Skip to content

Apa Semua Obat Maag Perlu Dikunyah?

10/03/2011

Beberapa orang  mungkin pernah mengonsumsi obat maag dan bertanya-tanya “Ini obat maag perlu dikunyah kenapa sih? Ga bisa ya langsung ditelan aja?” Pertanyaan sederhana, tapi menuntut penjelasan yang cukup serius juga, karena ini berhubungan dengan efek obatnya sendiri.

Pertanyaan lain kemudian muncul lagi “Lho obat maagmu dikunyah? Kok waktu kakakku dikasih obat maag sama dokter katanya malah harus ditelan langsung jangan dikunyah.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu memang sering muncul di komunitas. Keduanya tidak salah, memang ada obat maag yang perlu dikunyah dan ada juga yang dapat langsung ditelan (khusus untuk obat sediaan tablet dan kapsul ya). Sebelumnya kita perlu tahu dulu sedikit tentang maag dan tentunya obat-obatan apa saja yang digunakan untuk gejala tersebut.

Maag merupakan istilah dari Bahasa Belanda yang artinya lambung. Sehingga nyeri pada lambung selalu diindentikan dengan nama maag. Secara umum gejalanya adalah sakit pada daerah ulu hatinya, dapat diikuti juga dengan mual bahkan muntah, kembung, nafsu makan berkurang. Memang jika hanya diamati sekilas, sepertinya gejala ini tidak berbahaya, namun bila tidak dilakukan pengobatan yang tepat gejala ini akan bertambah parah.

Sebelum gejala ini diatasi dengan obat memang lebih baik pasien menjalani pola hidup sehat seperti pengaturan pola makan yang teratur, tidak mengonsumsi makanan pedas, asam, dan berkafein, serta menghindari rokok dan alkohol. Selain itu juga menghindari stres dan melakukan olah raga rutin. Jika memang perlu dibantu dengan obat maka ada beberapa pilihan terapi yang dapat dijalani pasien.

Seperti yang telah disebutkan di atas, obat maag sediaan tablet yang banyak dikonsumsi bebas berupa tablet kunyah, obat ini dapat dibeli tanpa resep dokter dan merupakan pilihan pertama untuk menangani gejala maag. Golongan obatnya adalah antasida, kandungannya umumnya berupa Al(OH)3dan atau Mg(OH)2 maupun kombinasi keduanya. Golongan obat ini dalam pengonsumsiannya memang harus dikunyah terlebih dahulu, hal ini untuk meningkatkan kerja obat dalam menurunkan asam lambung. Jika tidak nyaman dikunyah, maka ada antasida pilihan lainnya, yaitu antasida suspensi. Selain itu antasida juga harus dikonsumsi saat perut kosong, yaitu satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Yang perlu diperhatikan juga dalam pengonsumsian obat ini adalah adanya interaksi dengan obat lain, jadi jika sedang mengonsumsi obat lainnya sebaiknya waktu minum obat diberi jarak.

Golongan obat maag lainnya antara lain golongan antihistamin H2 (contohnya Ranitidin, Simetidin, dan Famotidin), golongan inhibitor pompa proton (contohnya Omeprazol, Lansoprazol). Kedua golongan obat ini hanya dapat dibeli dengan resep dokter. Biasanya obat-obatan ini diresepkan dokter jika antasida tidak dapat mengatasi maag. Antihistamin H2 yang banyak di pasaran adalah Ranitidin. Obat ini baik dikonsumsi setelah makan karena penyerapannya meningkat dengan makanan. Sedangkan Omeprazol dan Lansoprazol sebaiknya dikonsumsi setengah jam sebelum makan. Kedua golongan obat dalam pengonsumsiannya tidak dikunyah terlebih dahulu, berbeda dengan antasida. Inilah yang membedakan beberapa jenis obat maag.

Jadi, pasien tentunya tidak dapat memukul rata bahwa semua obat maag harus dikunyah. Kenali gejala penyakit dan kenali juga obat yang dikonsumsi untuk meredakan gejala tersebut. Jika perlu, hubungi apoteker untuk pelayanan informasi obat.

14 Comments leave one →
  1. Yustika Novianti permalink
    15/03/2011 8:55 pm

    Kebetulan membaca artikel ini,menimbulkan pertanyaan bagi saya yang setiap hari melakukan monitoring obat pasien rawat inap. Bagaimana dengan penggunaan obat PPI bersamaan dengan Sucralfate yg juga merupakan obat maag, apakah ada evidence base nya?karena saya mencari referensi sampai saat ini belum ketemu. Kemudian bagaimana pemberian informasi kepada perawat/pasien ketika kedua obat ini digunakan bersamaan? Makasih atas informasinya.

    Yustika Novianti

  2. moniqblueprint permalink
    16/03/2011 3:04 pm

    Dari referensi memang tidak banyak dibahas mengenai interaksi PPI dan sukralfat. Dilihat dari mekanisme kerja sukralfat dalam mengatasi gejala maag, sukralfat bekerja sebagai barier (pelindung) lambung, sehingga dikhawatirkan jika sukralfat dikonsumsi dengan obat lain akan mengurangi absorpsi obat lainnya yang diabsorpsi di lambung. Dari pustaka ditemukan bahwa PPI memang tidak diabsorpsi di lambung, melainkan di usus (berkaitan dengan sifat basa lemah PPI), jadi sebenarnya pengaruh interaksi dalam absorpsinya tidak terlalu signifikan.

    Tapi untuk mencegah adanya interaksi yang (mungkin) ada, ketika Sukralfat dikombinasikan dengan PPI, maka kedua obat tersebut sebaiknya dijarak dalam pengonsumsiannya. Sukralfat dikonsumsi 1 jam sebelum makan dan tidak apa-apa PPI jadi dikonsumsi 1-2 jam setelah makan.

    Pemberian informasi pada pasien/perawat yang penting untuk diberitahu antara lain:
    -sukralfat dikonsumsi saat perut kosong, maka dari itu seperti disebutkan di atas, sebaiknya dikonsumsi 1 jam sebelum makan.
    – Bila ada obat lain yang menyertainya, maka dijeda setidaknya 2 jam (waktu rata-rata pengosongan lambung), untuk pengonsumsian bersama PPI, pengonsumsian PPI yang sebaiknya 1/2 jam sebelum makan dapat dipindah menjadi 1-2 jam setelah makan.

    semoga bisa membantu, kalau ada kawan-kawan lain yang punya informasi, silahkan dishare..

  3. Donny Rahman permalink
    19/03/2011 6:48 pm

    IMO. Sampai saat ini belum ada bukti klinis bahwa penggunaan kedua obat ini secara bersama dapat meningkatkan efektiftas terapi.
    Secara mekanisme kerja, kedua obat ini berbeda dalam mengatasi Peptic ulcer. Sulcraflate bekerja dengan membentuk barier pasta aluminium pada mukosa lambung yang terluka, sedangkan PPI menghambat sekresi dari H+ dan pepsin. Persyaratan dari sucraflate untuk dapat aktif dan berikatan dengan mukosa lambung yang terluka adalah suasana asam (pH < 4) dan keberadaan pepsin. Sehingga secara logika penggunaan sucraflate secara bersamaan dengan PPI, antasid dan H-2 blocker dapat menurunkan efektifitas kerja dari sucraflate itu sendiri.
    Mungkin saran oleh saudari moniqblueprint sudah tepat untuk pemberian informasi kepada pasien. CMIIW

    • Monika Oktora permalink
      20/03/2011 2:11 pm

      sip, makasih informasinya mas donny. kalau ada informasi lainnya tentang penggunaan obat bisa sharing2 ya mas. nuhun..

  4. 30/12/2011 8:11 pm

    makasi atas informasinya

  5. calon apoteker permalink
    20/01/2012 3:46 pm

    Dari yang dijelaskan tadi ada sedikit unek-unek. Mau tanya, biasanya obat maag selain golongan antasida bisa diberikan pada gejala yang seperti apa ? soalnya diartikel hanya membahas, diberikan jika antasida tidak mengatasi maag. Hatur nuhun informasina ka Monika.

    • Monika Oktora permalink
      23/01/2012 8:48 am

      Obat maag golongan selain antasida seperti antihistamin H2 (Ranitidin, dll), dan inhibitor pompa proton/PPI (omeprazol dan lansoprazol) dalam penggolongan obatnya termasuk obat golongan Keras, yang artinya sebenarnya tidak boleh dibeli tanpa resep dokter. Tapi memang kenyataannya terkadang obat ini bisa dibeli secara bebas. Berhubungan dengan penggolongan obatnya, maka penggunaannya harus diperhatikan lebih cermat, berbeda dengan antasida yang biasa dibeli di warung atau OTC (over the counter).

      Antihistamin H2 dan PPI biasanya diindikasikan untuk gejala maag yang lebih parah (atau biasanya dikenal dengan isitilah tukak lambung), gejala pasien biasanya sudah tidak mempan lagi diobati dengan antasida. Maka dari itu dokter yang berhak meresepkan obat-obat ini. Omeprazol juga bahkan digunakan untuk tukak lambung yang diikuti dengan infeksi H.pylori.

  6. 26/10/2012 7:50 pm

    Izin Share ya😉

  7. ibnusina permalink
    31/10/2012 8:43 pm

    Tapi kenapa sih, kug ada obat yang perlu di kunyah, dan ada yang tidak?
    tujuan pengunyahan itu kan untuk mempercepat kerjanya? kenapa hanya di antasida??? apa yang lain tidak butuh cepat?

    • Monika Oktora permalink
      05/11/2012 10:18 am

      iyap betul utk meningkatkan kerjanya dalam meredakan asam lambung. kenapa hanya antasida? karena antasida ini yg bekerjanya lokal di lambung. saat antasida mencapai lambung bisa langsung bekerja. obat yang lain sperti ranitidin atau omeprazol mekanisme kerjanya berbeda lagi, bekerjanya sistemik, efek obatnya akan dirasakan setelah obat mengalami proses absorpsi-distribusi, dst😀

  8. 26/08/2014 8:33 pm

    bagaimana bila antasida di kombinasi dgn simetidin?
    apakah ada cara panggunaan yang khusus agar pio yang diberikan pada pasien dapat dengan baik?

Trackbacks

  1. Mengenal Beberapa Istilah Kerja Obat « Calon Apoteker Bercerita
  2. time capsule

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: