Skip to content

Praktikum dengan Urin dan Darah

10/05/2011

Kalau dua minggu yang lalu saya bercerita tentang kuliah farmakokinetika, sekarang saya akan ceritakan tentang praktikumnya. Sama seperti kuliahnya, praktikum ini spesial, bagi saya setidaknya. Kenapa spesial? Inilah satu-satunya praktikum teknologi farmasi yang menggunakan ‘bagian dari tubuh kita’ sebagai objek penelitiannya, sebut saja urin atau darah.

Di salah satu praktikumnya, kami harus mengkaji karakteristik obat tertentu setelah obat diabsorpsi oleh tubuh, istilah farmasinya mengkaji profil farmakokinetika. Salah satu obat yang dikaji melalui urin pada waktu itu adalah ciprofloxacin. Ciprofloxacin termasuk antibiotik yang eliminasinya banyak dalam bentuk aslinya di urin sehingga memudahkan pengukuran konsentrasinya. Sehari sebelum praktikum dilaksanakan satu orang dari tiap kelompok diharuskan minum satu tablet ciprofloxacin dengan dosis tertentu. Dalam rentang waktu 24 jam setelah minum obat, setiap kali urinasi dia harus mengumpulkan urinnya dan mencatat waktunya (diukur dari sejak obat diminum). 24 jam sebelum dan setelah obat diminum tidak boleh mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu, seperti coklat, kopi, teh, alkohol, obat lain, dan sebagainya, yang dapat mempengaruhi konsentrasi ciprofloxacin. Banyak air putih yang diminum pun diatur. Nah, karena tiap kali dikeluarkan urin harus dikumpulkan, logis jika dianjurkan subjek sebaiknya laki-laki. Sayangnya jumlah laki-laki di jurusan dan di kelas kami terbatas (maklum farmasi.. :D), maka terpaksa ada kelompok yang subjeknya perempuan. Untuk subjek perempuan ada alat khusus untuk mengumpulkan urin. Biasanya dipakai juga untuk medical check-up.

Pada urin-urin yang sudah dikumpulkan tadi di laboratorium farmakokinetika akan diukur berapa konsentrasi ciprofloxacin setiap kali urinasi. Sebelumnya dilakukan preparasi sampel terlebih dahulu sedemikian rupa, sehingga komponen-komponen yang mengganggu dalam urin dapat dihilangkan. Setelah sampel siap, dalam volume mikro disuntikkan ke suatu alat yang disebut High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau disebut juga kromatografi cair kinerja tinggi. Alat yang dipakai disesuaikan dengan jenis obatnya. Berbeda obat dapat pula berbeda alatnya. Hasilnya berupa data yang dapat diolah menjadi nilai konsentrasi obat dalam urin, nanti selanjutnya diolah lagi menjadi parameter-parameter tertentu, seperti kecepatan obat tereliminasi dari dalam tubuh, konsentrasi maksimal dalam darah, waktu yang dibutuhkan sampai obat maksimal di dalam darah, dan lain-lain. Jika pada saat praktikum belum selesai pengukuran (selalu terjadi, karena sampel banyak sekali dari banyak juga kelompok dan harus digunakan alat yang sama) maka pengukuran bisa dilakukan di luar jam praktikum.

Sama seperti praktikum yang lainnya, tentu saja laporan harus dibuat. Pada waktu itu masing-masing orang harus membuat laporan (bukan per kelompok) dan harus ditulis tangan!  Hmm, saya ambil sisi positifnya saja, kata orang apa yang kita dapat sesuai dengan effort yang kita berikan, sometimes people have to work harder to get something more.

How the rules must be…

Bekerja dengan urin atau darah manusia tidak sama dengan bekerja dengan bahan-bahan membuat tablet, sediaan steril, dan sebagainya. Seperti yang dosen kami selalu ingatkan, “urin dan darah adalah sampel biologis. Banyak komponen ada di sana, termasuk sumber penyakit, virus, dan sebagainya yang berbahaya maupun tidak, kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya” That’s way glove is a must! Gunakan sarung tangan dan masker tiap kali bekerja dengan sampel biologis (yang berasal dari makhluk hidup). Usai praktikum, sisa sampel biologi yang tersisa dibuang di tempat khusus untuk didestruksi, tidak boleh dibuang di tempat sampah. Meja praktikum juga harus disterilkan, biasanya dengan menggunakan alkohol 70%.

Of course it has not been entirely from what we did. Too long to be told. But trust me, working in pharmacokinetics laboratorium is a fun serious-thing!🙂

5 Comments leave one →
  1. Fadly permalink
    10/05/2011 3:02 pm

    Dan saya adalah salah satu korban dari si Ciprofloxacin itu..

    Oya, alkohol yang biasa dipake untuk membersihkan meja praktikum itu biasanya yang 70%..
    Heheheheee..

    • 10/05/2011 5:46 pm

      oh iyyaaa. maksudnya mah 70, tp ngetiknya malah 75 -_-” maaf. makasih ya koreksinya🙂

      ngomong2 ini awal ya? heheh

      • Fadly permalink
        11/05/2011 1:07 pm

        Bisa dua-duanya..
        :-p

  2. Donny Rahman permalink
    14/05/2011 2:48 pm

    etuju dengan penulis, bekerja di lab farmakokinetik apalagi mendalami ilmunya merupakan “fun serious-thing”
    Oya, mengutip kata2 salah seorang profesor farmasi : FARMAKOKINETIKA DAN BIOFARMASI SEBAGAI JEMBATAN ANTARA DOKTER DAN APOTEKER
    “working in pharmacocinetic laboratorium is a fun serious-thing” hanya meralat, harusnya pharmacokinetics.
    Hidup farmasii

  3. 19/01/2012 10:17 am

    kalau memakai HPLC kan udah biasa ya. bagaimana dengan LC-MS tahukah prosedur dan trik memakainya?….
    farmasi bukan hanya soal obat namun soal profesi dan integritas sebagai profesi kesehatan yang peduli dan profesional dalam bekerja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: