Skip to content

Berobat ke Luar Negeri, Haruskah?

11/03/2011

Luar negeri. Tampilan yang timbul dari barang-barang luar negeri adalah berkualitas. Itu yang terdapat pada kebanyakan mindset warga negara ini. Tidak hanya merk tas, baju, bahkan sepatu yang menjadi sasaran. Bahkan berobat ke luar negeri sudah seperti trend masa kini. Masih ingat dengan pukulan keras negeri sendiri ketika waktu itu Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih berobat ke luar negeri karena Kanker Paru. Efek yang dirasa negeri ini cukup keras. Banyak lontaran kritikan dan pertanyaan yang terlempar dari warga negara ini. Mengapa Menkes harus berobat ke luar negeri?? Ada apa dengan kualitas pelayanan kesehatan negeri ini??

Bulan Januari 2011 merupakan pukulan yang keras bagi para kritisan yang berpikir bahwa pelayanan kesehatan ini bahkan tidak dapat dipegang, tidak dapat dipercaya, bahkan oleh Menkesnya sendiri. Itulah beberapa pertanyaan mengenai Menkes yang berobat ke luar negeri.

Faktanya adalah, Negara ini kehilangan devisa sekitar 100 triliun karena banyaknya warga yang berobat ke luar negeri. Seperti yang telah di kutip dari pernyataan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan, Supriyantoro. Tinjauan itu membuktikan banyaknya warga negara Indonesia yang berobat ke luar negeri. Lantas yang menjadi pertanyaan besar adalah “mengapa”?

Biaya? Dari segi biaya seharusnya lebih murah (di Indonesia – red), karena pasien tidak perlu membayar biaya akomodasi pengobatan atau lebih tepatnya biaya hidup di luar negeri yang dituju. Tentulah yang menjadi sorotan adalah ketiadaan tenaga ahli yang diharapkan pasien, atau ketidak percayaan pasien terhadap pelayanan kesehatan di negeri ini. Faktanya, dari sekian banyak rumah sakit yang ada di negeri ini, hanya ada 4 rumah sakit yang bertaraf Internasional.

Menjadi peran penting bagi para tenaga kesehatan di negeri ini, untuk mengubah paradigma masyarakat mengenai pelayanan kesehatan di negerinya sendiri. Atau mungkin agar seluruh warga negara percaya dengan kualitas yang mereka bangun.

4 Comments leave one →
  1. 12/03/2011 5:42 am

    Dari segi biaya seharusnya lebih murah (di Indonesia – red), karena pasien tidak perlu membayar biaya akomodasi pengobatan (paragraf 4)

    tidak perlu membayar biaya akomodasi atau lebih murah dalam biaya akomodasi?

    • 12/03/2011 10:15 am

      salam mas gredinov.🙂
      sejak awal sebenarnya mindset yang coba saya paparkan adalah mengenai keharusan dan kepentingan permasalahan berobat keluar negeri. Jadi akomodasi yang saya maksud disini adalah akomodasi dalam pengobatan ke luar negeri. Seperti biaya pesawat, penginapan keluarga ybs, biaya makan, dbs.
      Jadi itu yang saya maksud.

      Terima kasih untuk kritik dan komentarnya yang membangun. Menjadi pelajaran untuk saya dalam mengolah kalimat lebih cermat lagi. Semoga pesan yang ingin sampaikan dari informasi ini tidak mendapat hambatan.🙂

      Ditunggu komentar dan kritiknya untuk info-info selanjutnya.

      Salam Sehat,
      Author.

  2. 23/03/2011 9:42 am

    woi, udah nulis nih, eh, gimana klo opik juga mau nulis?

    • wiput permalink*
      23/03/2011 12:35 pm

      boleh banget, Opik.. kamu bisa titipin tulisan ke aku, marin, citta, citra, kak mia, monik, arin, vidy, diha, dedew, atau rika..🙂
      makasih udan mampir.. rajin2 mampir yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: