Skip to content

Apoteker dan Kesehatan Indonesia

08/03/2011

Indonesia yang disebut sebagai negara berkembang, di bidang kesehatan menempati posisi 75 dari 100 negara di dunia. Sedangkan negara ASEAN lainnya berada di tingkatan yang lebih baik, yaitu Singapura di posisi 7, Malaysia dan Vietnam di posisi 52. Kemudian dilihat dari angka kematian ibu (AKI) pada tahun 2009 masih sebesar 228 per 100.000. Hal tersebut menggambarkan bahwa tingkat kesehatan masyarakat Indonesia masih rendah. Rendahnya tingkat kesehatan di Indonesia ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya anggaran kesehatan yang masih kecil yaitu sekitar 2% dari anggaran pembangunan nasional. Pembangunan dibidang terkait, seperti pendidikan dan perekonomian juga belum memuaskan. Kondisi demikian berimbas pada kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang dapat diukur dengan indeks pembangunan manusia, menempati posisi 108 dari 177 negara pada tahun 2010. Peringkat tersebut masih jauh di bawah Malaysia yang menempati posisi 57.

Upaya peningkatan bidang kesehatan sudah seharusnya menjadi tanggung jawab semua pihak terkait, tidak hanya dibebankan pada pihak regulator. Pemerintah sendiri telah mencanangkan beberapa program seperti Indonesia sehat 2010 dan MDGs (Millennium Development Goals) dalam  upaya peningkatan kesehatan. Program peningkatan kesehatan tersebut tentu tidak terlepas dari tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif (pencegahan), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif.  Tenaga kesehatan dapat dikelompokkan  sesuai dengan keahlian dan kualifikasi  yang dimiliki,  antara  lain meliputi  tenaga medis,  tenaga kefarmasian,  tenaga keperawatan,  tenaga kesehatan masyarakat  dan  lingkungan,  tenaga  gizi,  tenaga  keterapian  fisik, tenaga keteknisian medis, dan tenaga kesehatan lainnya (PP RI No.32 Th.1996 tentang Tenaga Kesehatan). Sedangkan tenaga kefarmasian adalah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang meliputi Sarjana  Farmasi, Ahli  Madya  Farmasi,  Analis  Farmasi,  dan  Tenaga Menengah Farmasi/ Asisten Apoteker (PP RI No.51 Th.2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian).

Apoteker ini merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berperan dalam pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian yang dimaksud tidak hanya seputar pengelolaan obat, melainkan mencakup pemberian  informasi  untuk  mendukung penggunaan  obat  yang  benar  dan  rasional, memantau penggunaannya pada pasien dan juga mendukung terlaksananya pola hidup sehat. Apoteker memang seharusnya juga berperan dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia, mengingat praktik kefarmasian ini mencakup pengadaan, produksi, distribusi, dan pelayanan obat.  Berkaitan dengan upaya peningkatan kesehatan oleh pemerintah, berikut kutipan artikel berjudul “Inilah Pencapain Setahun Menkes” pada Oktober 2010 :

Selain rumah sakit, tenaga pelayanan kesehatan aktif juga ditambah, seperti dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan bidan yang totalnya 32.978. Kementerian Kesehatan juga mengangkat total 14.353 orang dokter, dokter gigi, spesialis, dan bidan. Menkes mengatakan bahwa pihaknya berhasil dalam meningkatkan ketersediaan obat, alat kesehatan, serta penggunaan obat generik.

Dimana pencapaian terkait profesi apoteker? Cukup dengan peningkatan ketersediaan obat? Adanya suatu profesi tenaga kesehatan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat. Terlepas dari program yang dicanangkan pemerintah, tenaga kesehatan juga dituntut untuk berperan optimal sesuai dengan kewenangan profesinya. Akan sangat disayangkan jika suatu profesi yang telah ada dengan segala keahliannya, tidak terbedayakan semestinya. Untuk mencapai peran optimal, selain kompetensi dan komitmen dari tenaga kesehatan tersebut, juga dibutuhkan dukungan pemerintah dan pemahaman mayarakat tentang fungsi tenaga kesehatan, termasuk apoteker.

3 Comments leave one →
  1. Intan Wibawanti Masfufa permalink
    09/03/2011 7:45 am

    Deewww…bagusss….kayaknya kalo ada artikel tentang progress MDG’s bagus tuh….karena ga semua tau soal MDG”s..hehehe

  2. Dewi Nurjanah permalink*
    11/03/2011 8:06 pm

    oh iyaa tan,, nanti akan di bahas ttg MDGs.. atau intan yang mau nulis tentang MDGs, ikutan nge blog bareng..

  3. arthur permalink
    16/03/2011 11:32 am

    Pantesan daerahku g ada rumah sakit, dananya aja cuma 2% wat kesehatan
    Perusahaan2 skrg hanya mengganti uang obat untuk generik saja, bgmn nasib orang2 kecil?
    padahal generik tidak disetiap daerah lengkap, sama saja bohong,
    revolusi kesehatan ditegakkan!
    gini deh kalo bukan org kesehatan yg ngomong, http://www.gakceto.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: