Skip to content

Serunya Praktikum Steril

15/04/2011

Praktikum steril adalah salah satu praktikum yang sangat berkesan selama saya menjalani masa perkuliahan di Farmasi. Praktikum ini cukup unik dan berbeda dari praktikum-praktikum lainnya. Apa yang membuatnya berbeda?

Dari formulasi, sebenarnya tidak ada perbedaan berarti antara produk steril dan produk non-steril. Yang membedakan adalah sterilitasnya. Produk-produk sediaan seperti injeksi, infus, obat tetes mata, obat tetes hidung, obat tetes telinga, krim dan salep untuk penggunaan pada mata atau luka terbuka haruslah steril. Kenapa? Karena sediaan-sediaan tersebut langsung berkontak dengan jaringan tubuh. Untuk mencapai kondisi steril tersebut diperlukan sterilisasi, yaitu proses penghilangan atau perusakan semua bentuk makhluk hidup.

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk membuat produk steril. Tidak hanya proses pembuatan yang harus steril, ruangan, bahan, peralatan, dan pakaian serta perlengkapan lainnya pun harus diperhatikan sterilitasnya. Dan hal ini salah satu hal yang paling bikin ribet kalau mau praktikum steril.

Wadah-wadah dan peralatan lainnya (seperti batang pengaduk, kaca arloji, spatula, pipet tetes, dan lain-lain) yang digunakan untuk membuat sediaan steril haruslah steril. Oleh karena itu, setidaknya sehari sebelum praktikum dilaksanakan, kami harus melakukan sterilisasi alat. Metode sterilisasi disesuaikan dengan karakteristik masing-masing alat, ada yang disterilisasi dengan metode panas lembab (menggunakan autoklaf), panas kering (menggunakan oven), atau dengan menggunakan etanol 70%.

Pembuatan produk steril harus dilakukan di ruangan khusus. Ada beberapa kelas ruangan di laboratorium steril yaitu kelas A (di bawah Laminar Air Flow (LAF)), kelas B (yang menjadi background kelas A), dan kelas C (seperti ruang pencampuran). Kelas A, B, dan C sering disebut dengan white area. Selain itu ada pula kelas D (grey area) yang meliputi antara lain ruang penimbangan, ruang sterilisasi akhir, dan ruang evaluasi. Kelas-kelas ruangan ini menunjukkan tingkatan kontaminasi partikel di ruangan tersebut. Ruangan steril juga dilengkapi dengan passbox yang merupakan tempat untuk transfer bahan atau alat, sementara untuk keluar masuk orang dilakukan melalui pintu yang menerapkan sistem airlock dimana ketika pintu yang satu dibuka, pintu yang lainnya tidak dapat dibuka. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi antar ruang.

Di samping itu, salah satu hal yang membedakan antara praktikum steril dengan praktikum lainnya adalah pakaian yang digunakan. Kami harus menggunakan pakaian steril, pakaian khusus yang menutupi seluruh badan kami dan terbuat dari bahan khusus (bahan yang tidak melepaskan partikel serat). Kalau boleh digambarkan, pakaian steril ini bisa dikatakan seperti pakaian seorang astronot atau pakaian ninja. Hehehe :)) Selain itu, kami juga harus menggunakan sarung tangan dan masker. Hal ini semua bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi dari praktikan. Pakaian steril ini digunakan selama praktikan berada di white area. Ketika berada di grey area, kami cukup menggunakan jaslab biasa. Proses penggantian baju pun harus dilakukan di ruangan khusus dan ketika memasuki white area, kami harus melewati blower terlebih dahulu untuk menghilangkan partikel yang mungkin menempel pada pakaian yang kita kenakan.

Proses pembuatan produk steril dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan sterilisasi awal bahan diikuti proses pembuatan secara aseptis, atau dengan cara sterilisasi akhir. Hal ini disesuaikan dan sangat tergantung dengan sifat bahan yang digunakan. Alur proses pembuatan produk dengan teknik aseptik dan sterilisasi akhir pun berbeda. Oleh karena itu diperlukan perencanaan yang matang sebelum praktikum dan kerjasama tiap anggota kelompok agar proses praktikum berjalan lancar. Karena pakaian steril hanya dapat digunakan sekali selama berada di white area, hal ini mengakibatkan orang yang telah keluar dari white area tidak mungkin dapat masuk kembali ke white area. Oleh karena itu, biasanya kami membagi tugas antara siapa saja yang bertugas di white area dan di grey area agar ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan, masalah tersebut dapat segera teratasi, misalnya jika ada alat atau bahan yang tertinggal, orang yang bertugas di grey area dapat segera menaruhnya di passbox dan diambil oleh orang yang berada di white area.

Ya, begitulah sekilas cerita tentang praktikum steril. Meskipun cukup ribet dan melelahkan dibandingkan praktikum lainnya, praktikum steril ini benar-benar seru dan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

***

 

6 Comments leave one →
  1. Fadly permalink
    17/04/2011 11:21 pm

    Heheheee..
    Jadi inget waktu ujian praktikumnya..
    Numpahin larutan zat aktif, tapi dengan PeDe nya tetap dilanjutin..
    Gak tau tuh, asistennya nyadar atau gak..
    :))

    • Rika Febriyanti permalink*
      18/04/2011 8:27 am

      makasih mas fadly sudah berkunjung ke blog kami n sharing pengalamannya..
      hehehe.. pasti tiap orang punya cerita masing2 waktu praktikum steril..
      apalagi ujian praktikumnya bisa bikin orang gemeteran setengah mati..hehe😉

  2. 20/06/2011 9:42 pm

    sippp bgt..jzklh ya…majulah apoteker indonesia

  3. okta permalink
    17/10/2011 12:28 am

    Apoteker jaya terus…

  4. 26/03/2015 10:32 am

    ada yg tau ga denah lab mikrobiologi QC farmasi???

Trackbacks

  1. Serunya Praktikum Steril | Prix-Terra.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: