Skip to content

Cerita si JAMU

22/04/2011

Suatu siang di Kantin Lurus, Kampus Gajah..

Dua mahasiswa sedang asyik menikmati makan siang sambil berbincang – bincang.

Jacob     :  Eh, tadi aku baca koran pagi, katanya Badan POM menyita jamu – jamu yang mengandung BKO.

Edward :   Ohh..iya, aku sempat baca juga tadi di berita online.

Jacob    :  BKO apaan sih maksudnya? Jelasin dong, kan kamu anak farmasi nih. Kayaknya kalo dari yang aku baca, berbahaya banget.

Edward :  BKO itu Bahan Kimia Obat. Biasanya ditambahin di jamu supaya kesannya jamunya jadi “ces pleng”, sekali minum langsung sembuh. Jadi orang – orang percaya kalau jamunya berkhasiat, padahal ditambahin pake obat.

Jacob     :  Trus, dimana bahayanya? Kan yang ditambahin obat? Sama aja dong kayak kita minum obat?

Edward : Obat yang beredar di Indonesia tentu sudah memenuhi persyaratan dan standar yang ditetapkan, sehingga aman, berkhasiat, dan berkualitas. Namun, satu hal penting lain yang harus kita ingat adalah : DOSIS. Dosis yang sesuai akan menghasilkan efek menyembuhkan. Namun, dosis yang berlebihan justru akan merugikan tubuh. Nah, dalam kasus jamu yang mengandung BKO ini, produsen jamu “nakal” tersebut menambahkan obat ke dalam jamu dalam jumlah yang “sesuka hati” alias dosisnya tidak terukur bahkan cenderung berlebih.

Jacob     :  Hah? Lalu gimana dong kalau dikonsumsi secara rutin? Kan biasanya orang minum jamu rutin?

Edward :  Nah, disitulah masalah terbesarnya. Banyak orang tidak menyadari resiko besar yang menanti, mereka terlanjur senang karena sekali minum jamu penyakitnya langsung sembuh. Padahal, obat dalam dosis berlebih yang dikonsumsi dalam jamu tersebut menimbulkan dampak serius pada ginjal, sehingga dapat menyebabkan gagal ginjal, bahkan tidak sedikit yang berujung pada kematian.

Jacob     :  Ih, serem banget sih. Kenapa gak diberantas aja sih itu produsen – produsen jamu “nakal” nya?

Edward :  Tentunya Badan POM dan lembaga pemerintah lain termasuk aparat, juga sudah melakukan program rutin untuk memberantas jamu – jamu berbahaya tersebut. Namun, hal ini tentu akan lebih maksimal jika dibantu oleh masyarakat. Karena salah satu kendala memberantas maraknya peredaran jamu – jamu yang mengandung BKO adalah karena masih banyak masyarakat kita yang kurang memiliki pengetahuan mengenai bahayanya mengonsumsi jamu tersebut, khususnya masyarakat yang tingkat ekonominya di bawah rata – rata. Mereka biasanya lebih memilih membeli jamu daripada membeli obat yang harganya mahal, apalagi kalau jamunya “ces pleng”.

Jacob      : Wah, jangan – jangan anggota keluargaku juga ada yang belum tahu mengenai hal ini ya?

Edward : Ya makanya, sebagai mahasiswa kalau kita mendapat wawasan tentang sesuatu jangan disimpen sendiri ilmunya. Tapi dibagi – bagi ke masyarakat lain, keluarga kita kan masyarakat juga. Yah, walaupun kecil, tapi setidaknya kita memberikan kontribusi buat bangsa ini.

Jacob    :  Bahasanya mahasiswa banget, “kontribusi”. Hehe. Tapi bener juga sih..  Kira – kira, ada tips lagi gak nih untuk menghindari bahaya jamu – jamu yang mengandung BKO?

Edward :  Cara mudahnya sih, kita harus paham beberapa hal – hal mendasar. Pertama, kita harus ingat bahwa tidak ada jamu yang bisa menyembuhkan penyakit dalam waktu singkat seperti sulap. Kalau kita menemukan jamu yang seperti itu, mungkin kita harus curiga, apalagi kalau bentuk sediaan jamunya mencurigakan dan tidak ada ijin edarnya. Kedua, kita juga harus curiga kalau ada jamu yang di kemasannya tertulis berbagai macam khasiat untuk menyembuhkan bermacam – macam penyakit. Apalagi kalau khasiat yang ditimbulkan bertentangan, misalnya ditulis mengobati darah tinggi, namun disebutkan juga dapat menyembuhkan darah rendah. Ketiga, jangan ragu untuk menghubungi bagian Layanan Informasi Konsumen Badan POM jika kita ingin bertanya sesuatu, bisa lewat telepon langsung, fax, email, atau kunjungi website Badan POM. Jadi kita harus selalu waspada, jangan sampai jamu yang kita konsumsi mengandung BKO, atau jamu palsu yang tidak ada ijin edarnya.

Jacob     :  Ooo..begitu..  Kalau obat – obat herbal yang iklannya ada tv itu juga masih termasuk jamu ga sih??

Edward :  Obat – obat yang terbuat dari bahan alam terbagi dalam 3 kelompok, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka. Jika dijelaskan perbedaannya berdasarkan pembuktian khasiatnya, maka akan diperoleh perbedaan sebagai berikut : Jamu, khasiatnya dibuktikan berdasarkan pengalaman secara turun temurun atau empiris. Obat Herbal Terstandar, khasiatnya sudah dibuktikan secara pra-klinis atau diuji pada hewan. Sedangkan Fitofarmaka, uji khasiatnya dilakukan secara klinis atau sudah diuji pada manusia. Cara paling gampang membedakannya secara visual adalah dengan melihat logo pada kemasannya. Kebetulan ada di slide kuliah aku nih, seperti ini lambangnya.

Jacob     : Wah, ternyata jamu banyak ceritanya juga ya. Kirain selama ini cuma digendong – gendong sama mbok jamu aja. Untung tadi nanya sama kamu ya, jadi nambah deh wawasan aku hari ini. Makasih ya!

Edward : Sama – sama. Nanti lain waktu kita cerita – cerita lagi, yang lebih menarik. Sekarang ke kelas dulu yuk, udah hampir jam masuk nih! Ntar telat lagi..

Jacob     : Oh iya sampai lupa masih ada kelas. Yuk!

17 Comments leave one →
  1. Monika Oktora permalink
    22/04/2011 8:56 am

    waa.. cittt bagus format infonya, terobosan baru dlm memberikan informasi, aku jadi kebayang kamu yg berdialog, hahaha, dikirain bakal ada garingannya, hehehe

    • 22/04/2011 9:21 am

      Tenkyu moncii..😀

      Aku kan orangnya serius Mon, ga bisa nge garing2.. hahahah. :p

  2. wiput permalink*
    22/04/2011 10:03 am

    yeaahh i’ve told you on twitter,cityca.. Like This!

  3. diha madihah permalink*
    22/04/2011 7:45 pm

    hahaha citta si bocah ajaib yang lucu. kreatif. kalo pake ilustrasi jd lebih hidup niiih.

    • 22/04/2011 10:51 pm

      Udah dikasih ilustrasi tuh Dihaa…
      Sesuai ama nama tokohnya..hohoho.😀

      • Monika Oktora permalink
        24/04/2011 8:55 am

        citt, baru nyadar nama orgnya stlh pake ilustrasi,, hooo ternyata edward sama jacob yg ntuuu.. hahaha

      • 24/04/2011 6:34 pm

        sebenernya ga bermaksud sih, tapi bingung ga tau make nama siapa, ya pake itu aja yg tiba2 muncul di kepala. ahaha..😀

  4. Mia Wismiati permalink*
    23/04/2011 8:57 am

    My favorite so faaar!! LIKE THIS. hihihi…

  5. 23/04/2011 11:48 am

    makasih teh miaaa..😀
    #jadimalu

  6. Faridilla Ainun permalink
    23/04/2011 12:37 pm

    Kak citta, blognya informatif, bagus

    • 24/04/2011 6:32 pm

      makasih Ainuunn..
      ini blog bareng2 ama temen2 yang laen juga.
      sering2 mampir yaaakk.. hehehe.😀

  7. diha madihah permalink*
    24/04/2011 10:00 am

    diiih masa momon baru nyadar karakternya. haha ampun moniii

  8. Eva permalink
    29/12/2011 7:00 am

    wah bagus bgt info nya. thanks for sharing🙂
    ohya, saya mau nanya. produk2 yang sudah mendapat izin dari badan pom itu tetap dikontrol secara berkala gak ya?

    ohya, apa ada lembaga lain yang mengawasi keamanan pangan, obat, dan kosmetik atau produk komplemen (sperti madu) selain badan pom? soalnya setau saya ada produk yang dapat standar “SNI” dan sering mendapat penghargaan, produk itupun dikelola oleh alumni2 IPB, tapi waktu saya cari di website badan pom,, nama produk tersebut tidak tercantum. mohon infonya

    terimakasih🙂

    • 07/01/2012 7:04 am

      Maaf baru sempat membalas.🙂

      Produk2 yang sudah mendapat izin edar dari Badan POM tentu tetap dikontrol secara berkala. Hal ini dilakukan untuk memastikan produk tersebut beredar di masyarakat sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan, tujuannya tentu untuk melindungi masyarakat.🙂

      Selain Badan POM, Dinas Kesehatan juga ikut berperan. Namun, lembaga utama yang memegang fungsi dan peran untuk mengawasi kemanan obat, obat, dan kosmetik serta produk komplemen tetap Badan POM.

      Jika produk2 tersebut sudah beredar di masyarakat, seharusnya sudah mengantongi izin edar dari Badan POM. Namun, bila nama produk tersebut tidak tercantum ada kemungkinan memang produk tersebut belum memiliki izin edar, atau memang informasi produk yang terdapat di Badan POM belum di-update.🙂 Selain melalui website, kita dapat mendapatkan informasi langsung dari Badan POM melalui bagian Layanan Informasi Konsumen yang dapat dihubungin baik via telpon, fax, maupun datang langsung ke Balai POM di daerah terdekat dari tempat anda tinggal.

      Semoga dapat menjawab pertanyaan ya.🙂

Trackbacks

  1. Fitofarmaka Indonesia, Apa Saja Ya? « Calon Apoteker Bercerita
  2. Apa itu Obat Bahan Alam? « Calon Apoteker Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: