Skip to content

Analisis dan Keamanan Pangan di Farmasi?

06/04/2011

“Mau ngambil mata kuliah pilihan apa ya semester ini?” Mata saya bergerak cepat menyusuri daftar mata kuliah pilihan yang dibuka pada semester 5 saat itu. Saat membaca Analisis dan Keamanan Pangan, mata saya terhenti sesaat, mengirim pesan ke otak, ‘nampaknya mata kuliah ini oke juga’, kata benak saya saat itu. Ya, sejak pertama ada perasaan tertarik pada mata kuliah ini. Kenapa? Karena saya ingin mencari suasana baru. Selama ini sudah cukup banyak kuliah di farmasi yang saya ikuti, dan semua pasti berhubungan dengan obat, obat, dan obat. Kali ini saya ingin mempelajari tentang sesuatu yang baru, bidang yang juga merupakan sebenarnya merupakan bagian dari farmasi, yaitu bidang pangan. Dengan alasan tersebut akhirnya saya pun memutuskan memilih mata kuliah ini. Sesimpel itu.

Pangan, makanan. Mungkin orang berpikir kenapa makanan saja harus dipelajari dalam mata kuliah khusus? Di sini saya mencoba sedikit menguraikannya. Masih ingat kasus beberapa makanan yang diketahui mengandung formalin? Formalin sendiri dapat menjadi zat yang berbahaya jika termakan. Ada juga kasus penggunaan pewarna tekstil yang digunakan pada jajanan anak-anak, dan masih banyak kasus lainnya. Walaupun tidak seketat obat, makanan pun harus diawasi dan memerlukan peraturan khusus yang mengaturnya. Makanan harus dianalisis dan diuji keamanannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang justru dapat membahayakan kesehatan kita. Dalam mata kuliah inilah dipelajari bagaimana cara menganalisis makanan dan menguji keamanan suatu produk pangan.

Makanan sendiri terdiri dari komponen nutrisi, serat, dan komponen non-nutrisi. Komponen nutrisi contohnya karbohidrat, lemak, protein, serta kandungan zat-zat khusus (vitamin, mineral, dan lain-lain). Penentuan komponen nutrisi dapat digunakan untuk penilaian dan karakterisasi suatu produk makanan seperti informasi nilai gizi yang sering kita temui pada kemasan suatu produk makanan yang berkaitan dengan jumlah asupan kalori yang dapat kita peroleh dari makanan tersebut. Sementara komponen non-nutrisi antara lain BTM (Bahan Tambahan Makanan), residu, kontaminan/cemaran (antara lain kontaminan lingkungan, kontaminan proses, dan residu antibiotika).

Menurut Permenkes 722 tahun 1988, BTM adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredient khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi (termasuk organoleptik) pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan, atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan (langsung atau tidak langsung) suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. Contoh bahan tambahan makanan adalah pewarna, perasa, pengawet, pemanis, antioksidan, dan lain-lain. Penggunaan BTM hanya diizinkan dalam kategori

pangan dan dengan jumlah tidak melebihi batasan penggunaan maksimum. Dan pada bagian inilah masalah yang paling sering kita temui. Banyak produk pangan yang menggunakan bahan tambahan yang sebenarnya tidak diperuntukkan untuk pangan dan kalaupun digunakan bahan tambahan pangan, jumlahnya sering sangat berlebihan.

Prinsip penilaian keamanan bahan tambahan makanan (BTM) didasarkan pada analisis resiko. Dalam analisis resiko dilakukan penilaian resiko yang merupakan evaluasi ilmiah terhadap efek yang telah diketahui atau berpotensi merugikan kesehatan manusia sebagai akibat paparan oleh bahaya yang terkait dengan makanan. Oleh karena itu, pada BTM dikenal parameter ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu jumlah maksimum suatu BTM dalam milligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan. Jadi, penggunaan BTM diatur agar tidak berlebihan dan membahayakan kesehatan manusia. Semua industri pangan, agar produknya bisa terdaftar dan memperoleh izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan tersebut. BPOM biasanya melakukan inspeksi berkala untuk mengambil sampel dan menguji makanan yang beredar di masyarakat.

Di samping hal-hal tersebut, banyak lagi hal lain yang saya pelajari seputar pangan dari mata kuliah ini dan menjadi pengetahuan baru bagi saya. Saya pun tidak menyesal telah mengambil mata kuliah pilihan ini. J

2 Comments leave one →
  1. 11/04/2011 9:20 pm

    Sekarang sedang digodok rancangan undang undang pengawasan obat dan makanan. Masyarakat Hukum Farmasi Indonesia pun mengikuti pertemuan di Singapura, untuk membahas masalah ini. Tau sendiri kan bagaimana kendornya pengawasan obat dan makanan selama ini di Indonesia.

  2. 09/08/2015 2:32 pm

    Maaf mb, mau tanya, pokok bahasan mata kuliah analisis dan keamanan pangan yg mb’ pelajari wkt itu, apa aja mb’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: