Skip to content

Praktikum Kering di Farmasi: Konseling

08/04/2011

Kalau mendengar kata praktikum farmasi, pasti yang banyak terlintas di pikiran kita adalah praktikum di laboratorium lengkap dengan jas lab khasnya; peralatan seperti labu erlenmeyer, tabung reaksi, gelas ukur, dan lain-lain; atau bahkan hewan-hewan percobaan seperti mencit, tikus, dan katak. Tapi jangan salah, farmasi tidak selalu identik dengan hal-hal di atas, di farmasi juga bisa ditemukan praktikum kering. Istilahnya praktikum yang tidak dilakukan di laboratorium khusus dan tidak menggunakan peralatan praktikum khusus. Di tingkat akhir kuliah farmasi, saya mendapat praktikum kering ini dari mata kuliah Konseling. Praktikum ini sangat menarik karena membuat saya dan kawan-kawan dapat mempraktekan langsung ilmu farmasi klinik-farmakologi-farmakoterapi sekaligus ilmu komunikasi dan psikologi pasien, waahh.. sepaket lengkap deh pokoknya.

Untuk mahasiswa farmasi yang bergelut di dunia farmasi klinik pasti tidak asing dengan istilah konseling pasien. Di farmasi, materi kuliah konseling tidak hanya diajarkan di kelas, tetapi juga dipraktekkan ilmunya. Caranya? Mahasiswa berperan sebagai apoteker profesional dan ada orang yang berperan sebagai pasiennya, tentunya dengan kasus tertentu yang telah disediakan. Sebelum mengetahui tentang praktikum ini, kita telusuri dulu yuk konseling pasien itu apa.

Konseling pasien adalah kegiatan memberikan nasihat dan informasi secara lisan, termasuk diskusi timbal balik dan pertukaran opini  antara apoteker dan pasien mengenai terapi yang diterima pasien, termasuk pada penggunaan obat, efek samping, penyimpanan obat, serta modifikasi diet dan gaya hidup. Tujuan konseling ini untuk mengubah gaya hidup pasien, meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang dijalaninya, serta meningkatkan keberhasilan terapi.

Kenapa apoteker perlu memberikan konseling pada pasien? Sebagai apoteker kita harus memberikan pelayanan terintegrasi pada pasien, tugas kitalah untuk menjamin pelayanan yang bermutu untuk pasien. Pasien tidak hanya mengonsumsi obat tapi juga harus mengetahui dan sadar mengenai terapi yang diterimanya. Kejadian seperti reaksi obat merugikan, efek samping, interaksi obat, dan kesalahan penggunaan obat, serta ketidakpatuhan terhadap terapi dapat dicegah sebelumnya, sehingga pasien dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Nah, inilah kemudian yang mendasari adanya mata kuliah sekaligus praktikumnya. Sampai tingkat empat di farmasi, saya dan kawan-kawan sudah kenyang dengan berSKS-SKS mengenai farmakologi dan farmakoterapi, ilmu tersebut tidak lengkap tanpa adanya aplikasi nyatanya. Praktikum konseling ini dilakukan di laboratorium klinik. Tidak seperti lab lainnya, yang tampak di lab ini adalah ruangan-ruangan terpisah untuk ruang konseling, meja dan kursi, lemari obat, buku pustaka standar, dan tidak ketinggalan ada televisi, mikrofon, dan kamera perekam.

Bagaimana prakteknya? Jadi setiap minggunya ditentukan siapa praktikan yang akan berperan menjadi apoteker, dosen pun sudah membuat kasusnya. Tema tiap minggunya pun ditentukan, misalnya untuk minggu pertama obat-obatan kardiovaskular, selanjutnya obat-obatan gastrointestinal, obat-obatan system syaraf, dan seterusnya. Tema ini diberitahu seminggu sebelumnya dengan tujuan mahasiswa mempersiapkan diri dalam melaksanakan praktikum, membaca ulang mengenai teori farmakologi dan farmakoterapi yang sudah didapat. Menariknya praktikan yang ditunjuk sebagai apoteker tidak diberitahu sebelumnya, jadi semua mahasiswa harap-harap cemas menjadi ‘sang terpilih’.

Orang yang berperan sebagai pasien ditunjuk juga oleh dosen, tentunya dengan skrip yang sudah tersedia, bisa sesama praktikan juga, atau pernah sampai pegawai tata usaha pun ikut berperan sebagai orang awam betulan. Nah, sebagai apoteker yang bertugas, kita harus mengikuti alur skenario yang dijalankan pasien, pasien dapat datang untuk menebus resep, meminta informasi obat, maupun meminta dipilihkan obat bebas. Simpelnya ini seperti bermain drama konseling pasien, hehe..

Praktek ini dilakukan di ruangan terpisah berukuran 4×4 meter, dimana hanya tersedia meja dan pustaka standar. Praktikan lain melihat proses konseling yang dilakukan temannya melalui televisi yang tersambung dengan kamera video di ruangan konsultasi. Kegiatan konseling ini direkam oleh video agar menjadi bahan evaluasi dan penilaian dosen. Praktikan yang tidak kebagian peran pun tidak tinggal diam, tetapi juga harus memberikan evaluasi terhadap proses konseling yang dilakukan oleh temannya, memberikan masukan mengenai pemilihan obatnya, mengenai sikap personalnya dalam menghadapi pasien, juga mengenai skill komunikasinya. Hal ini menjadi masukan untuk bahan diskusi dan tentunya masukan bagi si pemeran apoteker. Dosen pun memandu jalannya diskusi sambil meluruskan hal-hal yang terjadi saat proses konseling.

Itulah mengapa di atas saya sebutkan kalau praktikum konseling pasien ini terintegrasi. Kadang kita memiliki banyak ilmu dan informasi di kepala kita, tetapi sulit menguraikannya kepada pasien. Padahal, apoteker harus luwes dalam hal mengkomunikasikan ilmunya pasien, bagaimana agar pasien dapat menangkap yang kita dijelaskan. Ya, praktikum ini merupakan area penempaan sebelum kita benar-benar terjun di dunia farmasi.

6 Comments leave one →
  1. 09/04/2011 4:43 pm

    wah… kedengerannya lebih mantab dengan menggunakan kamera CCTV.. boleh juga tuh..^_^

    • Monika Oktora permalink
      10/04/2011 10:59 am

      naah itu maksud saya mas anung, kamera CCTV, si kamera perekam yg dihubungkan dgn tv, hehehe.. sampai ribet gini ya saya ngejelasinnya

  2. 22/04/2011 7:22 pm

    Wah.. Mantep. Makin keren dunia farmasi. Seperti Apotek Simulasi gitu ya.
    Ditunggu tulisan selanjutnya.🙂

    • Monika Oktora permalink
      23/04/2011 1:21 pm

      yapp, kurang lebih seperti itu, hehe.. biar lebih kaya dengan aplikasi nyata dan pengalaman..
      sip, keep follow our stories yaaa..🙂

  3. 17/06/2011 8:26 pm

    sip!
    perkenalkan dunia farmasi kepada khalayak maya, hehe…

    • Monika Oktora permalink
      20/06/2011 9:24 am

      siapppp🙂
      keep reading our articles yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: