Skip to content

Clinical pharmacy, What’s next??

19/04/2011

“Tidak akan ada masa depan bila (apoteker) semata-mata hanya melakukan tindakan dispensing”

(Van Mill, etc)

 

Kira-kira tujuh tahun yang lalu, Van Mill dan kawan-kawan telah memperingatkan sekaligus memprediksi bagaimana kita, sebagai seorang farmasis, untuk mempersiapkan diri dalam pekerjaan kita terutama yang berkaitan dengan farmasi klinis dan komunitas, peringatan atau mungkin lebih tepat disebut sebagai prediksi itu kemudian ditulis oleh WHO dalam penyusunan guidelines for pharmacy practice, sebuah tata aturan bagi seorang apoteker dalam berpraktek, bukan hanya bermimpi. Tata aturan yang mengatur apoteker untuk benar-benar menjalankan pekerjaannya sebagai seorang profesional kesehatan, bukan hanya untuk dilihat, direferensi atau dibaca tanpa ada aksi.

Sekiranya tidak perlu penulis jelaskan kenapa diantara beberapa kalimat dalam kutipan diatas hanya ada satu kalimat yang penulis cetak tebal, yakni “Tidak akan ada masa depan bila (apoteker) semata-mata hanya melakukan tindakan dispensing”. Karena menurut penulis, disitulah kekuatan Van Mill dalam mengapresiasi kondisi pekerjaan farmasi saat ini dan yang akan datang, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan seorang apoteker dalam bidang klinis maupun komunitas. Kemudian menjadi tugas penulis untuk memberikan “klarifikasi” sehingga tidak muncul ambiguitas dalam pemaknaan “masa depan” dalam kalimat tersebut. We’ll see..

Persepsi pertama, “masa depan” dalam hal ini tidak kemudian secara serta merta diartikan sebagai pemenuhan materi keduniaan dari seorang apoteker, melainkan definisi yang sangat mulia bagi cita-cita pengobatan klinik di masa yang akan datang, dimana pekerjaan farmasis yang sangat menentukan dalam pekerjaan terapi bagi seorang pasien. Persepsi selanjutnya, mungkin Van Mill secara implisit berusaha menegaskan bahwa dispensing bagi seorang apoteker itu sudah kuno atau dia beranggapan bahwa pekerjaan dispensing itu sudah kelewat zaman di saat seperti ini yang serba berbau digital, bahkan untuk pembacaan resep saja bisa dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer. Nah, bagaimana seharusnya masa depan pelayanan kefarmasian yang akan datang?? sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama-sama, tentu dengan pikiran yang terbuka dan hati yang jernih.

Untuk menjawab hal itu, mari kita lihat perkembangan yang terjadi dalam dunia kefarmasian di berbagai belahan dunia selama kurun satu dasawarsa ini, dimana perubahan mendasar dalam pelayanan kefarmasian yang dititikberatkan pada orientasi pasien atau biasa kita sebut patient oriented. Dimana keberhasilan terapi dan peningkatan kualitas hidup pasien menjadi tujuan utama bahkan harga mati dalam pelayanan kefarmasian, hal itu yang kemudian secara luas dikenal sebagai pharmaceutical care, bahkan di Australia dan UK mulai tahun 2007 kemarin sudah dimunculkan wacana supplementary prescribing bagi seorang farmasis, dengan bahasa awam bisa diartikan bahwa apoteker mulai boleh menulis resep walaupun untuk penyakit-penyakit yang sifatnya kronis yang butuh penanganan yang cepat dari para praktisi kesehatan dalam hal ini juga seorang apoteker. Bahkan seorang praktisi pharmacist prescribing di UK dalam jurnalnya menyebutkan bahwa dengan kemampuan farmakoterapi dari seorang apoteker, tidak dipungkiri lagi jika apoteker harus mulai diberi tanggungjawab dalam penentuan terapi bagi seorang pasien, nukan hanya sebagai pendamping prescriber (dokter) melainkan si prescriber itu sendiri. Di indonesia, juga sudah direkomendasikan adanya PMR (Patient medical record), dimana sebuah dokumen yang akan selalu memonitor kondisi pasien yang berobat di apotek-apotek kita (baca:apoteker). Dengan PMR ini, tidak hanya mampu mengikat pasien sebagai pelanggan kita, namun lebih pada optimalnya perhatian kita terhadap pasien itu sendiri, sehingga tujuan terapi bisa tercapai secara optimal pula.

Dinamisasi pelayanan itulah yang menjadikan farmasi klinis sebagai suatu bidang dalam farmasi yang akan terus berkembang dan berkembang, progresifitas yang tidak harus kita maknai sebagai sebuah langkah revolusioner namun inilah langkah nyata bagi seorang apoteker yang bertanggungjawab pada proses terapi yang diberikan pada pasien. Menurut penulis, rangkaian patient oriented, pharmaceutical care, dan prescribing pharmacist adalah sebuah jalan yang sudah disiapkan bagi seorang apoteker untuk masa depan dunia farmasi. Pernah suatu ketika penulis berdiskusi dengan salah satu fungsionaris IAI Pusat, beliau mengatakan bahwa rangkaian itu hanyalah wishful thinking dimana kita hanya boleh berharap, namun masih jauh dari jangkauan kita saat ini. Boleh dibilang, saat ini kita tidak mampu memetik mangga diatas pohon karena kondisi tubuh kita yang masih kecil, sehingga kita perlu mempersiapkan tongkat “genter” untuk membantu kita mencapai buah mangga atau kita perlu meminjam kursi tetangga sehingga tangan kita bisa meraih mangga tersebut. Pertanyaan selanjutnya adalah sampai kapan kita bisa menikmati mangga tersebut kalau kita sampai saat ini hanya memandangi mangga tersebut dari bawah, tanpa bergerak, tanpa berusaha naik atau bahkan hanya duduk dan memandangi mangga itu dari bawah sembari kita berkhayal betapa enaknya mangga itu untuk kita nikmati.

Marilah kawan, dinamisasi, progresivitas atau apapun itu kalau memang baik maka kita wajib untuk tidak boleh hanya bermimpi atau hidup hanya dengan penuh harap, melainkan harus berdiri, bergerak dan segera berpikir secara dinamis dan progresif, serta tinggalkan pemikiran-pemikiran konservatif yang dengan jargon nya “Alah..begini saja loh kita sudah lumayan kok, apakah yakin langkahlangkah itu nanti bisa berjalan optimal?” atau jargon ini “Kita perbaiki dan tambal yang lubanglubang saat ini dulu, baru kita mikir kedepan pelayanan farmasi itu harusnya bagaimana”.

Kawan, sekali lagi, masa depan adalah milik kita, masa depan adalah hasil dari apa yang kita lakukan saat ini, jika apoteker masih berpikir stagnan dalam proses yang sangat dinamis ini maka seperti yang dikatakan Van Mill, tidak akan ada masa depan bagi pekerjaan farmasis. Mari kita kumpulkan bersama, dahan, ranting, daun, atau apapun itu sehingga mangga yang ada diatas bisa kita nikmati bersama.

Salam Farmasi,

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tapi berusahalah untuk menjadi manusia yang berguna”. (Einstein)

Fuad Pribadi

Mahasiswa Apoteker Program Pelayanan Farmasi, Institut Teknologi Bandung

Lulusan Farmasi Universitas Jember, Jawa Timur

9 Comments leave one →
  1. Yulan Ari permalink
    30/04/2011 8:09 am

    mindset Farmasis kuno yang hanya mementingkan dispensing dan uang tanpa concern terhadap patient service harus segera ditinggalkan.
    Dinamisasi/modernisasi pelayanan memang harusnya sudah menjadi pola berfikir dasar bagi kita calon farmasis masa kini. seorang farmasis wajib untuk meningkatkan kemampuan diri, memperkaya pengetahuan tentang obat baru, penyakit baru, dan alternatif-altenatif terapi baru untuk melakukan pelayanan dan asuhan kefarmasian kepada pasien secara optimal.

    luar biasa mas fuad dan mbak2 mas2 yang sdg menjalani program porfesi nih…

    • Monika Oktora permalink
      30/04/2011 1:18 pm

      makasih mbak atas kunjungannya ke blog kami. setuju dengan pendapat mbak🙂, skrg kemajuan farmasi sudah mulai berkiblat pada perkembangan pharmaceutical care dan patient oriented
      smg farmasi klinik di indonesia bisa lebih maju lagi,, amiin..
      keep reading our blog yaa..🙂

      • 04/05/2011 7:43 pm

        monik, itu cowok loo.. anak unair.😀

      • Monika Oktora permalink
        13/07/2011 6:13 pm

        waahaha.. maap2 mas.. iya riin, aku kirain mbak2, >.<

  2. nabila permalink
    01/05/2011 9:23 pm

    senang rasanya ngebaca blog ini🙂 jadi tersemangati utk meningkatkan profesionalisme kita sebagai farmasis.. Jalan masih panjang utk mewujudkan clinical pharmacist.. TAPI BUKAN TIDAK MUNGKIN! ya kan🙂 tetep semangat para calon apoteker,, keep your dream alive.. mimpi ini sulit diwujudkan generasi terdahulu..tapi kita, para farmasis masa kini, pasti bisa kok ..
    Semangaat (^_^)/

  3. 13/07/2011 2:35 pm

    Semua dimulai dari kita sndiri *apoteker* yg hrs dapat menjalankan peran dengan baik dan bertanggung jawab, juga konsisten trhdp seruan kita sndiri “Patient Oriented”.

    Percayalah, kelak akan terjadi proses pembentukan karakter, tentunya ke arah yg lebih baik. Masyarakat akan lebih mengapresiasi kontribusi langsung apoteker. Dan saat itulah apoteker akan mempunyai tempat yang diperhitungkan dan mampu dengan bangga berdampingan dgn praktisi kesehatan lain.

    Inget dan tanamkan terus 8 Stars of Pharmacist, nilai-nilai yang harus kita miliki untuk bisa memberikan pelayanan dan kontribusi yang baik dalam pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat.
    *ayo sama-sama saling mengingatkan, (calon) rekan-rekan sejawat😀

  4. Fuad permalink
    14/07/2011 12:41 pm

    ‘percayalah bahwa suatu saat mimpi itu ada dihadapan kita’

  5. 14/10/2011 9:29 pm

    waah, jd pingin jd kontributor jg suatu hari nanti :))

  6. Arif permalink
    27/01/2015 11:43 pm

    Mencari apoteker kosmetik. Serius hub 081346466649

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: