Skip to content

Konstipasi dan Upaya Mengatasinya

27/05/2011

Konstipasi merupakan salah satu masalah gangguan pencernaan yang mungkin sering dialami oleh masyarakat di samping diare. Konstipasi adalah gangguan buang air besar dimana periode buang air besar (BAB) kurang dari 3 kali seminggu untuk wanita dan 5 kali seminggu untuk pria, atau periode lebih dari 3 hari tanpa pergerakan usus. Konstipasi ditandai dengan berkurangnya frekuensi buang air besar, rasa tidak nyaman dan kembung pada perut, pergerakan usus yang hilang-timbul, feses dengan ukuran kecil, perasan penuh, atau kesulitan dan sakit pada saat mengeluarkan feses.

Konstipasi bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan gejala yang mengindikasikan adanya penyakit atau masalah kesehatan. Penyebab konstipasi pun bermacam-macam, antara lain:

  • Diet yang tidak sesuai

Rendahnya asupan serat dapat memicu terjadinya konstipasi karena serat dibutuhkan untuk membentuk massa di usus yang dapat mempermudah proses BAB.

  • Kebiasaan

Kebiasaan BAB yang tidak teratur ataupun terlalu sering menahan BAB ketika muncul rasa ingin BAB dapat menyebabkan refleks BAB yang normal dihambat atau diabaikan sehingga lama-kelamaan refleks ini menjadi semakin melemah dan akhirnya  menyebabkan terjadinya konstipasi.

  • Penggunaan laksatif berlebihan

Laksatif biasa digunakan untuk mengatasi konstipasi. Namun, penggunaan laksatif stimulan (seperti senna dan minyak jarak) yang berlebihan dapat menyebabkan terjadinya konstipasi. Hal ini berkaitan dengan rusaknya saraf dan otot-otot pada usus besar sehingga penggunaan laksatif stimulan biasanya dijadikan pilihan terakhir jika terapi non-stimulan tidak berhasil.

  • Penggunaan obat-obatan tertentu

Banyak obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya konstipasi, antara lain analgetik narkotik (morfin, kodein, oksikodon, hidromorfon), antidepresan (amitriptilin, imipramin), antikonvulsan (fenitoin, karbamazepin), suplemen besi, obat-obatan calcium channel blocker (diltiazem, nifedipin), dan antasida yang mengandung aluminium.

  • Gangguan hormonal

Beberapa hormon dapat mempengaruhi pergerakan usus. Contohnya saja, tingginya tingkat estrogen dan progesteron selama kehamilan dapat menyebabkan konstipasi. Selain itu, terlalu sedikitnya hormon tiroid (hipotiroid) dan terlalu banyaknya hormon paratiroid (dengan meningkatkan jumlah kalsium dalam darah) juga dapat menyebabkan konstipasi.

  • Penyakit

Kondisi penyakit tertentu yang dapat menimbulkan kostipasi antara lain obstruksi gastroduodenal akibat ulser atau kanker, irritable bowel syndrome, hemorrhoid, ulcerative proctitis, diabetes mellitus, hipotiroidism, hiperkalsemia, central nervous system tumors, stroke, penyakit Parkinson, dll.

Lalu bagaimana cara mengatasi konstipasi?

Cara paling sederhana untuk mengatasi konstipasi adalah dengan meningkatkan asupan serat. Serat adalah material dari tumbuhan yang tidak dicerna di saluran pencernaan manusia dan akan membentuk suatu massa (voluminus) di usus yang akan mempermudah proses buang air besar. Asupan serat dapat kita peroleh dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup setiap harinya. Untuk beberapa kasus tertentu, konstipasi tidak dapat ditangani dengan hanya meningkatkan asupan serat dari makanan dan memerlukan penanganan/terapi melalui pemberian obat laksatif. Beberapa kelompok laksatif yang dapat digunakan untuk menangani konstipasi antara lain:

  • Bulk forming agent

Bulk forming agent dapat menambahkan serat pada feses. Penambahan serat ini akan merangsang kontraksi alami usus untuk proses BAB. Contoh senyawa yang termasuk bulk forming agent adalah metilselulosa dan psylium.

  • Emolient laxative

Emolien merupakan surfaktan yang bekerja dengan membantu pencampuran air dan lemak yang terdapat dalam saluran cerna, meningkatkan sekresi air dan elektrolit di usus kecil dan usus besar. Emolien menghasilkan feses yang lunak dalam 1-3 hari sehingga banyak digunakan untuk mencegah konstipasi. Contoh laksan yang termasuk kelompok ini adalah natrium dokusat.

  • Lubrikan

Contoh lubrikan adalah minyak mineral. Minyak mineral merupakan laksatif yang sering digunakan dan bekerja dengan melapisi feses sehingga mudah dikeluarkan. Efek senyawa ini terhadap fungsi usus terlihat setelah 2-3 hari.

  • Laksan osmotik

Laksan osmotik mendorong sejumlah besar air ke dalam usus besar sehingga feses menjadi lunak dan mudah dikeluarkan. Laksan ini mengandung garam-garam katartika (saline cathartics) atau mengandung gula. Saline cathartics terdiri dari ion-ion yang sulit diabsorpsi seperti magnesium, sulfat, fosfat dan sitrat, yang memiliki efek osmotik dalam menahan cairan di saluran cerna. Senyawa ini dapat diberikan secara oral ataupun melalui rektal. Sementara laksan osmotik yang mengandung gula contohnya laktulosa, sorbitol, dan polietilen glikol.

  • Stimulant laxative

Stimulant laxative bekerja secara langsung merangsang dinding usus besar untuk berkontraksi dan mengeluarkan isinya. Contoh senyawa yang termasuk stimulant laxative adalah senna, kaskara (minyak jarak), bisakodil, dan fenolftalein. Stimulant laxative ini sangat efektif namun dapat menimbulkan efek samping berupa diare berat yang mengakibatkan dehidrasi dan hilangnya banyak elektrolit (terutama kalium). Laksan jenis ini juga lebih sering menyebabkan terjadinya kram usus dibandingkan jenis laksan lainnya. Selain itu, penggunaan berlebih juga dapat merusak saraf dan otot-otot pada usus besar dan memperburuk konstipasi sehingga sebaiknya dijadikan pilihan terapi terakhir jika penggunaan laksan jenis lainnya tidak berhasil mengatasi konstipasi.

Nah, sekarang sudah tahu bagaimana cara mengatasi konstipasi? Jika Anda butuh penjelasan lebih lanjut mengenai konstipasi dan terapinya, jangan ragu untuk menghubungi apoteker Anda!

REFERENSI:

Sukandar, E.Y., R. Andrajati, J.I Sigit, I.K. Adnyana, A.P. Setiadi, dan Kusnandar. 2009. ISO FARMAKOTERAPI. Jakarta: PT ISFI Penerbitan, hal 372-377.

Mutschler, Ernst. Terjemahan Mathilda B. Widianto dan Anna Setiadi Rianti. 1991. Dinamika Obat. Edisi kelima. Bandung: Penerbit ITB, hal 537-542.

http://www.medicinenet.com/constipation/article.htm  diakses tanggal 21 Mei 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: