Skip to content

MENGENAL BATUK (1)

17/04/2011

Mengenal Batuk (1)

oleh : Iman Surya Pratama (e-mail: imanespe@yahoo.com)

Siapa sih yang gak tahu tentang batuk? Eitts, tahu belum tentu kenal lho.. So, tak kenal maka tak sayang, demikianlah kata pepatah. Baiklah, daripada malu bertanya sesat di jalan alias gak tahu batuk nanti pengobatannya jadi IRUD (irrational using drug), seraya mengucap basmalah, dalam episode ini penulis akan mencoba menguraikan mengenai apa itu batuk dan tatalaksananya sehingga kita lebih bersahabat lagi dengannya.

Soalan 1 : Seberapa penting arti batuk buat seorang farmasis?

Sangat penting pengaruhnya ditinjau dari kerugian aspek fisik, psikologi, dan ekonomi yang dialami oleh pasien. Mungkin timbul pemikiran bahwa kerugian aspek fisik dan psikologi jelas dapat dirasakan oleh pasien namun bagaimana batuk bisa menyebabkan kerugian ekonomi? Percaya gak percaya, dari suatu penelitian disebutkan bahwa seorang WNA (disini maksudnya warga negara Amerika) tiap tahunnya menghabiskan beberapa juta hanya untuk memperoleh obat-obat batuk dan pilek. Masih di Amerika tahun 2006 diperoleh data penjualan atas produk obat batuk yang  berada di enam urutan tertinggi dari 100 obat bebas sebanyak 370 milyar US$. Di Inggris penjualan obat batuk mencapai 100 milyar  £ pada tahun 2008.

Belum lagi nanti kita akan dikagetkan bahwa banyak obat batuk yang sebenarnya bersifat plasebo. Kalaulah saja farmasis mau tahu, peduli, dan berusaha sekuat tenaga untuk mempengaruhi peresepan obat batuk yang dilakukan oleh penulis resep tentu kerugian aspek ekonomi ini dapat ditekan.

Ingat, om Hippocrates pernah berkata :

I will use treatment to benefit the sick according to my ability and judgement but never with a view to injury and wrongdoing.

Prinsip ‘primum non nocere’ dalam perkataan om Hippocrates (diabadikan dalam sumpah Kedokteran) ini dapat juga diterjemahkan bagi seorang farmasis. Farmasis sebagai pihak yang berperan pennting dalam pengobatan  tidak boleh mencederai pasien dalam berbagai aspek. Termasuk di dalamnya aspek biaya, misal pasien mengeluarkan biaya guna mendapatkan obat dimana keberadaan obat tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan. Lebih jauh lagi kondisi pasien memperoleh obat dalam kondisi yang dibutuhkan dinyatakan oleh om Cipolle sebagai permasalahan terapi obat (drug therapy problems).

Soalan 2 :  Apa sih penyakit  batuk itu?

Batuk merupakan suatu proses pengeluaran udara dalam bentuk suatu ledakan yang sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan tubuh kita guna membersihkan saluran nafas dari gangguan. Nah, jadi perlu diluruskan bahwa batuk itu bukan penyakit melainkan pertanda/gejala adanya gangguan saluran nafas sekaligus mekanisme pertahanan tubuh. Namun demikian ketika batuk dirasakan lebay dan mengganggu, kenyamanan kita akan berkurang, dan ditakutkan akan menurunkan produktivitas kerja dalam membangun bangsa dan negara (apaa sih…) sehingga membuat kita harus meredakan batuk.

Soalan 3 : Bagaimana seseorang bisa terkena batuk?

Adanya faktor pemicu batuk dapat menyebabkan timbulnya refleks batuk. Faktor pemicu itu diantaranya zat iritan (semisal asam, rokok, gas), infeksi bakteri dan virus, adanya penyakit lain (semisal asma, penyakit jantung), dan penggunaan obat ( semisal inhibitor ACE -kaptopril- ). Mengetahui faktor pemicu adalah penting bagi farmasis dalam menghilangkan penyebab –melalui pemilihan kecocokan obat– untuk meredakan batuk yang dialami pasien.

Soalan 4 : Bagaimanakah klasifikasi batuk?

Secara umum, batuk dapat dibagi berdasarkan lama (durasi) dan tanda-tanda (manifestasi klinis) batuk. Hal ini penting diketahui oleh farmasis dalam hal penetapan penyebab dan terapi apakah yang akan diberikan. Adapun pendekatan durasi biasanya digunakan oleh dokter dalam kepentingan diagnosa, sementara farmasis biasanya lebih menggunakan pendekatan manifestasi klinis karena berhubungan dengan pendekatan terapi farmakologi. Secara klinis, batuk dapat dibagi menjadi dua bagian : batuk produktif (menghasilkan dahak) dan batuk non produktif (tidak menghasilkan dahak). Pustaka lain mengklasifikasikan batuk dengan bahasa lain, dan jauh lebih mendalam, menjadi tiga bagian : batuk kering, berdahak produktif, serta berdahak dan nonproduktif. Dua bagian yang pertama sama dengan pembagian sebelumnya, adapun batuk berdahak dan nonproduktif maksudnya adalah tidak ada/ sedikit dahak yang diproduksi namun ada sensasi mampet di hidung akibat hambatan di daerah bronkus.

Soalan 5 : Apa yang perlu diperhatikan oleh seorang apoteker  ketika menghadapi pasien yang  sedang mengalami batuk?

Secara umum  ada beberapa hal yang perlu diketahui apoteker dalam penanganan pasien yang terkena batuk terkait dalam pengambilan keputusan. Pertama, apakah mampu untuk ditangani oleh apoteker sendiri ataukah harus merujuk ke dokter? Kedua, tindakan apa yang harus dilakukan apoteker mengingat keberagaman kondisi pasien? Hal-hal tersebut diantaranya adalah :

1. Umur

Umur pasien akan mempengaruhi keputusan terapi, pemilihan bentuk sediaan dan rute administrasi, dosis obat yang  digunakan, serta menentukan kemana pasien harus dirujuk.

2. Durasi

Banyak dari kejadian batuk bisa sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari baik disertai terapi ataupun tidak. Secara umum jika batuk terjadi lebih dari 2 minggu tiada perbaikan atau bertambah parah, pasien harus dirujuk ke dokter untuk investigasi lebih lanjut. Terkadang pasien ‘menyepelekan’ batuk yang terjadi padahal sudah berlangsung lama.  Sudah menjadi tugas apoteker untuk mengingatkan dan mempersuasi pasien untuk memeriksakan diri ke dokter.

Masih banyak lagi hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien dengan kondisi batuk, terkait sifat alami batuk, riwayat pasien, penggunaan obat lainnya. Namun berhubung waktu yang mendesak dan kolom yang sudah gak muat, insya Allah penulis sambung di lain kesempatan. Semoga bermanfaat.🙂

Pustaka :

Anonim., 2006., Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas, Departemen Kesehatan, Indonesia,p.15-16

Blenkinsopp,A., et al., 2009., Symptoms in the Pharmacy A Guide to The Management of Common Illness 6th Edition, Willey Blackwell, USA, p.33-43

Jonsen,A.R., et al, 2010, Clinical Ethics : A Practical Approach to Ethical Decisions in Clinical Medicine 7th Edition, The McGraw-Hill Companies,Inc., USA (e-book)

Nathan, A., 2010, Non-prescription Medicine, 4th Edition , Pharmaceutical Press, UK, p.59-70

Tietze,K.J., et.al, 2009, Handbook of Nonprescription Drugs An Interactive Approach to Self Care 7th Edition, American Pharmacists Association, USA, p.203-212

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: