Skip to content

Capsaicin : The Chili Insider

30/03/2011

Kalau hampir seluruh masyarakat Indonesia sempat heboh gara-gara kenaikan harga cabai yang mencekik, kini giliran anak-anak muda Bandung yang dihebohkan oleh si ‘kecil menghanyutkan’ itu. Ya, tampaknya camilan dengan bumbu pedas cabai asli memang sedang dicari di mana-mana. Entah karena para pecinta pedas sempat dikecewakan oleh industri kuliner Indonesia yang secara otomatis mengurangi porsi pedas karena harga cabai yang sempat melambung sangat tinggi itu atau hal yang lain, yang pasti rasa pedas itulah kepuasan yang mereka cari. Nah, apa sih sebenarnya yang membuat cabai terasa pedas?? Kenapa sebagian orang sakit perut setelah makan pedas sedangkan sebagian lainnya sehat-sehat saja walapun makan pedas dalam jumlah banyak…

Baiklah, kita bahas satu per satu. Rasa pedas yang ditimbulkan oleh cabai itu sebenarnya berasal dari salah satu senyawa yang dikandungnya, yaitu capsaicin. Capsaicin sebenarnya tidak hanya terkandung dalam cabai saja. Beberapa bumbu dapur yang berasa pedas lainnya juga ada yang mengandung senyawa ini, misalnya saja jahe merah. Pada cabai, capsaicin tidak terkandung dalam bijinya, melainkan pada serat-serat yang menyangga biji.

Capsaicin dapat menyebabkan rasa panas, terbakar bila terkena kulit. Ini juga dapat merangsang pengeluaran asam lambung. Pada beberapa orang pertahanan dinding lambungnya lebih sensitif dibandingkan yang lainnya, inilah sebabnya ada orang yang mampu mengonsumsi makanan yang sangat pedas dalam jumlah banyak dan ada pula yang tidak bisa makan pedas. Tapi hati-hati, ibu hamil atau yang berencana untuk hamil dan ibu menyusui sebaiknya tidak mengonsumsi makanan yang mengandung capsaicin karena berbahaya untuk janin dan bayi yang baru lahir hingga umur 2 tahun. Beberapa orang juga alergi terhadap senyawa ini.

Capsaicin dapat dimanfaatkan sebagai zat aktif (zat yang terkandung dalam obat yang dapat memberikan efek) loh dalam obat yang digunakan di kulit, istilah farmasinya untuk penggunaan topikal. Efek yang diinginkan adalah menghilangkan nyeri di otot, terapi tambahan untuk nyeri sendi karena osteoartritis dan reumatoid artritis, serta neuropati karena diabetes melitus. Obat-obatan yang mengandung capsaicin sebagai zat aktif ada dalam bentuk cream,  lotion, salep, gel, pad (yang ditempel di kulit, bentuknya hampir seperti plester atau koyo).

Sediaan obat yang mengandung capsaicin memang dapat dibeli langsung di apotek tanpa harus menggunakan resep dokter. Namun demikian bukan berarti dapat digunakan sembarangan. Tanyakan terlebih dahulu kepada apoteker di apotek bagaimana menggunakannya terutama yang berhubungan dengan dosis. Dosis yang berlebihan itu berbahaya karena sifat alami capsaicin adalah iritan (dapat mengiritasi). Dan yang perlu diingat adalah bahwa sediaan yang mengandung capsaicin tidak boleh digunakan untuk luka yang terbuka.

Referensi :

http://www.csa.com/partners/viewrecord.php?requester=gs&collection=ENV&recid=2639993 . Diakses pada tanggal 25 Maret 2011.

http://osteoarthritis.about.com/od/painrelief/a/capsaicin.htm . Diakses pada tanggal 25 Maret 2011.

4 Comments leave one →
  1. Andri Haryono permalink
    30/03/2011 2:16 pm

    baru tau ada blog ini, semangat teman!!

    eh vidya ngeblog🙂

  2. 30/03/2011 9:45 pm

    eh ko ya terkejut gitu hehe

    tengkyu ndri.. sering2 mampir ke sini ya.. ditunggu komen2nya juga😀

  3. 07/11/2016 2:35 pm

    min@tahu gak di jakarta di toko mana ada jual capsaicin bubuk atau cair.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: