Skip to content

Praktikum Meracik: Timbangan, Mortar-Alu, dan Minyak Ikan

31/03/2011

Praktikum meracik.

Apa saja sih yang saya lakukan di laboratorium ini?

Tentunya penyiapan sediaan obat mulai dari sirup, eliksir, suspensi, emulsi, krim, puyer [serbuk terbagi.red], bedak tabur, dan pil. Penyiapan yang dimaksud disini dimulai dengan menginterpretasikan resep, membuat formulasi [komposisi zat.red] obat, perhitungan dosis, pembuatan usulan perubahan dosis [jika perlu], pembuatan etiket, dan pembuatan catatan konseling.  Kalau saya ceritakan satu per satu pastinya akan sangat panjang karena itu saya pilih 3 moment ‘WOW!’ yang saya alami aja ya..

1.      Bertemu Timbangan

Timbangan, ya timbangan… alat yang digunakan untuk mengukur bobot suatu benda. Sudah umum ya kalau kita mendengar ada timbangan di laboratorium. HAHA… tapi jangan salah.. disini yang saya maksud bukanlah timbangan digital serba canggih, tetapi timbangan ini:

Tahukah kamu bahwa keberadaan timbangan seperti itu merupakan persyaratan dalam pendirian apotek?

Tahukah kamu, laboratorium meraciklah yang membuat saya menggunakan jenis timbangan itu untuk pertama kalinya.

Ya, menggunakannya untuk menimbang berbagai bahan yang digunakan dalam penyiapan sediaan obat. Saya ingat sekali modul pertama dalam praktikum meracik adalah menara [menyeimbangkan timbangan.red] dan menimbang. Modul pertama ini sangat penting karena berhubungan dengan keamanan sediaan obat! Kami harus menimbang semua bahan dengan tepat karena berhubungan dengan dosis obat dan juga keselamatan pasien.

Tahukah kamu bagaimana saya saat pertama kali menggunakan timbangan itu?

Tentunya keheranan karena ada teknik khusus untuk menyeimbangkan kedua belah lengan timbangan. Ada suatu baut di kaki timbangan ini yang harus diputar – putar dengan teori sederhana yang sampai saat ini saya pakai, “kalau lengan kiri lebih rendah, maka baut di kanan harus diputar agar posisi kanan lebih rendah, atau sebaliknya”. Akan tetapi, dalam prakteknya tak semudah itu, we need our feeling to do that, trust me!

Hari pertama saya berhadapan dengan timbangan itu, saya menghabiskan setengah jam hanya untuk menyeimbangkannya dan dilengkapi dengan keringat yang mengucur karena stres. Yeah.. That balances are awesome!

2.      Bersahabat dengan Mortar dan Alu

Membuat sediaan dalam laboratorium meracik ini dapat dikatakan penyiapan sediaan obat individual, yaitu penyiapan sediaan obat berdasarkan order/resep dokter untuk seorang pasien. Oleh karena itu, sediaan obat yang disediakan pun hanya 1 untuk setiap jenisnya dan dalam prakteknya dalam penyiapan sediaan ini saya sangat bersahabat dengan alat yang namanya mortar dan alu.

Sepanjang penyiapan sediaan obat, alat ini sangat berjasa, kecuali dalam pembuatan sirop tentunya. Ada teknik khusus juga dalam menggunakan alat ini dan saya tidak akan memberitahunya! Untuk sediaan berbentuk suspensi/emulsi berbeda dengan sediaan serbuk, dan berbeda pula saat digunakan untuk membuat pil. It’s pharmacist’s secret.. HAHA!

3.      Emulsi minyak ikan

Emulsi? Seperti yang sejak SMA telah kita pelajari, emulsi merupakan suatu sistem dispersi yang terdiri dari 2 fasa, dengan zat terdispersi cair dan zat pendispersinya pun  berbentuk cair. Untuk sediaan obat, biasanya bentuk emulsi ini digunakan untuk zat berbentuk minyak atau obat dengan kelarutan rendah. Sediaan ini dibuat untuk memperbaiki rasa obat karena pasti nggak enak kalau kita menelan minyak.

Emulsi minyak ikan…

Ya, minyak ikan merupakan salah satu sumber vitamin A dan D yang baik. Minyak ikan ini merupakan minyak berwarna kuning, kental, dan aromanya khas dan kurang sedap di hidung. Dalam penyiapannya, ketika saya mengikuti prosedur pengerjaan yang telah saya siapkan dan tiba pada tahap akhir dari penyiapan emulsi minyak ikan ini, saya mengingat pesan ibu dosen bahwa tahap akhir ini adalah tahap yang kritis. Tahap akhir ini adalah penambahan air ke dalam minyak. Saya masih ingat, bahwa penyiapan sediaan jenis ini menuntut keseimbangan kerja tangan kanan – kiri yang baik. Ketika tangan kiri siap menuangkan air ke dalam mortar, tangan kanan harus sudah siap menggerus dengan kecepatan yang konstan agar terbentuk emulsi yang baik. Apa yang terjadi setelah itu?

Saya menamakan ini sebagai salah satu moment ‘WOW’ karena baru pada saat itulah saya melihat suatu minyak berwarna kuning berubah warna jadi putih. Benar – benar putih dan terlihat enak.

Tentunya perubahan warna tersebut tidak dengan ajaibnya terjadi dan lagi – lagi saya tidak akan menceritakannya.. It’s pharmacist’s secret! HAHAA…

Ya, itulah 3 moment ‘WOW’ yang saya alami di laboratorium meracik. Ketiganya tidak pernah hilang dari ingatan saya dan ketiganya mengawali ketertarikan saya pada bidang farmasetika. Menarik sekali mempelajari sifat – sifat senyawa obat dan bagaimana cara membuatnya menjadi sediaan obat yang berkhasiat, bermutu dan pasien tetap nyaman dalam menggunakannya. J

Referensi Gambar:

Mortar dan Alu https://kleinsclasses.wikispaces.com/science_handbook_4.3

Timbangan milligram  http://www.trocadero.com/stores/waunatowerhouseinc/items/1002724/item1002724.html

Timbangan gram http://www.liveauctioneers.com/item/7700305

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: