Skip to content

BPOM, Polisinya Obat?

18/05/2011

Kehidupan manusia kian berkembang dari masa ke masa, terutama ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan IPTEK ini menunjang penemuan penyakit-penyakit yang sebenarnya sudah ada sejak dulu namun baru dapat di jelaskan secara ilmiah baru-baru ini, seperti penyakit degeneratif dan autoimun. Oleh karena itu, semakin banyak pula obat-obatan yang beredar baik obat sintetik maupun obat tradisional. Semakin banyaknya peredaran obat, tentu akan memenuhi kebutuhan masyarakat dalam pengobatan. Namun sisi lain yang harus diperhatikan adalah keamanan dari beragam obat yang beredar.  Konsumen obat memang berhak mendapatkan produk yang aman, bermutu, dan berkhasiat. Oleh karena itu, dibutuhkan lembaga yang mengatur dan mengawasi peredaran obat.

Di Indonesia, terdapat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang berperan dalam regulasi peredaran obat semacam polisi yang mengawasi masyarakat dalam melaksanakan aturan hokum yang berlaku. Salah satu contoh tindakan BPOM dalam regulasi obat ini adalah pembekuan peredaran obat antidiabetes, yaitu rosiglitazon (avandia, avandaryl, avandamet) pada September 2010. Pembekuan ini dilakukan karena ditemukan efek samping pada sistem kardiovaskular berupa gagal jantung.

Siapakah BPOM ini sebenarnya?

Sering mendengar istilah FDA? FDA atau Food and Drugs Administration merupakan sebuah badan yang berada di bawah Departemen Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat yang juga memiliki kewenangan dalam regulasi obat. Nah, BPOM di Indonesia juga serupa dengan FDA ini, namun secara struktural BPOM tidak berada di bawah Departemen Kesehatan, tetapi langsung bertanggungjawab kepada  presiden. Cakupan pengawasan BPOM ini meliputi produk terapeutik, narkotika, zat aditif, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, keamanan pangan dan juga produk berbahaya. Fungsi BPOM selengkapnya adalah sebagai berikut :

  • Penyusunan kebijakan, pedoman dan standarisasi

Kebijakan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh BPOM adalah berkaitan produk pangan olahan impor asal jepang pasca gempa dan tsunami yang dikhawatirkan terkontaminasi radio aktif, dapat dilihat di web BPOM :)

  • Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara Produksi yang Baik

Suatu industri farmasi memiliki kewajiban menerapkan cara pembuatan obat yang baik (CPOB), yang telah di buat oleh BPOM. Dalam pelaksanaannya, BPOM melakukan inspeksi langsung ke industri farmasi dalam jangka waktu tertentu. Penerapan CPOB ini bertujuan agar dihasilkan produk farmasi yang konsisten dan terjamin mutu, khasiat, serta  keamanannya.

  • Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar

Produk farmasi yang akan di edarkan, harus teregristrasi di BPOM dengan memenuhi kelengkapan dokumen dan serangkaian persyaratan tertentu. Evaluasi produk dan sistem registrasi ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari produk yang tidak memenuhi syarat keamanan, mutu, dan kemanfaatan.

  • Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.

BPOM juga melakukan pengujian terhadap produk-produk yang telah beredar di masyarakat dengan teknik sampling kemudian dilakukan pengujian di laboratorium. Jika terdapat permasalahan atau ketidaksesuaian suatu produk, maka BPOM memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan bagi produsen.

  • Pre-review  dan pasca-audit  iklan dan promosi produk

Promosi dan iklan produk, terutama obat memiliki aturan sesuai perundang-undangan agar tidak menyesatkan dan merugikan konsumen. Disinilah peran BPOM yang seharusnya mampu menyaring iklan-iklan obat yang berkualitas.

  • Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan
  • Komunikasi,  informasi  dan  edukasi  masyarakat  termasuk  peringatan  publik (public warning)

    

Secara umum demikianlah fungsi BPOM dalam upaya melindungi konsumen,  si polisi obat.  Selain itu BPOM juga menyediakan informasi obat dan unit Layanan Pengaduan Konsumen melalui  ulpk@pom.go.id atau 021-4263333 /021-32199000. Jika anda menemukan ketidaksesuaiakan terhadap peredaran obat, makanan, dan juga kosmetik, jangan ragu-ragu untuk segera menyampaikan keluhan anda.


4 Comments leave one →
  1. 26/07/2011 8:25 am

    Untuk yg di Bandung, kalo ada keluhan, info, atau pertanyaan, bisa langsung dtg ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Bandung di Jalan Pasteur N0 25..
    Atau bisa lgsg tlp ke bagian Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM Bandung: 022 4213152, 4266620
    Ayooo, kita bisa sama-sama jadi “polisi”-nya obat..

    *Eia ralat dikit yaa.. BPOM ituuu Badan Pengawas Obat dan Makanan🙂

    • Mia Wismiati permalink*
      12/12/2011 12:20 pm

      Terima kasih atas ralatnya yaa.🙂

      • 11/01/2012 6:38 am

        tambahin ralatnya yaa..
        Kalau di pusat BPOM = Badan Pengawas Obat dan Makanan
        Kalau di daerah BPOM = Balai Pengawasan Obat dan Makanan

Trackbacks

  1. Pharmacist: a Good Designer! « Calon Apoteker Bercerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: