Skip to content

Demam dan termos es!

20/10/2013
tags: ,
by

Pada suatu hari ada seorang pasien berkonsultasi dengan apoteker tentang demam tinggi yang dideritanya. Kondisi demamnya tidak juga mereda meski telah diberi obat. Hal pertama yang ditanyakan sang apoteker kepada pasien tersebut adalah tentang obat apa saja yang telah diminumnya. Kemudian pasien itu menjawab ada 1 jenis antibiotik, 1 jenis obat batuk, dan 1 jenis obat penurun panas.

Kemudian sang apoteker bertanya mengenai kondisi demam yang dialami pasien tersebut. Pasien pun  bercerita demamnya ini selalu muncul di malam hari sekitar pukul 8, hingga ia tidak bisa tidur karena matanya pun terasa sangat panas hingga menangis.

Apoteker pun kembali penasaran dan bertanya, “minum obat penurun panasnya biasanya kapan?”

Pasien menjawab,”karena di instruksikan jika panas, jadi saya meminumnya jika sudah sangat terasa demam..”

Mendengar hal itu, Apoteker pun menyarankan hal yang berbeda, “Setiap obat yang diminum itu butuh waktu hingga dapat berefek terhadap keadaan tubuh. Dalam bahasa sederhananya, obat ini butuh waktu buat sampai ke tempat kerjanya. Kemungkinan yang terjadi adalah ketika kamu minum obat penurun panasnya, kondisi tubuhmu sudah demam, karena obat belum juga sampai ke tempat kerjanya, suhu tubuhmu masih terus meningkat, makanya obat ini seperti tidak berefek. Mungkin saat kamu tidur baru ada efeknya. Nah, untuk hari ini coba minum obat nya di sore hari yaa..”

Pasien bertanya kembali, “kalau kompres sebenarnya perlu atau tidak ya?”

Apoteker menjawab, “oiya, boleh saja dikompres juga.. kemarin-kemarin saat demam, apa sudah dikompres juga?”

Pasien menjawab,” iya.. saya kompres dengan air dingin”

Mendengar jawaban pasien tersebut sang apoteker hanya dapat geleng – geleng kepala karena heran.

Cerita di atas adalah cerita nyata yang sempat saya temui, mungkin pertanyaannya disini adalah: kenapa sang apoteker hanya geleng – geleng kepala mendengar sang pasien mengompres dirinya dengan air dingin?

Nah berikut penjelasannya…

Mungkin sebagian kita pernah mengalami kejadian yang sama yaa.. Ketika suhu tubuh tinggi, ingin rasanya membantu keadaan ini dengan sesuatu yang dingin agar tubuh kembali normal. Dan saya yakin pula sebagian pembaca Apoteker Bercerita ini masih ada yang ingat sebuah iklan *yang mungkin menginspirasi tindakan kompres dengan air dingin* berikut:

“Bu Joko.. Bu Joko.. Bu Joko punya Es.. anak saya panas sekali”

“sebentar ya bu..”

Kemudian beberapa saat kemudian Bu Joko kembali dan tidak membawa es.

“Maaf,Bu..Jika anak saya demam biasanya saya beri *obat panas*”

“Apa? Termos es?”

Ya.. demikian cuplikan iklannya… Seperti tidak ada yang salah dengan urusan kompres air dingin ini ya?

Pembahasan tentang kondisi demam sendiri sudah pernah di published dalam blog ini dengan judul artikel: Demam dan Obat Penurun Panas

Lantas kenapa tidak boleh kompres dengan air dingin? Kunci jawabannya ada pada paragraf berikut:

“… ketika demam, termostat tubuh kita di set lebih tinggi daripada suhu normal tubuh. Oleh karena itu, suhu tubuh kita yang sebenarnya normal dianggap lebih rendah. Akibatnya, tubuh akan menggigil untuk menghasilkan panas yang melampaui suhu normal tubuh.”

Suhu tubuh dianggap lebih rendah, kemudian badan menggigil untuk menghasilkan panas yang lebih tinggi lagi. Ketika kita melakukan kompres dengan air dingin, maka rangsangan ini akan dibaca sebagai suhu yang lebih rendah lagi, akibatnya tubuh akan semakin berusaha untuk menghasilkan panas yang berlebih.

Terdengar simpel ya..

Haha.. ya begitulah memang mekanisme respon tubuh. So, jika tubuh demam, kompreslah dengan air hangat. Rangsangan ini yang akan dibaca tubuh sebagai suhu yang hangat, sehingga tubuh akan merespon dengan mengurangi panas yang dihasilkan dan suhu tubuh kembali normal.

Semoga artikel ini bermanfaat🙂

Limfoma Hodgkin, Si Mata Burung Hantu.

24/12/2012

Halo kamu! Setelah sekian lama akhirnya kamu bisa lagi membaca tulisan di blog kita. Well, untuk sekarang, yang bakalan diceritakan adalah mengenai Limfoma, sesuai yang pernah dijanjikan sama admin twitter seminggu yang lalu. :p

Namun sayangnya tidak bisa secara sekaligus Limfoma dibahas, karena materinya yang begitu esensial dan sayang bila banyak dilakukan “cut”. Oleh karena itu, kita kali ini spesial akan membahas pendahuluan Limfoma dan Hodgkin’s Lymphoma dulu ya…🙂

Mari kita mulai nge-Limfomanya yuk?🙂

Pertama-tama, mari kita bahas pengertian dari Limfoma berdasarkan kata “Limfoma” atau dalam english bertuliskan “Lymphoma”, yang sebenarnya terdiri dari dua suku kata, yaitu “Lymph-“ dan “-Oma”. Which means, Lymph adalah sistem Limfatik dalam tubuh atau nodus Limfa, atau kelenjar getah bening. Sedangkan Oma adalah tumor ataupun kanker. Sedangkan untuk pengertian lebih jelasnya, Limfoma adalah kanker yang muncul akibat transformasi dari sel imun pada kelenjar getah bening. Lebih spesifik, limfoma dapat diartikan sebagai maltransformasi dari Limfosit (Sel B, Sel T, dan Sel NK). Masih ingat mengenai tentara Sel B, Sel T dan Sel NK (Natural Killer) kan? Itu loh, yang bertugas setia membunuh mereka yang mengancam keamanan negara (tubuh).🙂

Secara garis besarnya, kamu bisa melihat gambaran sistem limfe yang tersebar di seluruh tubuh:

lymphsyspic

Yap! Di seluruh tubuh kita tersebar nodus limfa yang memiliki peranan penting dalam sistem pertahanan tubuh. Oleh karena itu, biasanya penderita Limfoma ditandai dengan adanya pembengkakan di nodus limfanya. Nah, untuk memperjelas gambaran nodus limfa, kamu bisa lihat gambar di bawah ini:

lymph node

Itu dia sekilas histologi tentang penyebaran nodus limfa dan limfanya sendiri. Secara histologi, Limfoma terbagi menjadi dua, Limfoma Hodgkin (Sel Reed-Stenberg) atau Limfoma non-Hodgkin (Marker Limfosit Sel B atau T).

Pendahuluan Limfoma selesai, saatnya kita masuk ke Limfoma Hodgkin!

Limfoma Hodgkin ditemukan oleh peneliti Drs. Carl Stenberg dan Dorothy Reed yang berhasil mendiskripsikan limfoma Hodgkin dengan adanya Sel Reed – Stenberg tersebut. Sehingga karakterisasi Limfoma Hodgkin Klasik dapat dilihat dengan keberadaan Sel Reed-Stenberg. Atau lebih dikenal dengan Sel mata burung hantu karena penampakannya yang mirip dengan mata burung hantu di bawah mikroskop.

220px-Reed-Sternberg_lymphocyte_nci-vol-7172-300

Tipikal Limfoma Hodgkin terjadi pada nodus limfa dan menyebabkan inflamasi sel, fibrosis, dan presentasi (1-2%) Sel Reed-Stenberg yang relatif kecil. Dan penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa Sel Reed-Stenberg berasal dari Transformasi Sel B. Sel Reed – Steinberg sendir ekspres antigen CD30 dan CD15.

Patofisiologi secara umum, pada Transformasi kanker, proses transkripsi Sel B terganggu, sehingga mencegah ekspresi dan produksi dari messenger asam ribonukleat immunoglobulin, menyebabkan apoptosis, namun karena juga adanya perubahan jalur apoptosis, menyebabkan sel bertahan dan berkembang. Sel Reed-Stenberg overekspress faktor kB, yang diikuti dengan proliferasi sel dan sinyal antiapoptotic. Infeksi dengan virus maupun bakteri patogen mengatur regulasi faktor kB dan berperan dalam tejadinya limfoma Hodgkin. Hipotesis ini didukung dengan ditemukannya EBV (Epstain Barr Virus) pada tumor limfoma Hodgkin.

Limfoma Hodgkin memiliki beberapa tipe, seperti:

Nama Limfosit Predominan Mixed Celluarity Penurunan Limfosit Nodular Sklerosis
Prevalensi 5% 15-30% <1% 60-80%
Age Young Middle Old Young Female
Reed-Steinberg Low Moderate High No Specific with colagen surrounded
Survival Rate 90% 75% 45% 85%

Sekitar 70% pasien Hodgkin Limfoma memiliki bengkak nodus limfa yang tidak terasa sakit, dan biasanya terjadi pada nodus mediastinal. Pada pasien asimptomatik, limfoma Hodgkin dapat didiagnosis dengan ditemukannya massa mediastinal pada bagian dada menggunakan radiografi atau prosedur imaging lainnya. Asimptomatik adenopati pada bagian inguinal dan axillary dapat ditemukan pada diagnosis, namun kurang umum, dimana Waldeyer’s Ring dan Nodus epithroclear jarang muncul. Sekitar 25% dari pasien Limfoma Hodgkin menunjukkan gejala konstitusional (Simptom B) dan umumnya terjadi pruritus dan tidak signifikan dalam nilai prognosisnya.

mediastinal

Selain itu Limfoma Hodgkin memiliki pola distribusi yang unik, yaitu pola bimodal age distribution, yaitu memiliki kecenderungan terjadi pada umur 15-30 tahun, dan diatas 50 tahun.

Nah, sekarang kita akan melihat klasifikasi dari Limfoma itu sendiri yang membagi tubuh manusia menjadi dua bagian, yaitu sisi atas diafragma, dan sisi bawah diafragma. Klasifikasi ini berlaku untuk Limfoma Hodgkin maupun Limfoma Non Hodgkin.

Ann Arbor Classification:

ANNABOR

Stage I             : Terjadi pada satu nodus limfa di satu daerah

Stage II           : Terjadi pada dua atau lebih nodus limfa pada sisi diafragma yang sama

Stage III          : Terjadi pada nodus limfa di kedua sisi diafragma

Stage IV          : Menyebar ke seluruh jaringan dan organ

A : Asimptomatik

B : Simptomatik, demam, berkeringat di malam hari, turunnya berat badan lebih dari  10% dalam 6 bulan

X : Bulky disease, pembesaran atau perkembangan dari tumor limfoma.

  •   >sepertiga di daerah mediastinum
  •   >10 cm pembesaran dari dimensi maksimal nodus limfa

E : Adanya keterlibatan dari jaringan ekstralimfatik pada salah satu sisi diafragma.

S  :Adanya keterlibatan spleen

Terus apa yang terjadi ketika pasien didiagnosis menderita Limfoma? Itu berarti sistem pertahanan tubuh pasien akan sangat terganggu, belum lagi kesulitan dari penanganan ini yang sebenarnya bergantung banyak dari kemoterapi, dan sama-sama kita ketahui bahwa kemoterapi banyak memiliki efek samping yang merugikan bagi pasien. Salah satu contohnya adalah kurang selektifnya kemoterapi yang pada awalnya bertujuan menyerang sel kanker/tumor yang pertumbuhannya cepat, namun juga berimbas pada sel normal yang pertumbuhannya juga cepat. Salah satunya adalah sel-sel penyusun rambut. Oleh karena itu banyak pasien yang menjalani kemoterapi mengalami kebotakan. Belum lagi terapi yang dilakukan jangka lama.

Namun bila terapi ini tidak dilakukan dengan teratur dan penuh perhatian, sangat besar Limfoma akan menyebabkan kematian, baik karena kanker Limfoma itu sendiri, maupun karena adanya infeksi sekunder.

Berikut adalah faktor resiko yang mungkin beberapa diantaranya bisa dihindari dan sebisa mungkin kita menjauh dari Limfoma:

  1. Umur
  2. Jenis Kelamin, penelitian menyebutkan pria lebih memiliki resiko lebih besar dibandingkan dengan wanita.
  3. Genetik, seperti Lupus, Sindrom Sjögren, rheumatoid arthritis.
  4. Lingkungan, seperti terkena paparan Pestisida dan herbesida,senyawa kimia (benzena), “agent orange”.
  5. Adanya gangguan sistem imun, seperti HIV/AIDS, virus Epstein-Barr, Helicobacter Pylori.

Agaknya cukup sekian kali ini Limfoma bagian pertama, Limfoma Hodgkin. Tunggu ulasan Limfoma selanjutnya ya! Akan ada Limfoma Non Hodgkin beserta Terapi Hodgkin dan Non Hodgkin.

Referensi:

DiPiro, Joseph T., dkk, 2009, Pharmacotherapy Handbook, Seventh Edition, Mc. Graw – Hill Medical Publishing Division, New York.

National Cancer Institute  Http://www.cancer.gov/cancertopics/types/lung

 

Tentang Kesehatan Rambut

15/05/2012

Rambut kamu kusam, rontok dan patah-patah??

How can be you looked beautiful while your hair isn’t? You know the answer😀

Tetapi di sini kita bukan akan membahas bagaimana menyulap rambut agar terlihat cantik. Kita akan membahas lebih dari itu, kita akan berbicara tentang seluk beluk rambut, bagaimana ia tumbuh, bagaimana merawat rambut, apa saja ‘penyakit yang menggerogoti rambut’, termasuk masalah rambut rontok, kebotakan, dan bagaimana mencegahnya, semuanya akan dibahas dari sudut pandang kesehatan.

Sebelum membicarakan teori, berikut jawaban beberapa teman ketika ditanya

Menurut kamu, apa yang menyebabkan rambut rontok?”:

“Rambut bisa rontok kalau terlalu sering atau ga sengaja ditarik-tarik” (Andy, 23 tahun, mahasiswa)

“Kurang vitamin atau mungkin ga cocok sama shampoo nya😀 “ (Lady, 23 tahun, mahasiswa + model)

“Stress, usia, hormon, keturunan.” (Dheny, 23 tahun, karyawan swasta)

“Stress, perubahan hormon, misal karena hormon menyusui, pengaruh obat-obatan medis, misalnya efek samping obat, terapi kanker, dll.” (Dewi, 23 tahun, PNS)

“Keturunan” (Luh, 23 tahun, karyawan swasta)

“Transplantasi rambut itu gimana, sih?”

 “Belum pernah denger..” (Andy, 23 tahun, mahasiswa)

“Bibit rambutnya ditanem di kepala..” (Erdo, karyawan swasta)

“Pernah denger di tipi, orang kecelakaan pesawat. Rambutnya ga bisa numbuh jadinya ditanem deh satu satu” (Dewi, 23 tahun, PNS)

Di kepala, rambut bukan sekedar mahkota. Rambut menjadi buffer, melindungi kulit kepala dari sengatan panas atau tusukan dingin. Rambut tumbuh di seluruh permukaan kulit kecuali bibir serta telapak tangan dan kaki.

Rambut yang dapat terlihat oleh mata kita adalah sel mati. Sementara sel hidupnya, ada di bawah kulit kepala, diselubungi oleh suatu jaringan yang disebut folikel.

Sel rambut yang hidup atau akar rambut, memperoleh makanan melalui pembuluh darah di bawah folikel. Di sinilah sel rambut diproduksi. Sel rambut di dalam akar akan mengeras, kemudian mati  dan terdorong keluar oleh sel rambut baru sehingga seolah-olah ‘tumbuh’ menjadi helai rambut. Helai rambut tumbuh selama beberapa tahun, kemudian pertumbuhannya melambat antara 2–3 minggu lalu berhenti. Setelah berhenti tumbuh, rambut tetap di kepala sampai beberapa bulan, kemudian rontok. Folikel yang ditinggalkannya akan menjadi tempat pertumbuhan rambut yang baru. Pada umumnya, setiap orang memiliki folikel kurang lebih 120.000 folikel. Setiap folikel normalnya hanya mampu menumbuhkan rambut sampai sekitar 20 kali.

Hair shaft atau batang rambut terdiri dari 3 lapisan, dari dalam keluar disebut medulla, korteks, dan kutikula. Kutikula berfungsi untuk melindungi lapisan-lapisan yang lebih dalam. Kutikula dapat mengalami kerusakan dan menyebabkan warna alami rambut hilang.

Hal-hal yang dapat memicu kerusakan kutikula di antaranya gangguan fisik yang berlebihan seperti paparan sinar matahari, polusi, angin, klorin, paparan suhu tinggi, teknik menyisir rambut yang salah, atau penggunaan bahan-bahan kimia seperti pewarna, pelurus, maupun pengkeriting rambut tanpa perawatan yang cukup, sirkulasi darah ke folikel rambut kurang, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, stres, atau kemoterapi. Kerusakan rambut dapat memicu kebotakan. Dalam bahasa kesehatan, kebotakan disebut alopecia.

Ada berbagai macam tipe kebotakan (alopecia) :

1.          Alopecia areata

Bentuknya bulat atau oval, satu atau di beberapa tempat di kulit kepala. Belum jelas apa penyebab pastinya, namun diduga karena kurangnya nutrisi, keturunan, stress, yang dapat memicu kerontokan rambut lebih cepat dari yang seharusnya. Jika rambut terlalu sering rontok dan folikel sudah mencapai batas maksimumnya memproduksi rambut, maka folikel akan mati dan tidak ada lagi rambut yang tumbuh di folikel tersebut. Jika ini terjadi pada banyak folikel sekaligus maka dapat memicu kebotakan.

2.            Androgenetic alopecia

Kebotakan tipe ini dialami pria dewasa karena dipengaruhi oleh hormon testosteron.  Di dalam tubuh, hormon ini dapat bereaksi dengan enzim 5-alpha-reductase, dan berubah menjadi dehydrotestosterone (DHT). DHT memicu pengecilan ukuran folikel sehingga rambut mudah rontok. Biasanya rambut berikutnya yang tumbuh ketebalannya berkurang dari rambut normal. Terapi untuk kebotakan jenis ini biasanya dengan obat-obatan seperti minoxidil, finasteride, atau hormon estrogen, tetapi hanya boleh diberikan dengan resep dokter.

3.            Congenital alopecia

Kebotakan ini disebabkan oleh kelainan gen. Biasanya saat lahir rambut masih tumbuh normal namun hanya dalam beberapa bulan mengalami kerontokan dan tidak tumbuh lagi atau ketebalan rambut menipis. Kebotakan jenis ini jarang sekali terjadi.

4.            Alopecia pityrodes

Kebotakan yang dipicu oleh ketombe (dandruff). Kebanyakan dialami pada masa puber. Rambut tipis dan kusam. Diatasi dengan menghilangkan dandruffnya.

5.            Trichotillomania

Kebotakan yang disebabkan oleh tingkah laku pada masa kanak-kanak yang tidak terkontrol, menarik rambut sendiri hingga rontok. Pendekatan psikiatri perlu dilakukan untuk mengatasinya.

6.            Scarring alopecia

Kebotakan karena folikel rusak misalnya akibat kecelakaan, terbakar, dan sebagainya. Terapi hanya dengan jalan operasi.

Operasi adalah jalan terakhir mengatasi kebotakan bila cara-cara pencegahan seperti perawatan rutin dengan vitamin, creambath, hair tonic, sudah tidak berhasil mengurangi kerontokan rambut, dan kebotakan sudah meluas dan permanen. Operasi yang dilakukan yaitu tranplantasi rambut.

Pada transplantasi rambut, rambut dipindahkan dari kulit kepala yang lebih lebat ke kulit kepala yang botak. Sama halnya cangkok jantung, transplantasi rambut pun beresiko terjadi penolakan dari tubuh yang ditransplantasi.

Kita semua beresiko mengalami kebotakan. Dan kebotakan bisa jadi permanen. Jadi, sebelum terlambat, yuk rajin merawat rambut…😀

Mau tau lebih banyak tentang rambut? Cek linimasa kita di twitter ya..😀

Referensi :

  • Begoun, Paula. 2004. Don’t Go Shopping Hair Care Product Without Me. California :Publisher Group West
  • Poeradisastra, Ratih. 2006. Cara Mencegah Kebotakan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Wong, H.W. 2012. Seminar Lecture: Disorder of Hair. Dermato Venereology, Medical Faculty of UKRIDA.

Flu Singapura

01/05/2012

Nampak tidak asing bukan? Yuppp.. Flu singapura atau biasa disebut sebagai Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) merupakan flu yang kini marak diberitakan mewabah di Indonesia. Penasaran sama si Flu Singapura ini? Yuk kita kenalan!😛

Flu Singapura atau Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD)?

Flu Singapura atau Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD) merupakan suatu penyakit akibat infeksi coxsackievirus yang banyak menyerang anak berusia di bawah sepuluh tahun. Itu sebabnya Flu Singapura identik dengan anak. Namun tidak menutup kemungkinan orang dewasa untuk bisa terinfeksi lho!

Gejala penyakit akan timbul 3–5 hari, setelah terjadi kontak dengan pasien yang menderita flu singapura dengan gejala yang biasa diawali dengan menurunnya nafsu makan, rasa tidak enak badan, radang tenggorokan juga demam. Dalam 1–2 hari setelah demam terjadi, akan timbul ruam yang kadang berisi cairan pada bagian mulut–baik pada lidah, gusi hingga bagian dalam pipi–, telapak tangan, telapak kaki hingga bokong yang akan hilang dalam 7–10 hari. Pada bayi, ruam akan muncul pada bagian mulut yang biasa terpapar saat menyusui. Read more…

Mengenal Hydralazine

30/04/2012

Duh! Lama ya saya tidak menulis di blog ini. Hehe. Pas nulis, kebagian nulis tentang informasi obat. Eeeaaaa… Baiklah, hari ini kita bahas Hydralazine dulu yuk? *Serius mode: On*.

Hydralazine. Hydralazine yang memiliki bentuk garam yaitu Hydralazine Chlorida, memiliki mekanisme kerja yang masih belum dimengerti sepenuhnya. Hydralazine diduga dapat menurunkan tekanan darah dengan aksi langsung pada otot polos arterial, sehingga menyebabkan vasodilatasi. Selain itu, dengan mengubah metabolisme kalsium seluler, Hydralazine menghambat pergerakan kalsium, yang berakbat pada pengurangan kontraktilitas otot polos vaskuler. Bila kita ingat-ingat kembali, kalsium merupakan ion yang penting perannya dalam menyebabkan kontraktilitas jantung.

Hydralazine HCl ditujukan untuk pasien hipertensi. Bila kita lihat dari mekanisme di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Hydralazine ini tidaklah begitu efektif untuk maintenance hipertensi dalam jangka waktu yang lama, terlebih dalam penggunaan tunggal, karena Hydralazine lebih bersifat vasodilator langsung pada otot polos. Berbeda dengan agen anti hipertensi lain yang mempengaruhi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS).

Read more…

Hati-Hati Batu Ginjal

13/04/2012

Suatu kali seorang teman pernah tiba-tiba mengalami gejala nyeri yang hebat di bagian pinggangnya. Padahal sebelumnya ia tidak pernah menderita sakit tersebut. Ia akhirnya dibawa ke UGD rumah sakit terdekat, diberi obat analgesik (penahan rasa sakit) dan menjalani beberapa pemeriksaan. Hasil pemeriksaan pun menyatakan bahwa ia menderita batu ginjal. Batu itu tidak berukuran begitu besar, hanya sekitar 2–3 mm. Sebenarnya batu ginjal itu tidak tiba-tiba muncul begitu saja, bisa karena beberapa sebab, salah satunya kurang minum dan kelelahan akibat aktivitas, akhirnya muncul gejala nyeri akibat batu ginjal tersebut. Nah pernah menemui kasus seperti ini? Atau bahkan mengalami sendiri? Yuk kita bahas mengenai batu ginjal.

Hmm.. batu ginjal itu penyakit apa yaa? Kok datangnya tiba-tiba?

Dalam bahasa kedokteran batu ginjal ini disebut nephrolithiasis. Terdiri dari dua istilah, nephron (nefron) dan lithiasis. Nefron ini dalah bagian dari ginjal, tepatnya merupajan unit terkecil pada ginjal, fungsinya sebagai penyaring darah. Sedangkan lithiasis adalah pembentukan batu (kalkuli) di dalam organ internal.

Batu ginjal adalah masa padat seperti batu berupa mineral dan garam kristal yang terbentuk di ginjal atau saluran kemih. Ada 4 tipe batu yang dapat terbentuk di ginjal, antara lain: batu kalsium (oksalat atau fosdat), batu magnesium amonium fosfat, batu asam urat, dan batu sistin (cystine). Tujuh puluh sampai delapan puluh persen batu ginjal yang terjadi berupa batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat, atau kombinasi keduanya.

Batu ginjal ini memang kadang tidak menimbulkan gejala (dikenal dengan silent stone). Namun pada saat tubuh sedang drop, kelelahan, atau kurang minum, gejala batu ginjal ini baru terasa. Gejalanya salah satunya seperti yang di atas tadi, nyeri kram yang sangat pada punggung bawah/pinggang, bisa juga terjadi pada punggung bagian samping, selangkangan, atau perut. Terkadang rasa nyeri disertai rasa mual dan muntah. Selain itu karakterisitik khas dari gejalanya adalah dapat menyebabkan adanya darah dalam urin. Namun untuk memastikannya lebih baik periksakan ke dokter dan laboratorium klinik karena gejalanya bisa mirip dengan infeksi saluran kemih.

Sumber gambar: http://www.um-pediatric-surgery.org/

Risiko terjadinya batu ginjal salah satunya adalah jika volume urin menurun atau adamya kelebihan zat pembentuk batu di ginjal. Penurunan volume urin ini bisa diakibatkan karena asupan cairan (kurang minum) yang kurang atau dehidrasi akibat aktivitas yang tinggi namun tidak ada penggantian cairan dari luar. Faktor risiko lainnya adalah terjadinya infeksi pada saluran kencing dan faktor keturunan (genetik)

Sebenarnya jika batu ginjal ini masih berukuran sekitar 4 mm atau lebih kecil, batu masih bisa keluar bersama air seni, Tetapi jika batu ginjal lebih besar lagi, biasanya dibutuhkan terapi khusus untuk penanganannya, seperti terapi farmakologi dengan obat-obatan, meliputi calcium channel blocker (nifedipin) dan alfa bloker (tamsulosin). Diharapkan dengan terapi tersebut, batu ginjal bisa lepas dengan sendirinya dan keluar melalui urin. Sedangkan untuk gejala nyeri yang dating tiba-tiba biasanya diberikan obat untuk meredakan gejala nyeri seperti analgesik dan antiinflamasi seperti NSAID.

Jika batu ginjal tidak cukup diterapi dengan obat, ada penanganan lainnya, seperti lithotripsy, yaitu terapi pemecah batu ginjal tanpa pembedahan. Batu dipecah dengan menggunakan gelombang kejut/suara). Setelah batu besar ini dipecah menjadi potongan yang lebih kecil, lalu diharapkan batu bisa  keluar melalui air seni. Selain itu penanganan dengan bedah juga sudah banyak dikembangkan, hal ini tentunya dengan pertimbangan dokter yang bersangkutan.

Nah, jika sudah tahu mengenai penyakit dan penyebabnya, kita harus menjaga diri agar tidak terkena batu ginjal ini. Tentunya gaya hidup sehat yang utama. Paling penting untuk selalu minum banyak air mineral (minimal 8 gelas air sehari) sekitar 2 liter demi kesehatan ginjal (link ke artikel yg tentang air putih itu lho). Selain itu perlu juga menjaga asupan makanan sehat setiap harinya. Untuk batu asam urat lebih baik mengurangi makanan seperti daging, jeroan, dan kacang-kacangan, karena mengandung purin (memicu asam urat dan terbentuknya batu asam urat); untuk batu kalsium oksalat juga harus mengurangi makanan dan minuman tinggi kalsium oksalat seperti softdrink, keju, kangkung, dan lain-lain. Tidak lupa juga selalu olahraga rutin untuk menjaga kondisi tubuh tetap bugar sehingga tidak mudah terserang penyakit.  Jika perlu, lakukan kontrol ke dokter secara rutin untuk memeriksakan kondisi ginjal, biasanya sekitar setahun sekali, atau jika memang ada keluhan ginjal, periksakan kondisi ginjal 3 bulan sekali.

Kalau pola hidup sehat sudah dijalani, mudah-mudahan kita tidak akan mudah terkena serangan batu ginjal🙂

Referensi:

http://www.um-pediatric-surgery.org/ Akses tanggal 6 April 2012

http://www.medicinenet.com/kidney_stone/article.htm 6 April 2012

http://www.britannica.com/EBchecked/topic/409282/nephron Akses tanggal 9 April 2012

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/007113.htm Akses tanggal 9 April 2012

Porth, C.M, Matfin, G., 2009. Pathophysiology Concepts of Altered Health States, 8th, New York: Lippincot Williams and Wilkins. Hal 832–834

Mari Mengenal HIV/AIDS

29/03/2012

Pasti anda sudah sering mendengar tentang penyakit AIDS! AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) , di mata masyarakat mungkin penyakit yang menakutkan. Ya menakutkan, namun yang harus disadari adalah, walaupun menakutkan bukan berarti kita harus menghindari penderita AIDS, atau yang dikenal dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). AIDS yang mengakibatkan menurunnya sistem imun, diakibatkan oleh terinfeksinya penderita oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Human Immunodeficiency Virus). Bahayanya adalah penderita yang sudah terinfeksi HIV, tidak langsung mengalami tanda (sign) ataupun gejala (symptom) segera setelah infeksi terjadi. Gejala penyakit AIDS biasanya baru mulai muncul selama 5-10 tahun setelah terinfeksi, dan biasanya penderita memeriksakan kesehatannya karena sudah pada state yang parah, karena sudah mengalami infeksi opportunistik (yang menyertai AIDS) karena menurunnya sistem imun dan penyakit oportunistik  ini biasanya merupakan penyakit infeksi.

Struktur HIV

AIDS memang merupakan penyakit menular, tapi penularannya pun tidak sembarangan, tidak bisa melalui udara seperti penyakit tuberculosis (TBC). AIDS dapat ditularkan melalui hubungan seksual, melalui transfusi darah atau luka terbuka yang menyebabkan HIV dapat masuk ke peredaran darah dan melalui plasenta dari ibu ke anak (maternal). Akan sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan pasangan anda! Hal ini menjadi sangat penting, karena AIDS di dunia paling besar terjadi melalui hubungan seksual suami istri, suami yang sudah mengetahui bahwa ia memiliki AIDS, dengan sengaja menularkan ke istrinya yang tidak mengetahui tentang kondisi suaminya dan bahayanya adalah penularan bisa terjadi pada janin, jika istri tsb hamil, maka pemeriksaan medis (medical check up) pra nikah menjadi penting. Menghindari penyebabnya (tindakan prevetif) memang tindakan yang paling benar daripada menyembuhkan (kuratif) maupun promotif. Jika ada orang yang terkena AIDS di sekeliling anda, jangan khawatir, AIDS tidak akan menular hanya dengan bersentuhan tangan atau berpelukan, namun bisa saja penularan terjadi karena infeksi oportunistik yang dialami oleh ODHA.

Tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk menghindari infeksi HIV adalah:

  1. Mempraktekan seks yang aman.
  2. Penggunaan kondom saat seks.
  3. Menghindari penggunaan jarum suntik bersamaan.
  4. Skrining pada darah yang akan ditransfusi.
  5. Skrining HIV pada orang-orang yang beresiko (seperti pekerja seks komersial/PSK, orang yang suka berganti-ganti pasangan atau pada pengguna narkoba).
  6. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesadaran dan pencegahan AIDS.

Penegakkan diagnosis untuk mendeteksi AIDS bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan memeriksa antibodi terhadap HIV dan atau pemeriksaan CD4+ (cluster of differentiation 4+), yaitu glikoprotein yang diekspresikan pada sel T-helper, monosit, makrofag dan sel dendritik atau secara global bisa diartikan sebagai bagian dari sel darah putih yang berperan dalam sistem imun tubuh. Pemeriksaan ini tentu saja tidak langsung dilakukan, karena umumnya ODHA mengalami berbagai komplikasi penyakit, yang membuat kebingungan para dokter. Bila positif, hal pertama yang harus dilakukan keluarga terdekat adalah melakukan pengecekan darah pada anak ODHA (terutama bila anak tsb masih berumur 1-10 tahun) serta suami ODHA.

Infeksi HIV ini terjadi pada beberapa tahap, yaitu :

  1. Tahap akut
  • Tahap ini terjadi pada beberapa minggu setelah infeksi HIV.
  • Hal yang terjadi pada tahap ini adalah demam yang terjadi secara akut, sakit kepala, lemas (malaise), limfanodenopati (pembesaran kelenjar getah bening), radang tenggorokan dan kemerahan pada kulit.
  • Kemudian gejala berkurang dan menghilang dalam beberapa minggu, kemudian penderita menjadi asimptomatik (tidak mengalami gejala).
  1. Tahap Asimptomatik (Tanpa Gejala)
  • Terjadi beberapa minggu setelah terjadinya infeksi akut.
  • Berlangsung selama periode waktu tertentu (biasanya 5-10 tahun) di mana tidak adanya gejala, namun terjadi destruksi persisten terhadap CD4+ yang mengakibatkan makin melemahnya sistem imun.
  1. Tahap Simptomatik
  • Terjadi saat kadar CD4+ telah menurun secara drastis.
  • Tahap ini ditandai dengan munculnya infeksi opportunistik, yang terjadi karena telah menurunnya sistem imun. Infeksi oportunistik yang biasanya terjadi meliputi: pneumonia pneumocystis (infeksi pada paru-paru), kandidiasis (infeksi pada rongga mulut), infeksi ini merupakan infeksi yang sering pada ODHA. Infeksi lainnya adalah toksoplasma, TBC, infeksi Cryptococcal (pada otak), Cytomegalovirus (herpes) dll.
  • Tahapan ini dibagi lagi menjadi beberapa tahap sesuai dengan jumlah CD4+.
  • Kanker juga dapat terjadi pada tahap ini, biasanya menyerang kulit, nodus limpa dan rongga perut.
  • Pada tahap infeksi HIV yang telah parah, dapat terjadi manifestasi pada syaraf, seperti dementia (pikun), gangguan psikologis dan kehilangan kontrol pada fungsi motorik (pergerakan).

Jadi, hati-hatilah jika orang di dekat anda mengalami gejala-gejala tsb. Namun, jangan khawatir! ODHA masih tetap dapat hidup normal, asalkam infeksi opportunistik tsb disembuhkan dan ODHA mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan secara teratur, untuk menghindari resistensi. Walaupun butuh pengobatan seumur hidup, obat untuk AIDS ini merupakan obat program, yakni obat yang diberikan gratis oleh pemerintah. Obat-obat HIV/AIDS adalah obat anti virus, yang dibagi menjadi golongan protease inhibitor, non-nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) dan nukleosida reverse transcriptase (NRTI) dan biasanya telah disusun menjadi fixed combination. Contohnya adalah Lamivudin/Zidovudin, FDC (Lamivudin, stavudin dan nevirapin), DDI (Didanosine), LPV-RTV (lopinavir/ritonavir), D4T (Staviral, Stavudine)3TC (Hiviral, Lamivudin), NVP (Nevirapin), EFV (Efavirenz), ZDV (Reviral), dll.

Terutama untuk keluarga ODHA harus mendapatkan edukasi mengenai HIV/AIDS, agar keluarga tidak takut akan tertular oleh ODHA. Keluarga merupakan sumber kekuatan bagi ODHA, maka jangan menghindari ODHA, karena ODHA tidak berbahaya jika kita tahu cara menanganinya.

 

 

Referensi :

Essentials of Pathophysiology for Pharmacist: Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) p. 51-58

Pharmacotherapy Pathophysiological Approach : Human Immunodeficiency Virus Infection p. 2065-2082

Ditulis oleh: Yositalida K.F- Apoteker ITB

%d bloggers like this: