Skip to content

Indonesia Bebas Rabies 2020?

27/03/2011

Rabies telah ditetapkan menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) di 3 daerah, yaitu Provinsi Bali, Kabupaten Nias dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat pada Februari 2011.  Sejak tahun 2008 hingga akhir 2010, kasus penularan dan angka kematian akibat rabies pada tiga wilayah tersebut meningkat cukup tinggi dibandingkan daerah lain. Sedangkan secara nasional telah terjadi  74.858 kasus gigitan hewan penular rabies, 195 diantaranya berakhir pada kematian. Berdasarkan pernyataan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, terdapat  24 provinsi yang belum bebas rabies.

 

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan penyakit rabies?

Rabies adalah salah satu penyakit  zoonosis, yaitu penyakit yang disebarkan dari hewan ke manusia, dan sebanyak 98% disebabkan oleh gigitan anjing. Penyakit yang dikenal dengan sebutan anjing gila ini merupakan penyakit infeksi akut susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies  yang dapat berakibat  fatal hingga kematian. Virus rabies berkembang biak dalam kelenjar air liur  hewan yang terserang. Masa inkubasi setelah digigit sampai timbul gejala klinis bervariasi antara  2-8 minggu tapi ada yang sampai dua tahun, di Indonesia rata-rata 2-3 bulan. Tidak semua orang yang digigit anjing rabies akan terjangkit  penyakit ini, tergantung dari parahnya gigitan dan lokasi gigitan. Virus akan merambat dari tempat gigitan lewat syaraf sumsum tulang belakang kemudian ke otak.

 

Kasus rabies di Indonesia memang telah terjadi sejak lama, dan saat ini meningkat hingga terdapat 3 daerah yang dinyatakan sebagai kejadian luar biasa. Untuk itu pemerintah merancang strategi dalam upaya mengatasi masalah rabies,  diantaranya program pengendalian penyakit rabies menuju Indonesia Bebas Rabies pada tahun 2020. Program tersebut terdiri dari tujuh poin yaitu :

  1. Koordinasi lintas sektor
  2. Pemenuhan kebutuhan vaksin
  3. Sosialisasi penyakit rabies
  4. Pengawasan intensif mobilitas hewan penular
  5. Eliminasi hewan positif rabies
  6. Pembentukan tim terpadu antar kementrian
  7. Penetapan kejadian luar biasa

 

Terlepas dari program pemerintah tersebut, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kasus rabies ini juga menjadi faktor yang sangat penting. Mengingat penyebaran utama penyakit rabies melalui anjing, yang merupakan hewan peliharaan dan mobilitasnya cukup tinggi. Bahkan salah satu kasus yang memprihatinkan adalah kematian kepala Dinas Kesehatan Nias Utara  karena  penyakit rabies pada tahun 2010. Korban terkena gigitan anjing peliharaannya pada akhir tahun 2009, dan tidak ditangani dengan tepat karena setelah gigitan hanya diberi kan obat luar. Seharusnya dapat diberikan penanganan antirabies. Kenyataan yang ironis, tetapi menjadi penegasan pentingnya pemahaman untuk menangani kasus penularan rabies. Selain sebagai hewan peliharaan anjing juga digunakan untuk berburu di daerah Sumatra Barat, kemudian di Bali anjing memiliki keterkaitan dalam tradisi,  bahkan menjadi masakan tradisional di kalangan masyarakat Minahasa.

 

Hewan yang berperan dalam penularan rabies ini memang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga Pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang penyakit rabies ini akan sangat mendukung usaha pemerintah dalam mewujudkan indonesia bebas rabies. Penyebaran tenaga kesehatan juga menjadi sorotan dalam kasus rabies ini. Mengingat pentingnya upaya pencegahan berupa penyuluhan dan penanganan segera terhadap kasus penularan rabies sangat diperlukan. Tingkat kepedulian kita semualah  yang akan menjawab, bisakah Indonesia bebas rabies 2020?

 

 

Referensi:

www.depkes.go.id (Bali Nias dan Maluku tenggara barat terjadi klb rabies)

e-bulerin veterinae (Rabies pendekatan budaya)

 

 

2 Comments leave one →
  1. gambreng permalink
    06/04/2011 10:18 am

    Dulu pernah dengar Jawa dan Sumatera menjadi target bebas rabies tahun 2000. Kalau Indonesia akan bebas rabies tahun 2020 (?) berarti untuk Sumatera mundur 20 tahun! Sementara para pejabat pembuat kebijakan sudah berganti personal. Mungkinkah akan konsisten?
    Program tertulis hanya sebatas ada di kertas dan pembicaraan para pejabat berwenang, sementara implementasi di lapangan jauh dari kenyataan. Penanggulangan rabies cukup hanya dengan melakukan vaksinasi pada hewannya. Masalah utama di lapangan adalah bagaimana cara menangkap anjing/kucing yg berkeliaran di pelihara namun tidak dirumahkan atau berkeliaran di jalanan oleh pemiliknya. Upaya paling mudah adalah membayar orang untuk menangkap anjing dan di latih sebagai vaksinator. Kenapa pemerintah bisa mengeluarkan milyaran rupiah untuk kegiatan- kegiatan , namun tidak bisa mengeluarkan dana untuk membayar orang menjadi vaksinator? Apabila di setiap desa ada vaksinator – vaksinator dan mereka diberi tanggung jawab penanggulangan rabies di desanya, pemberdayaan masyarakat desanya bisa sekaligus menekan permasalahan sosiokultur di wilayahnya yg kadang menjadi kendala, karena anjing di beberapa wilayah menjadi komoditas ekonomi warganya. Jadi harapan Indonesia bebas rabies bisa lebih cepat dari yg direncanakan. Salam.

    • Dewi Nurjanah permalink*
      21/12/2011 9:35 am

      terimakasih komennya, setuju memang dibutuhkan strategi yang lebih konkret

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: