Skip to content

Antibiotik dan Resistensi

30/04/2011

Beberapa dari kita, atau bahkan mungkin semua sudah pernah mengkonsumsi antibiotik. Suatu obat yang sempat dikira adalah obat dewa, karena sifatnya yang membunuh mikroba penyebab penyakit. Kebanyakan dari pasien mengira semua penyebab sakit itu merupakan bentuk kehadiran mikroba. Bahkan ada yang berpikir bahwa virus pun dapat ditangani dengan antibiotik. Tak hanya virus, melainkan manifestasi sakit seperti demam, nyeri atau inflamasi, pusing, dan lain-lain.

Jadi, Apakah Semua Persepsi Itu Benar?  

Berikut adalah bahasan ringkas mengenai antibiotik.

Antimikroba merupakan obat pembasmi mikroba penyebab penyakit, sedangkan antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, yang dapat menghambat atau membunuh miroba lain. Secara umum, antibiotik bekerja dengan cara Bakteriostatik, yaitu menghambat pertumbuhan mikroba. Selain itu adapula kerja Bakterisid, yaitu dengan membunuh mikroba yang bersangkutan. Secara khusus, kerja mikroba terbagi menjadi enam yaitu:

  1. Bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba (misalnya, penisillin, sefalosporin, dan vankomisin).
  2. Bekerja langsung pada membran sel untuk meningkatkan permeabilitas membran dan menyebabkan kebocoran senyawa intraseluler mikroba target (misalnya, polimiksin).
  3. Mengganggu fungsi subunit ribosomal untuk menghambat sintesis protein (misalnya, kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, aminoglikosida, dan klindamisin).
  4. Mempengaruhi bakteri metabolisme asam nukleat dengan cara menghambat RNA polimerase (misalnya, rifampisin) atau topoisomerase (misalnya,kuinolon),
  5. Antimetabolites, menghambat  enzim essensial dalam metabolisme folat, dimana mikroba membutuhkan folat untuk kelangsungan hidupnya (misalnya, trimethoprim dan sulfonamid).

Apakah semua penyakit membutuhkan antibiotik? Tentu tidak. Semua penyakit yang berhubungan, atau disebabkan oleh mikroba adalah penyakit yang memerlukan terapi antibiotik. Kemudian ketika kita membeli antibiotik resep dokter, ada suatu pernyataan, entah di etiket atau informasi obat yang diberikan, yaitu diminum sampai habis. Jika ditelaah lebih lanjut, informasi tersebut berkaitan erat dengan resistensi mikroba yang bersangkutan. Apa itu Resistensi?

Secara mudahnya, resistensi dapat diartikan kebal. Mikroba yang ingin dibasmi atau dihambat pertumbuhannya menjadi kebal dengan antibiotik yang bersangkutan. Menjadi suatu pertanyaan, kenapa mikroba tersebut bisa menjadi kebal?

Sifat resistensi antibiotik pada dasarnya ditentukan oleh genom mikroba. Resistensi mikroba terhadap antibiotika dapat berupa resistensi intrinsik atau acquired resistance.  Resistensi intrinsik adalah resistensi secara natural yang dimiliki oleh suatu jenis mikroba dan biasanya ditentukan oleh gen kromosom. Contohnya adalah spesies mikroba dengan resistensi intrinsik adalah Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, acquired resistance, terjadi pada sel sebelumnya pada keadaan rentan, diikuti dengan perubahan ke genom yang ada atau melalui transfer informasi genetik antar sel. Kemudian, informasi tersebut diteruskan kepada sel anak pada saat pembelahan sel, yang menyebabkan sel berikutnya menjadi kebal berkat informasi yang diberikan pada saat pembelahan.

Secara ringkasnya, resistensi dapat dijabarkan menjadi dua, yaitu sifat mikroba dari awal sudah resisten, kemudian mikroba yang pada awalnya peka, kemudian menjadi tidak peka terhadap antibiotik yang bersangkutan. Pada kasus diminum sampai habis, kebanyakan adalah mencegah adanya mikroba yang tersisa, dalam kata lain, mikroba belum habis tuntas, penggunaan antibiotik dihentikan, menyebabkan mikroba secara alamiah memberikan informasi kepada sel anak (sel berikutnya) pada pembelahan agar memiliki pertahanan dalam menghadapi antibiotik yang hampir membuat mikroba tersebut mati.

Sikap apa yang harus diambil?

Ketika pada saat pengobatan dengan terapi antibiotik, janganlah meminum obat dengan tanggung, habiskan obat sesuai dengan aturan pakai. Hal ini tentu saja dapat menyembuhkan karena mikroba habis tuntas, dan tidak menyebabkan resistensi. Selain itu, pengobatan menjadi lebih hemat, karena tidak memerlukan tindakan penggantian antibiotik dan adjust mulanya terapi. Jika antibiotik dari awal tidak memberikan efek signifikan, atau tidak ada tanda membaik, kemungkinan dapat disebabkan oleh antibiotik yang digunakan tidak tepat sasaran, atau mikroba sudah menjadi resisten. Apabila hal tersebut terjadi, maka pasien dapat berkonsultasi pada apoteker dan dokter tedekat.

Referensi:

Goodman & Gilman’s. The Pharmacoligical Basic of Therapeutics, 8th ed. Mac Millan Publishing Company. 1990.

Brunton, L. Goodman & Gilman’s, Manual of Pharmacology and Therapeutics. The McGraw-Hill Companies. 2007.

Greenwood, D., Finch, R., Davey, P., Wilcox, M. Antimicrobial Chemotherapy, 5th ed. Oxford University Press. 2007

3 Comments leave one →
  1. chi'a permalink
    29/06/2011 6:25 pm

    bermanfaat bngts… makasih ….

Trackbacks

  1. Mengenal Beberapa Istilah Kerja Obat « Calon Apoteker Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: