Skip to content

Interaksi Obat, Berbahayakah?

28/04/2011

Ketika kita membeli obat atau menebus resep di apotik, biasanya kita akan memperoleh informasi mengenai aturan pakai obat tersebut, misalnya mengenai penggunaannya pada saat sebelum atau sesudah makan. Pernah bertanya gak, kenapa? Ternyata, obat yang kita konsumsi ini, terkadang punya “musuh” lho. Terkadang, jika bertemu dengan “musuh”-nya di dalam tubuh, dia bisa “ngambek” sehingga fungsi kerjanya menurun atau malah meberikan reaksi merugikan pada tubuh. Hubungan obat dengan senyawa lain ini biasa kita sebut “Interaksi Obat”. Namun tidak semuanya merugikan, ada juga yang menguntungkan bagi kerja obat tersebut.

Lalu, apakah interaksi obat dengan “musuh”nya berbahaya?

Interaksi obat dapat terjadi antara obat dengan obat, obat dengan makanan, atau obat dengan penyakit.

1.      Obat Versus Obat

Interaksi ini biasanya terjadi ketika seseorang mengonsumsi beberapa jenis obat dalam waktu yang bersamaan. Pada pasien yang mendapatkan resep yang terdiri dari beberapa obat, apoteker akan memberikan konseling mengenai aturan pakainya. Hal ini tentu untuk menghindari interaksi yang mungkin terdapat diantara obat-obat tersebut.

 Interaksi obat dengan obat lain dapat menyebabkan penurunan konsentrasi dari obat tersebut. Efek ini sangat merugikan bila terjadi pada antibiotik. Penurunan konsentrasi dari antibiotik yang digunakan, dapat menyebabkan terjadinya resistensi. Bagaimana dengan peningkatan konsentrasi? Pada obat-obat yang memiliki indeks terapi yang sempit  seperti Teofilin, peningkatan konsentrasi dapat menimbulkan efek toksik pada tubuh. Efek lain yang juga dapat terjadi adalah efek antagonis. Efek ini dapat terjadi jika obat-obat yang dikonsumsi memiliki efek yang berlawanan. Misalnya penggunaan obat asma pada pasien dengan penyakit jantung. Obat asma yang bekerja agonis dengan β2 memiliki efek yang berlawanan dengan obat jantung yang umumnya merupakan β-blocker. Pengaruh obat terhadap tubuh juga dapat menimbulkan interaksi jika kerja tubuh yang terpengaruh mengganggu kerja obat lain, misalnya pengaruh terhadap absorbsi, distribusi, metabolisme, atau ekskresi obat oleh tubuh. Misalnya pada obat-obat yang menghambat pengeluaran asam lambung seperti anti H2 dan inhibitor pompa proton. Penghambatan asam lambung akan meningkatkan pH lambung, sehingga terjadi penurunan absorpsi dari beberapa obat, seperti ketokonazol.

  2.      Obat Versus Makanan

Aturan pakai suatu obat mengenai penggunaannya sebelum atau sesudah makan berkaitan dengan interaksi obat tersebut dengan makanan atau absorpsi obat tersebut. Beberapa obat dapat diabsorpsi dengan baik jika dikonsumsi dalam keadaan perut kosong. Namun, ada juga yang memiliki efek sebaliknya, efektif jika digunakan bersama dengan makanan.

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar beberapa larangan dalam mengkonsumsi obat. Seperti misalnya jangan meminum obat dengan teh atau susu. Tanin yang terkandung di dalam teh diketahui dapat menghambat absorpsi zat besi. Hal ini tentu harus menjadi perhatian jika kita sedang mengonsumsi obat-obat penambah darah.

Selain itu masih terdapat beberapa senyawa yang terkandung dalam makanan yang dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman, antara lain kafein, alkohol, dan lain-lain. Kafein memiliki beberapa efek terhadap tubuh, salah satunya meningkatkan denyut jantung. Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat asma, maka akan semakin meningkatkan denyut jantung sehingga pasien merasakan denyut jantung yang berdebar-debar. Hal ini  disebabkan oleh efek samping obat-obatan agonis β2 yang juga meningkatkan denyut jantung.

Alkohol juga termasuk salah satu minuman yang memiliki banyak interaksi dengan obat. Salah satunya dengan isosorbid dinitrat yang merupakan vasodilator. Alkohol akan meningkatkan efek relaksasi pembuluh darah yang akan menyebabkan tekanan darah semakin rendah sehingga menjadi berbahaya.

Interaksi obat dengan buah sangat jarang kita dengar, tapi ternyata jeruk bali dapat berinteraksi dengan obat-obat seperti antihipertensi, antiaritmia, dan antikolesterol.

3.     Obat Versus Penyakit

Obat sejatinya memiliki fungsi untuk menyembuhkan penyakit. Namun pada orang yang memiliki beberapa penyakit, pemilihan obat harus lebih diperhatikan agar tidak terjadi interaksi. Misalnya seperti yang sudah dicontohkan, yaitu pada penderita asma dan penyakit jantung. Penggunaan obat-obat jantung atau hipertensi dapat memperparah asma jika sedang terjadi serangan. Orang-orang yang mengidap hipertensi, tekanan darah rendah, glukoma, diabetes, dan pembesaran prostat perlu memperoleh perhatian lebih, karena biasanya interaksi umum terjadi.

Nah, ternyata cukup banyak kan interaksi yang dapat timbul ketika kita mengkonsumsi obat? Oleh karena itu mulai sekarang kita harus lebih cermat lagi ketika mengonsumsi obat, agar tidak terjadi interaksi yang merugikan. Jika anda merasa kurang yakin atau ragu dengan obat-obat yang anda minum, jangan ragu untuk bertanya kepada apoteker mengenai informasi tentang obat-obat tersebut. Hal ini untuk mencegah interaksi merugikan yang dapat timbul ketika kita mengkonsumsi obat.

Ragu? Tanyalah kepada apoteker terdekat.😀

Referensi:

http://familydoctor.org/online/famdocen/home/seniors/seniors-meds/833.html

http://www.merckmanuals.com/home/sec02/ch013/ch013c.html

http://www.med.umich.edu/1libr/aha/umherb01.htm

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: