Skip to content

7 APRIL = HARI KESEHATAN SEDUNIA!

07/04/2011

Untuk mengawali artikel kali ini, mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu artinya kesehatan. Pertama, saya ambil definisi kesehatan secara harfiah dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu keadaan (hal) sehat atau kebaikan keadaan (badan). Sementara itu, yang kedua saya ambil dari definisi yang dijabarkan dalam Undang – Undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, tentunya untuk para praktisi dan profesional bidang kesehatan definisi ini sudah tidak asing lagi, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Lalu, mari kita bahas sejarah peringatan hari kesehatan sedunia…

Peringatan ini dimulai sejak dilaksanakannya World Health Assembly pada tahun 1950. World Health Assembly sendiri merupakan suatu badan pengambil keputusan di World Health Organization (WHO). Badan ini berfungsi diantaranya dalam menentukan kebijakan organisasi, mempertanggungjawabkan kebijakan finansial, dan menyetujui budget proposal program. Dalam setiap pelaksanaan Health Assembly selalu dibahas isu – isu kesehatan yang sedang mendunia dan isu ini dijadikan tema dalam peringatan Hari Kesehatan Sedunia.

Tahun ini, tema untuk Hari Kesehatan sedunia adalah sebagai berikut:

World Health Day 2011 web button

Ya, Combat Drug Resistance, jika dibaca lebih mendalam tentang isu ini pada web resmi WHO, isu ini diutamakan pada resistensi obat antimikroba (antibiotik, antiparasit, dan antivirus). Resistensi obat antimikroba ini merupakan suatu ketidakefektifan kerja obat  antimikroba yang disebabkan penggunaan  obat yang tidak tepat, penggunaan yang irasional, atau malah karena sudah terjadi mutasi pada mikrobanya.

Penggunaan obat yang tidak tepat salah satu contohnya adalah jika seorang pasien tidak menghabiskan obat antimikroba yang diresepkan oleh dokter, atau hanya menggunakannya hanya hingga merasa baikan. Penggunaan yang irasional salah satunya berhubungan dengan pemilihan terapi obat menggunakan antimikroba (hmm.. untuk bagian ini mungkin agak advance untuk dijelaskan). Sementara itu, yang terakhir adalah mutasi pada mikroba, hal ini bisa terjadi ketika mikroba dapat menghasilkan gen resisten antimikroba, sehingga mikroba tidak akan kalah dengan antimikroba.

Mengapa resistensi antimikroba ini merupakan isu yang mendunia?

Dari sumber yang sama (web resmi WHO), dinyatakan alasan isu resistensi antimikroba ini dipilih, 3 diantaranya adalah: 1. Resistensi antimikroba dapat menyebabkan kematian jika sudah tidak ada lagi antimikroba yang dapat mengobati infeksi mikroba yang resisten; 2. Berkurangnya efektivitas obat, menyebabkan pasien menderita infeksi dalam waktu yang lebih lama dan dapat mendukung penyebaran infeksi ini pada manusia lain; 3. Resistensi antimikroba dapat meningkatkan biaya pengobatan pasien, karena obat – obat pilihan utama sudah tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi yang dialami pasien.

Mari kita kembali pada Negara Indonesia tercinta ini. Tentunya kita juga akan mendukung kampanye Combat Drug Resistance: No action today, No cure tomorrow kan?

Di akhir artikel ini, ada beberapa tips yang ingin saya sampaikan:

  1. Jika mendapat obat antimikroba (antibiotik, antiparasit, antivirus) ketika sakit, gunakanlah hingga habis sesuai dengan aturan pakai yang disampaikan dokter dan apoteker.
  2. Tanyakan pada dokter apakah kondisi penyakit yang dialami memerlukan pengobatan dengan antimikroba, dan
  3. Sebelum membeli obat antimikroba lebih baik konsultasikan pada dokter atau apoteker, karena penggunaan antimikroba itu memiliki rentang terapi dan lama penggunaan yang berbeda – beda.

Nah, mulai sekarang mari kita mulai menjadi pasien yang kritis dalam menggunakan dan menerima pengobatan. Jangan ragu berkonsultasi kepada dokter dan jangan pula ragu untuk bertanya pada apoteker anda tentang obat yang anda dapatkan.

SALAM SEHAT UNTUK KITA SEMUA!

 

REFERENSI:

http://kamusbahasaindonesia.org/kesehatan

http://www.who.int/mediacentre/events/governance/wha/en/index.html

2 Comments leave one →
  1. roby permalink
    07/04/2012 11:09 am

    pernah kah orang apotik mengatakan obat antibiotik kepada pasien yang dirawat.dan apakah yang memberikan obat kepasien orang apotik ya.setahu saya mereka cuma duduk dibelakang tempat mengambil obat.dan tidak pernah kepasien

    • Dwi Putri Y. Y. permalink*
      07/04/2012 11:23 am

      halo Roby.. pasien yang dirawat? dirawat di rumah sakit?

      sepengalaman dan sepengetahuan saya untuk pasien yang dirawat di rumah sakit, biasanya obat diberikan oleh perawat. Apoteker berperan di instalasi farmasi rumah sakit untuk memeriksa dosis dan hal – hal yang berkaitan dengan keamanan penggunaan obat. Untuk beberapa rumah sakit sudah mulai ada juga yang apoteker-nya ikut visite (kunjungan ke ruang perawatan) pasien.

      Kalau untuk pasien yang membeli obat ke apotek, idealnya memang seorang apoteker yang menyerahkan obat kepada pasien.. tapi, di lapangan saat ini mungkin masih ada yang tidak dengan apoteker. Walaupun begitu, yang memberikan obat biasanya seorang tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) dan sudah terlatih.

      Untuk resep yang mengandung antibiotik biasanya diberikan informasi penggunaannya harus sampai habis dan sesuai aturan pakai. baik oleh apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian. *CMIIW*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: