Skip to content

Hipertensi jadi Batuk?

21/04/2011

Eyang tekanan darahnya tinggi, udah diperiksa ke dokter n dapet obat, sekarang malah batuk-batuk terus…

Kita semua sudah cukup mengenal, batuk itu ada yang batuk kering dan batuk berdahak. Dalam artikel kami yang sebelumnya juga sudah diceritakan definisi, kenapa itu bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya. Akan tetapi, tidak semua orang tahu bahwa ada juga lho obat yang malah bisa menyebabkan batuk sebagai efek sampingnya. Biasanya yang seperti ini adalah obat-obatan buat antihipertensi [tekanan darah tinggi.red].

Nah, di sini saya akan membahas tentang obat-obatan yang sering digunakan untuk hipertensi, yang berhubungan dengan batuk.

Ada tiga kelas obat antihipertensi yang telah terbukti berefek samping batuk berdasarkan beberapa penelitian, yaitu ACE inhibitor, antagonis beta-bloker, dan calcium channel blocker. Ketiganya menyebabkan batuk dengan mekanisme yang berbeda. Ternyata, berdasarkan penelitian-penelitian itu, ACE inhibitor-lah yang paling kuat menyebabkan batuk. ACE inhibitor merupakan obat lini pertama (pilihan pertama) dalam mengatasi hipertensi.

ACE inhibitor

Obat ini menyebabkan batuk kering yang persisten pada 5%-35% pasien yang menggunakannya. ACE inhibitor [seperti kaptopril, enalapril maleat, danlisinopril] bekerja menurunkan tekanan darah dengan memblok pembentukan angiotensin II dari angiotensin I. Angiotensin II bertanggung jawab dalam reabsorpsi cairan di ginjal. Intinya, angiotensin II mengurangi cairan tubuh yang dibuang melalui ginjal sebagai urin. Jika angiotensin II tidak terbentuk, maka cairan tubuh banyak yang keluar sebagai urin. Seperti kita tau, cairan tubuh yang keluar dari urin adalah hasil saringan darah di ginjal. Banyak elektrolit terlarut di dalamnya termasuk ion-ion natrium yang merupakan salah satu substansi yang bertanggung jawab terhadap terjadinya hipertensi. Selain itu, jika volume darah berkurang, maka beban jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh berkurang, tekanan darah kembali normal. Di lain sisi angiotensin II dapat menghancurkan bradikinin (salah satu substansi yang diproduksi tubuh secara alami). Bradikinin inilah yang menstimulasi batuk kering. Jadi, kalau angiotensin II dihambat pembentukannya, maka kadar bradikinin dalam tubuh meningkat dan terakumulasi di saluran pernafasan sehingga menyebabkan batuk kering.

Efek samping yang disebabkan oleh ACE inhibitor tidak tergantung dosis.

Antagonis beta bloker

Ada dua tipe obat jenis ini, yaitu antagonis reseptor beta-1 selektif [contohnya metoprolol, atenolol] dan antagonis non selektif reseptor beta-1/ beta-2 [contohnya carvedilol, propanolol, sotalol, timolol]. Reseptor beta-1 adanya di jantung, sedangkan reseptor beta-2 di saluran pernafasan. Sasaran yang diharapkan untuk obat-obatan antihipertensi kelas ini sebenarnya adalah reseptor beta-1 yang ada di jantung. Obat-obatan yang antagonis terhadap reseptor beta-2 dapat menyebabkan kontraksi bronkus. Namun, ternyata obat-obat antagonis beta-1 selektif yang beredar di pasaran kebanyakan memiliki afinitas tinggi juga terhadap reseptor beta-2. Artinya, baik obat-obatan antagonis beta-1 selektif maupun tidak selektif keduanya menyebabkan kontraksi bronkus. Kontraksi bronkus salah satunya ditandai dengan menyempitnya saluran pernafasan kita, sehingga berpotensi menimbulkan refleks batuk.

Biasanya dokter yang meresepkan obat ini sudah memperkirakan dosis terendah yang efektif diberikan, sehingga efek samping kontraksi bronkus diminimalkan.

 

Calcium Channel Blocker (CCB)

CCB [contohnya amlodipin] memblok pemasukan kalsium ke otot jantung dan pembuluh. Kalsium dibutuhkan untuk kontraksi otot. Jika pemasukan kalsium ke otot jantung dan pembuluh dihambat, maka jantung dan pembuluh akan sedikit rileks, tekanan darah turun. CCB diketahui paling sedikit menimbulkan batuk, resikonya hanya 1% – 6%. Tetapi belum ada penelitian yang relevan.

Sebenarnya, batuk yang disebabkan oleh obat-obatan antihipertensi seperti ini tidak perlu dicemaskan selama batuk tidak mengganggu aktivitas. Biasanya juga dokter tidak akan memberikan obat untuk mengatasi batuknya karena itu tidak perlu. Justru dengan adanya batuk setelah minum obat antihipertensi kita tau bahwa obat yang digunakan sedang bekerja. Namun bukan berarti jika batuk tidak ada setelah minum obat antihipertensi lantas disimpulkan kalau obat tidak bekerja. Ingat bahwa efek samping tidak selalu muncul pada semua orang. Tiap orang memiliki sensitivitas yang berbeda-beda. Hanya jika batuknya sangat mengganggu sebaiknya temui kembali dokter yang memberikan resep. Biasanya dokter lalu akan mengganti dengan obat jenis lain.

REFERENSI:

 http://www.medscape.com/viewarticle/739521?src=mp&spon=30

2 Comments leave one →
  1. Fadly permalink
    29/04/2011 8:44 pm

    Hmm, kalau tidak salah bukan Angiotensin II nya yang menghancurkan bradikinin tetapi Angiotensin-converting enzyme (ACE) nya..
    CMIIW
    ^-^

  2. Aulia khoerunnisa permalink
    18/09/2013 5:55 pm

    efek samping dr obat hipertensi contohnya captopril kan menyebabkan batuk kering, jadi untuk pengobatan batuk kering pada orang hipertensi itu dg obat apa???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: