Skip to content

PRAKTIKUM FARMAKOLOGI-TOKSIKOLOGI Mencitku Sayang, Mencitku Malang

23/05/2011

Sharing praktikum? Baiklah. Praktikum yang paling berkesan buat saya adalah praktikum farmakologi-toksikologi. Praktikum yang kasarnya bertujuan untuk melihat efek yang dapat dilihat dan/atau diukur dari hewan uji. Sederhana sebenarnya.🙂

Secara garis besar, pada praktikum ini yang dilakukan adalah membandingkan efek yang timbul pada hewan uji dari satu obat dengan obat lain, salah satunya dengan membuat grafik perbandingan yang diminta.

Pada bagian membandingkan, membuat grafik, dan menarik kesimpulan merupakan hal yang biasa dan bisa ditemukan pada praktikum lain. Hewan uji merupakan faktor pembeda dari praktikum ini. Pertama kalinya saya menangani hewan uji adalah pada praktikum ini. Walaupun sebenarnya pada praktikum selanjutnya seperti farmakokinetika juga memakai hewan uji seperti kelinci. Pada praktikum kali ini saya harus berhadapan dengan mencit putih, seperti tikus namun dengan ukuran yang lebih kecil.

Itu belum mencapai bagian puncaknya. Ruang praktikum menjadi agak “ramai”, sensasi wajah geli dari kawan-kawan semua saat harus menangani mencit putih tersebut menjadi kesan tersendiri dari praktikum ini. Sebenarnya kami sudah diajari cara menangani mencit putih ini pada saat akan memberikan perlakuan pada mencit putih. Selain itu, kami juga sudah mengetahui bahwa akan mendapatkan jackpot mencit putih pada praktikum ini. Tapi tetap saja, teori dan praktek itu susah berjalan seirama. Belum lagi saat memasukkan obat ke dalam tubuh mencit melalui beberapa rute, seperti: intravena, subkutan, intraperitoneal, dan per-oral. Kegiatan memasukkan obat ini merupakan tantangan yang menarik. Misalnya saja saat pemberian dengan rute intravena dan subkutan, jika terjadi kesalahan dalam pemberiannya dapat menyebabkan bengkak, yang sebenarnya bukan bengkak, melainkan munculnya benjolan cairan dari obat yang tidak masuk melalui rute yang dituju. Berbeda dengan intravena dan subkutan, rute intraperitoneal dan per-oral dapat menyebabkan kematian pada mencit jika diberikan dengan cara yang salah. Rute intraperitoneal adalah rute pemberian pada bagian perut, jika menyuntik terlalu dalam dapat menyebabkan pendarahan organ dalam dari mencit tersebut. Jika salah dalam pemberian per-oral (bukan oral), dapat menyebabkan mencit tersebut menjadi tidak bisa bernapas, karena obat yang seharusnya masuk kedalam organ pencernaan, obat tersebut malah masuk dalam organ pernapasan. Biasanya mencit putih akan mengalami kejang-kejang saat menjelang kematiannya.

Pengamatan hewan uji juga tidak kalah menarik. Lebih-lebih saat mencatat data, seperti besarnya bengkak yang menurun ketika diberikan antiinflamasi, konsistensi feses yang muncul dari mencit diare, ataupun kegelisahan mencit seperti grooming pada pemberian obat yang menekan syaraf pusat, dan banyak hal lainnya. Bagian yang paling tidak menyenangkan bagi saya adalah saat harus membunuh mencit dengan cara dislokasi leher. Membunuh mencit tidak dilakukan dengan cara anastesi berlebihan, karena membutuhkan biaya dan dapat menyebabkan kesalahan perkiraan mencit tersebut sudah mati atau belum. Cara dislokasi leher sebenarnya mudah, dengan memegang buntut mencit, menariknya ke belakang kemudian menahannya, secara bersamaan menahan leher mencit dengan pensil atau benda lain seperti pensil pada bagian lehernya. Ketika akan dibunuh, yang harus dilakukan adalah menarik buntut mencit dengan kuat ke arah belakang bersamaan dengan menekan ke depan pensil pada leher mencit. Maka, “KRAK!” seperti pada film-film action, mati deh.

Pada praktikum terakhir, yaitu praktikum toksikologi, melihat LD-50 suatu obat yang diberikan dengan dosis yang tinggi. Mudahnya dapat digambarkan seperti pembunuhan massal, atau surviving test pada mencit-mencit yang menjadi hewan uji saat itu. Praktikumnya sangat mudah, yaitu memasukkan obat dengan dosis tinggi pada mencit, melihat gejalanya sebelum mencit mati, dan menghitung berapa banyak mencit yang mati. Pengamatan dilakukan selama 24 jam. Mudah bukan?🙂

Jadi, seperti itulah gambaran kecil dari praktikum farmakologi-toksikologi versi saya. Mungkin akan ditemui berbeda pada masing-masing universitas, tapi saya yakin intinya sama. Selamat praktikum!🙂

6 Comments leave one →
  1. maya permalink
    16/09/2011 7:48 pm

    baru aja kemaren kak aku praktek koltok.. keren😀

    *farmasi pancasila

  2. kumala permalink
    05/11/2011 7:26 pm

    😦 baru mau mulai
    tp kpikiran si mencit imut itu, ksiaaaaan😦
    *farmasi wahid hasyim

  3. 06/11/2011 10:42 am

    :)) senang nih bisa saling berbagi praktikum si mencit.🙂

  4. fechlyes permalink
    03/04/2012 5:31 pm

    ceritanya menarik, gaya penulisannya juga bagus, tapi kalau boleh kasih saran, sebaiknya dilengkapi foto biar lebih menarik🙂

  5. 01/05/2012 12:01 pm

    Ambil penelitian skripsi pake’ mencit itu gampang” susah..banyak susahnya tapi seru juga apalagi treatment 2 bulan plus ngrawatnya dan pada akhirnya membedahnya cuman ngambil femur *bagian paling mnantang yg bikin 1minggu g doyan makan ayam*😀

  6. 07/06/2013 12:22 am

    beberapa waktu lalu juga praktikum farmakologi, tapi ga pakai mencit😀 LD50-nya pake larva udang (artemia salina). kasihan mencitnya dibunuh, tapi demi ilmu pengetahuan gpp deh mencit banyak pahalanya…🙂 jadi penasaran sama teman2 yang pilih elektif farmakologi yang praktikumnya pakai mencit,,hehehe… btw, blognya bagus dan ceritanya menarik.. gpp ga pake foto, tetep keren kok😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: