Skip to content

Memori Praktikum Mikrobiologi Farmasi

26/03/2011

Bukan anak Farmasi namanya kalo nggak akrab sama laboratorium dan kegiatan berjudul praktikum. Setuju kan?

Nah, masih dalam rangka sharing pengalaman selama 4 tahun kuliah sarjana farmasi nih, kali ini saya mau berbagi sedikit cerita masa lalu alias memori tentang Praktikum Mikrobiologi Farmasi.

Praktikum Mikrobiologi Farmasi ini adalah praktikum wajib yang udah satu paket sama mata kuliah Mikrobiologi Farmasi (disingkat Mikro aja ya) di semester 3. Termasuk salah satu praktikum Farmasi pertama yang saya dapet di bangku kuliah, setelah 2 semester sebelumnya menjalani Tahap Persiapan Bersama. Tujuan dari praktikum ini antara lain untuk memberi wawasan dan keterampilan kepada mahasiswa dalam menangani mikroorganisme serta mempelajari cara-cara analisis mikrobiologi untuk produk-produk farmasi.

Sejak sebelum praktikum dimulai, saya udah ngerasa excited banget karena mau mainan sama bakteri. *lho?* Walaupun sempet takut dikit juga sih. Gimana kalo kena infeksi? Tapi untungnya kita dikasih pengarahan terlebih dahulu mengenai cara kerja yang aman di Lab Mikro, seperti contohnya mengenakan sarung tangan dan masker, serta selalu mencuci tangan dengan sabun dan cairan antiseptik saat akan memasuki lab dan saat akan meninggalkan lab.

Hal paling pertama yang saya pelajari di Lab Mikro adalah tentang cara sterilisasi alat, bahan, dan media yang akan digunakan untuk praktikum. Sterilisasi adalah suatu proses menghilangkan mikroorganisme hidup. Kenapa harus disterilisasi? Karena untuk pengerjaan ke depannya, diharapkan alat, bahan, dan media tersebut bebas kontaminasi mikroba yang berasal dari lingkungan luar. Sterilisasi dilakukan dengan metode panas lembab menggunakan autoklaf suhu 121 °C selama 15-20 menit dan metode panas kering menggunakan oven bersuhu 170 °C selama 1 jam.

Dua minggu kemudian (praktikum ini dilaksanakan dua minggu sekali) saya belajar tentang cara-cara inokulasi, isolasi, dan identifikasi bakteri. Hore! Akhirnya mainan bakteri juga!😀 Jadi, inokulasi di sini merupakan suatu proses memindahkan bakteri dari inokula (biakan mikroba) ke media biakan steril yang lain. Media standar yang digunakan biasanya adalah NA (Nutrien Agar) untuk media padat dan NB (Nutrien Broth) untuk media cair. Pada percobaan inokulasi ini kelompok saya kebagian menginokulasi bakteri berjenis Pseudomonas aeruginosa. Pada percobaan isolasi dan identifikasi, masing-masing kelompok diberi suatu biakan bakteri tanpa nama kemudian kita diharuskan menentukan spesies bakteri tersebut. Untuk mengisolasi dan mengidentifikasi spesies suatu bakteri, dibutuhkan media selektif yang dapat membedakan bakteri yang satu dengan yang lainnya. Kebetulan data pengamatan kelompok saya waktu itu sempet agak membingungkan, tapi setelah berdiskusi dan dibumbui ilmu menebak yang mumpuni *hehe* akhirnya kelompok saya memutuskan bahwa bakteri X yang kita identifikasi adalah Escherichia coli. Dan… Tadaaa… Jawabannya benar!😀

Materi berikutnya adalah mengenai Pewarnaan Gram. Nah lho, apaan nih? Pewarnaan Gram adalah suatu teknik pewarnaan pada sel bakteri untuk membedakan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Bakteri Gram positif akan berwarna ungu dengan teknik pewarnaan ini, sementara bakteri Gram negatif akan berwarna merah muda. Kenapa bisa begitu? Jadi, bakteri Gram positif dan Gram negatif dibedakan dari struktur dinding selnya. Bakteri Gram positif memiliki dinding sel yang lebih tebal yang terdiri dari peptidoglikan. Ketika diberi zat warna kristal violet, zat warna iodin, lalu dibilas dengan alkohol, alkohol akan mendehidrasi peptidoglikan dan menjadikan pori-pori dinding sel merapat sehingga kompleks kristal violet-iodin akan terperangkap di dalam dinding sel, menjadikan sel berwarna ungu. Sementara, bakteri Gram negatif memiliki dinding sel sangat tipis akan tetapi membran selnya terdiri dari dua lapisan tebal yang mengandung banyak lipid. Alkohol akan melarutkan lipid dan mendorong kompleks kristal violet-iodin keluar dari sel sehingga sel jadi tidak berwarna. Kemudian saat diberi zat warna fuchsin, sel bakteri Gram negatif akan berwarna merah muda.

Selain materi-materi di atas, masih ada lagi materi seru lainnya yaitu Uji Cemaran Mikroba, Uji Sterilitas, dan Uji Kesetaraan Antibiotik. Pada Uji Cemaran Mikroba, dihitung jumlah koloni mikroorganisme yang terdapat dalam suatu jenis perbekalan farmasi. Dari hasil pengujian ini, dapat diketahui apakah bahan perbekalan farmasi yang kita uji memenuhi persyaratan jumlah minimal mikroorganisme yang boleh terkandung di dalamnya atau tidak. Sementara dari Uji Sterilitas, dapat diketahui apakah perbekalan farmasi yang wajib steril seperti injeksi, obat tetes mata, jarum suntik, alat kontrasepsi, dan lain sebagainya, benar memenuhi persyaratan bebas dari mikroorganisme hidup atau tidak. Pada Uji Kesetaraan Antibiotik, dilakukan penetapan kesetaraan potensi atau kekuatan suatu larutan uji terhadap antibiotik jenis tertentu dalam melawan suatu mikroorganisme jenis tertentu pula. Kelompok saya waktu itu mendapatkan antibiotik baku berupa ampisilin trihidrat dan bakteri uji Sarcina lutea.

Materi terakhir yang saya pelajari di Lab Mikro merupakan materi yang pada saat itu paling susah saya mengerti. Tidak lain dan tidak bukan adalah Elektroforesis DNA dan Protein. Inti dari percobaan ini yaitu memisahkan dan mengkarakterisasi DNA dan protein dari suatu sel makhluk hidup berdasarkan bobot molekulnya. Suatu sampel DNA dan protein yang ingin diketahui bobot molekulnya, dielektroforesis bersama-sama dengan marka DNA dan protein yang telah diketahui bobot molekulnya. Kemudian perhitungan dilakukan dengan membuat kurva perbandingan antara jarak migrasi masing-masing marka dengan log bobot molekulnya menggunakan regresi linear. Persamaan kurva yang didapat lalu digunakan untuk menghitung bobot molekul DNA dan protein sampel.

Sejujurnya, dari semua praktikum yang pernah saya jalani, saya paling suka sama praktikum Mikro. Dari semua laboratorium yang ada di gedung kuliah saya, saya paling nyaman berada di Lab Mikro. Kenapa ya? Entah karena materi-materinya menarik. Entah karena berada di lantai 4 yang bisa dibilang sepi dan adem. Entah karena setelah mempelajari keberadaan mikroorganisme, saya jadi nggak pernah merasa kesepian lagi, karena saya tahu bahwa di tubuh saya ini ada banyak mikroorganisme yang ’menemani’. Hahaha.

Yang pasti, kesukaan saya ini terbukti. Dua tahun berikutnya, saya dua kali berturut-turut jadi asisten praktikum Mikrobiologi Farmasi. Selanjutnya, di tahun terakhir saya sebagai mahasiswa, saya juga memilih bidang Mikrobiologi Farmasi sebagai topik Tugas Akhir Sarjana saya. Hehe… Betapa saya doyan banget mainan sama baby-baby bacteria yaa.. :))

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: