sehingga air memegang peranan penting sebagai bahan untuk mempercepat penurunan badan. Kebayang dong kalau tubuh tidak mendapatkan asupan air yang cukup! Bagian tubuh yang sangat terpengaruh dengan keberadaan air adalah ginjal. Ginjal tidak dapat bekerja baik tanpa keberadaan air yang cukup. Nah, kalau ginjal tidak dapat bekerja dengan baik, maka ginjal akan dibantu oleh hati, dan ketidakcukupan air ini akan dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Penyakit lain yang berhubungan dengan air adalah sulit buang air besar atau yang disebut sebagai konstipasi, sedangkan akibat lainnya adalah berkurangnya tonus otot dan menumpuknya produk sisa metabolisme tubuh.
Selain air mineral atau air putih, tentunya kita pasti pernah mengkonsumsi jenis minuman lain, seperti minuman ringan (soft drink). Soft drink biasa juga disebut sebagai soda, soda pop, tonik, coke, atau minuman berkarbonasi yang merupakan minuman non-alkohol yang mengandung air (tapi tidak selalu berupa air karbonasi), pemanis dan perasa. Pemanisnya sendiri bisa bermacam-macam, yaitu bisa berupa gula biasa, sirup jagung dengan kandungan fruktosa tinggi atau yang disebut sebagai high-fructose corn syrup, atau gula pensubtitusi yang biasanya terdapat dalam jenis minuman diet. High-fructose corn syrup adalah jenis gula yang paling sering dipakai, fruktosa sendiri dimetabolisme di dalam hati, sehingga kerja hati pun akan lebih berat. Pada jenis minuman diet soda, digunakan aspartam yang berpotensi untuk mengakibatkan toksisitas pada syaraf dan mengganggu endokrin. Kandungan soft drink lainnya adalah asam posfat, dapat mengakibatkan kehilangan kalsium, dan perasa mengandung MSG.
Soft drink juga seringkali mengandung kafein atau jus buah. Nah, minuman lain seperti kopi, milkshake, susu, cokelat atau teh tidak tergolong dalam soft drink ini. Minuman lain yang memiliki definisi yang hampir sama dengan soft drink adalah sport drink. Kenapa disebut minuman ringan (soft drink)? soft drink merupakan kebalikan dari minuman keras (hard drink) yaitu minuman yang mengandung alkohol. Pada minuman ringan bisa juga sih terdapat alcohol, tapi kandungan alkoholnya ini tidak boleh melebihi 0.5% dari volume total soft drink.
Apa saja ya efek yang akan diterima tubuh kita jika mengkonsumsi soft drink ? Dalam soft drink terkandung jumlah gula yang cukup besar, sehingga konsumsi soft drink yang berlebihan dapat mengakibatkan peningkatan berat badan (obesitas) , kencing manis, membuat gigi berlubang dan memiliki kadar nutrisi yang rendah. Wah serem juga ya kalo gitu? Tapi jangan khawatir, tentunya efek ini akan terjadi pada konsumsi dengan jumlah tertentu. Tidak seketika setelah kita minum 1 gelas soft drink, kemudian efek ini muncul. Efek lain yang bisa muncul dari pengkonsumsian soft drink adalah kecemasan dan sulit tidur jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan terutama akan berefek pada anak-anak. Kenapa? Karena soft drink sendiri mengandung kafein. Pada beberapa produk soft drink juga digunakan pengawet seperti sodium benzoate yang menurut hasil penelitian dapat mengakibatkan kerusakan DNA dan juga hiperaktivitas.
Saya juga membaca tentang tanggapan dari salah satu perusahaan soft drink, yang produknya juga sangat laku keras di Indonesia mengenai efek-efek dari soft drink yang membahayakan, dan perusahaan pun memberikan beberapa sanggahannya. soft drink karena mengandung gula yang tinggi dapat digunakan sebagai sumber energi, kandungan gula yang terkandung di dalamnya tidak akan menyebabkan tekanan darah tinggi, kencing manis atau obesitas jika diiringi dengan pembakaran kalori yang cukup, tidak akan merusak gigi (cavity) karena soft drink yang berbetuk cairan tidak kontak dengan gigi dalam jangka waktu yang lama, tidak menimbulkan hiperaktivitas pada anak karena kandungan gula yang tinggi, kafein yang terkandung dalam soft drink hanya sekitar ½ dari kandungan kafein pada teh atau 1/3 dari kandungan kafein pada kopi, tidak menyebabkan batu ginjal, dll. Tentunya kita tidak bisa langsung mempercayai pembelaan ini, namun tidak juga menjudge bahwa soft drink merupakan minuman yang menakutkan bagi kesehatan dan harus dihindari. Hal yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pengontrolan konsumsi minuman ini, terutama pada orang-orang yang memiliki resiko tinggi terhadap bahaya soft drink, yaitu seperti orang yang harus menghindari minuman dan makanan dengan kadar gula yang tinggi seperti pada penderita kencing manis (diabetes mellitus terutama tipe II) atau orang yang sedang melakukan diet, orang yang membutuhkan konsumsi air yang tinggi seperti pada penderita berbagai penyakit yang menyerang organ ginjal dan orang yang memiliki masalah lambung, karena soft drink biasanya merupakan minuman berkarbonasi yang mengandung karbon dioksida (CO2) untuk menghasilkan efek buih. Karbon dioksida sendiri bersifat asam, sehingga untuk para penderita penyakit lambung akan sangat berefek, karena akan meningkatkan kadar asam lambung. Bagi orang yang sehat dan tidak memiliki masalah kesehatan, menurut saya sah-sah saja mengkonsumsi soft drink ini. Saya sendiri pun sering mengkonsumsinya, karena efeknya yang menyegarkan, tentunya dalam jumlah yang tidak berlebihan.
Nah, gimana? Masih malas minum air mineral? Mari kita biasakan untuk meminum 8 gelas per hari dan tidak mengkonsumsi soft drink secara berlebihan. Kalo malas minum air mineral di luar, karena khawatir dengan higienitasnya, tidak ada salahnya bila kita membawa botol minum yang bisa dibawa ke mana-mana walau membuat tas kamu jadi lebih berat. Selain hemat uang jajan, kesehatan terjamin dan tentunya juga kita berkontribusi pada lingkungan, karena ikut mengurangi penggunaan botol plastik. Pada kesempatan berikutnya, akan kita bahas jenis minuman berasa lainnya. Semoga bermanfaat!
Referensi :
http://www.coastalcoolers.com/body.pdf
http://nutrition.about.com/library/blwatercalculator.htm
http://www.coca-colabottling.co.id/ina/ourcompany/index.php?act=faq
http://en.wikipedia.org/wiki/Soft_drink
http://www.globalhealingcenter.com/american-trends/soft-drinks-america
Yositalida Kamaratih Fauzi
Mahasiswa Apoteker Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung
“Do everything until your limit!”
Mengenal Imunisasi
Kita seringkali mendengar adanya program imunisasi, terutama imunisasi yang diselenggarakan untuk bayi dan balita. Hmm.. Sebenarnya apa sih imunisasi itu? Apa manfaatnya untuk kesehatan? Dan kenapa kok kebanyakan program imunisasi ini untuk bayi dan balita? Yuk kita kupas bersama-sama di sini.
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi artinya pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan cara pemberian vaksin. Tujuan imunisasi ini untuk pencegahan dan perlindungan terjadinya infeksi atau penyakit tertentu. Pemerintah mencanangkan imunisasi sebagai tindakan yang efektif untuk menurunkan insidensi terjadinya penyakit yang dapat membahayakan bahkan yang menyebabkan kematian. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain hepatitis B, campak, polio, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, cacar air, dan TBC.
Vaksin yang diberikan saat imunisasi merupakan bahan antigenik yang berasal dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan. Materi genetik yang dimiliki virus dan bakteri tersebut dinonaktifkan sehingga tidak membahayakan. Cara melemahkan virus dapat dilakukan menggunakan panas atau bahan kimiawi. Selain itu terdapat pula pengembangan imunomolekuler dalam pembuatan vaksin yang aman yaitu dengan cara menggunakan protein atau peptida tertentu dari virus tersebut.
Pelaksanaan imunisasi biasanya dapat dilakukan kepada seseorang dengan cara suntik di bagian tubuh tertentu, seperti di bagian lengan dan paha, atau dengan cara diminum/ditelan karena vaksinnya berupa cairan.
Nah, bagaimana sih mekanismenya sehingga vaksin bisa bekerja sebagai pembentuk sistem kekebalan tubuh dan pencegah penyakit tersebut?
Vaksin yang merupakan antigen yang telah dilemahkan tadi akan masuk ke dalam tubuh manusia. Sistem imun tubuh akan mengenalinya sebagai benda asing dan menstimulasi pembentukan antibodi. “Tentara” antibodi dalam tubuh kita akan bekerja untuk menghancurkannya, antibodi bereaksi seakan-akan memang ada infeksi yang menyerang tubuh kita. Selain berfungsi untuk menangkal benda asing yang masuk, antibodi juga mengingat bentuk antigen yang telah masuk (fungsi memori) sehingga jika suatu waktu tubuh terpapar antigen yang sama (berupa penyakit) maka tubuh akan bisa melawannya dengan cepat dan infeksi penyakit tersebut bisa dicegah. Singkatnya imunisasi ini berguna untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap virus, bakteri, dan lainnya.
Imunisasi lebih sering difokuskan pada balita dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna, tidak seperti orang dewasa, sehingga anak-anak lebih rentan terkena serangan penyakit dan infeksi. Selain itu, program imunisasi ini biasanya tidak hanya dilaksanakan satu kali saja, tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap.
Berikut adalah imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi: (www.imunisasi.net)
- Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) diberikan satu kali untuk mencegah penyakit Tuberkulosis (TBC). Diberikan segera setelah bayi lahir di tempat pelayanan kesehatan atau mulai 1 (satu) bulan di Posyandu.
- Imunisasi Hepatitis B diberikan satu kali untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan.
- Imunisasi DPT-HB diberikan tiga kali untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis (batuk rejan), Tetanus dan Hepatitis B. Imunisasi ini pertama kali diberikan saat bayi berusia 2 (dua) bulan. Imunisasi berikutnya berjarak waktu 4 minggu. Pada saat ini pemberian imunisasi DPT dan Hepatitis B dilakukan bersamaan dengan vaksin DPT-HB.
- Imunisasi polio diberikan 4 (empat) kali dengan jelang waktu (jarak) 4 minggu untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio.
- Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak. Imunisasi campak diberikan saat bayi berumur 9 bulan.
Tapiii.. jangan lupa ada yang perlu kita perhatikan juga dalam pelaksanaan imunisasi ini. Tidak jarang bayi/balita yang diimunisasi mengalami sedikit efek samping akibat kerja antibodi tubuh. Namun tidak usah khawatir, asalkan kita tetap waspada. Efek samping ini sebenarnya membuktikan bahwa vaksin tersebut sedang bekerja dengan tepat. Contohnya pada imunisasi BCG, setelah 2 minggu terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2–3 minggu kemudian pembengkakan akan menimbulkan luka kecil. Luka tersebut akan sembuh sendiri dengan meninggalkan parut kecil di area penyuntikan. Pada imunisasi DPT, kebanyakan bayi menderita panas pada sore hari setelah imunisasi. Panas akan turun dan hilang dalam 2 hari.
Hmm.. Sudah cukup luas nih bahasan kita. Jadi, imunisasi itu penting juga lho untuk pencegahan penyakit. Lagi pula Risiko efek samping vaksinasi ini lebih kecil dibandingkan dengan risiko terjangkit penyakit tersebut. Prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati terbukti pada pelaksanaan imunisasi ini
Sumber:
- http://www.imunisasi.net/
- Siegrist, Claire-Anne. Vaccine immunology (general aspects of vaccination). Elsevier Inc. (http://www.who.int/immunization/documents/Elsevier_Vaccine_immunology/en/index.html)
- Slide kuliah imunologi, semester V.
Vitamin E
Akhirnya setelah sekian lama di sibukkan dengan proses perubahan status calon apoteker menjadi apoteker, sekarang berkesempatan untuk “bercerita” melanjutkan kisah vitamin yang sempat dibahas pada artikel sebelumnya. Berawal dari maraknya perbincangan dan juga penggunaan vitamin E baik berupa sediaan obat, suplemen oral maupun topikal pada produk-produk kosmetik, nampaknya ulasan tentang vitamin E cukup menggiurkan untuk digali.
Vitamin E atau dikenal dengan istilah tocopherol merupakan vitamin larut lemak yang banyak terkandung dalam susu, mentega, sayuran hijau, selada, kacang-kacangan, telur, dan buah-buahan.Vitamin ini sering kali disebut-sebut sebagai antioksidan dengan beragam “kepercayaan” pada penggunanaannya. Berikut adalah bahasan tentang efek farmakologi vitamin E:
Antioksidan
Vitamin E merupakan salah satu dari sekian jenis vitamin yang memiliki efek antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat membantu melindungi tubuh kita dari serangan radikal bebas, selengkapnya dapat dilihat pada artikel sebelumnya tentang antioksidan.
Vitamin E sebagai antioksidan ini menghambat kelanjutan reaksi radikal bebas. Dengan asupan vitamin E dapat mencegah induksi kerusakan atau pecahnya sel darah merah (hemolisis). Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian, bahwa dengan rendahnya konsentrasi vitamin E dalam plasma darah, berkorelasi dengan peningkatan hemolisis oleh agen pengoksidasi.
Pada penanganan pasien Alzheimer atau demensia,juga menggunakan vitamin E, meskipun mekanisme pastinya belum diketahui. Namun, diketahui bahwa vitamin E dapat berinteraksi dengan membran sel, menangkap radikal bebas, dan menghentikan reaksi pengerusakan sel. Sedangkan penyakit Alzheimer ini melibatkan reaksi oksidasi dan akumulasi penumpukkan radikal bebas. Oleh karena itu, pemberian vitamin E pada pasien Alzheimer atau demensia dapat menghambat perkembangan penyakittersebut.
Berdasarkan data epidemiologi menunjukan bahwa peningkatan asupan antioksidan seperti vitamin E berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Vitamin E menghambat peroksidasi lemak pada LDL (Low Density Lipoprotein), sehingga dapat membatasi pembentukan plak pada pembuluh darah jantung (atherosklerosis) dan manifestasi klinisnya. Vitamin E juga menghambat agregasi dan adhesi platelet.
Masih berdasarkan pembuktian epidemiologi, yang menyatakan bahwa konsumsi sayur dan buah-buahan menurunkan risiko kanker, maka dilakukanlah uji klinik penggunaan antioksidan (Viramin E, β-karoten). Dari penelitian tersebut, menyatakan bahwa suplemen antioksidan dapat menurunkan risiko kanker.
Imunologi
Hasil penelitian menunjukan bahwa vitamin E dapat meningkatkan respon imun pada lanjut usia dan menghambat produksi prostagalndin E2 yaitu hormon pengaturan dilatasi dan konstriksi pembuluh darah, berkaitan dengan respon inflamasi dan infeksi yang dapat menginduksi demam.
Efek pada Kulit
Selain sebagai antioksidan, vitamin E juga dikenal khasiatnya terhadap perlindungan dan pemulihan kerusakan kulit. Pembahasan efek vitamin E pada kulit ini sudah banyak dikaji berikut dengan klaim khasiatnya, bahkan dari jurnal ilmiah pun terdapat beragam kesimpulan. Diantaranya menyatakan bahwa kombinasi vitamin E dan C mengurangi reaksi terbakar sinar matahari, sehingga dapat menurunkan risiko kerusakan kulit karena paparan sinar ultraviolet (Bernadette et al, 1998). Sedangkan untuk penyembuhan bekas luka operasi pada kulit, sebuah pengujian menyatakan sebanyak 90% kasus dalam penelitian menunjukan bahwa pemberian vitamin E secara topikal tidak memberikan efek dalam penyembuhan (Baumann & Spencer, 1999).
Kekurangan Vitamin E
Kekurangan vitamin E umumnya jarang terjadi, karena seharusnya dapat terpenuhi dengan asupan makanan sehari-hari. Kekurangan vitamin E biasanya terjadi pada individu yang tidak dapat menyerap vitamin atau terjadi keabnormalan genetik. Kekurangan vitamin E pada orang dewasa tidak mengakibatkan suatu penyakit khusus, hanya saja fakta dilapangan membuktikan bahwa dengan asupan vitamin E dapat menurunkan risiko terserang penyakit kronis, terutama penyakit jantung. Kekurangan vitamin E umumnya dapat menimbulkan periferal neuropati, yaitu kerusakan sistem syaraf tepi. Sedangkan pada bayi prematur, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan iritasi, edema (volum cairan di luar sel meningkat), anemia hemolitk, dan trombosis yaitu pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Kekurangan vitamin E ini ditangani dengan pemberian suplemen vitamin E sebelum terjadi kerusakan syaraf permanen.
Kebutuhan Vitamin E
The National Academy of Sciences (NAS) merekomendasikan dosis vitamin E untuk ibu hamil usia 14-50 tahun sebesar 15 mg, dan untuk ibu menyusui sebesar 19 mg. Sedangkan berdasarkanKeputusan BPOM tahun 2003 Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin E adalah sebagai berikut:
|
Kategori |
Vitamin E |
|
Umum |
10 mg |
|
Bayi 4-12 bulan |
5 mg |
|
Bayi 2-6 bulan |
5 mg |
Vitamin E, seperti vitamin-vitamin lainnya yang juga tergolong dalam mikronutrisi memang hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil pada kondisi normal. Oleh karena itu, dengan asupan makanan sehat sehari-hari pun kebutuhan vitamin E ini sudah terpenuhi. Bijak memilih dan memutuskan, karena anda lah yang paling mengerti kebutuhan sehat untuk tubuh anda, JJ.
Referensi :
American Society of Hospital Pharmacist. AHFS drug information 2007. Bethesda: American Society of Health-System Pharmacists, p.3645-3649
Bernadette et al. 1998.Protective effect against sunburn of combined systemic ascorbic acid (vitamin C) and d-α-tocopherol (vitamin E). Journal of the American Academy of Dermatology, Volume 38, Issue 1, p.45-48
Baumann & Spencer. 1999. The effects of topical vitamin E on the cosmetic appearance of scars. University of Miami Department of Dermatology and Cutaneous Surgery, Miami, Florida, USA














