Skip to content

Bebas Asap Rokok, Mimpi Utopiskah?

31/05/2011

(dalam rangka memperingati ‘World No Tobacco Day’, 31 Mei 2011)

Kita tidak perlu lagi bicara tentang bahaya rokok, seberapa banyak zat kimia yang terkandung dalam satu batang rokok, dan bagaimana efeknya bagi kesehatan tubuh kita, semua sudah gamblang, dan saya yakin para perokok itupun juga sudah tahu tentang informasi tersebut, namun yang perlu kita bicarakan disini adalah bagaimana mimpi untuk bebas dari asap rokok tersebut bukan hanya menjadi mimpi utopis masyarakat yang menginginkan udara bersih dan sehat bebas dari asap rokok. Tapi sebuah mimpi yang pada saatnya nanti bisa kita gapai bersama. Mari kita ‘kuliti’ satu per satu…

Tiap tahun kita memperingati World No Tobacco Day, tiap tanggal itupun sebagian dari masyarakat Indonesia turun jalan, aksi damai, sampai berteriak – teriak tentang bahaya rokok sekaligus mendesak pemerintah untuk lebih serius dan mau menggunakan hatinya untuk memperhatikan permasalahan terkait tembakau dan rokok. Namun, aksi tetaplah aksi, teriak tetaplah teriak, rokok pun masih merajalela dan mengancam di setiap sendi kesehatan masyarakat Indonesia, ironisnya pemerintah seperti mati kutu menghadapi kapitalisme tembakau yang makin merajalela, saya katakan merajalela,

Pertama, karena makin hari pertumbuhan iklan rokok makin merajalela, menurut data terakhir, untuk iklannya per bulan saja di sekitar bundaran Hotel Indonesia mencapai satu milyar rupiah. Belum pajak per harinya yang tak tentu. Bisa 30.000 rupiah atau lebih. Dan, iklan rokok di Indonesia boleh dibilang banyak dimana-mana dan cukup mentereng.

Kedua, iklan yang bertubi-tubi dengan stigma yang jauh dari bahaya rokok tersebut menghasilkan tingkat konsumsi masyarakat yang luar biasa, Menurut data yang ada saat ini konsumsi orang Indonesia untuk membeli rokok mencapai sekitar 100 triliun rupiah per tahun. Sungguh, suatu jumlah yang cuikup fantastis. Lebih–lebih lagi, seperti yang tertulis di detikhealth, Arief Rahman, praktisi pendidikan dari Perguruan Diponegoro, menyatakan, 70 persen dari perokok itu adalah orang miskin. Adiksi yang diakibatkan oleh rokok membuat orang tidak dapat berhenti merokok. “Ini memperburuk situasi orang miskin karena sebagian besar penghasilannya untuk membeli rokok,” kata Abdillah Ahsan dari Lembaga Demografi FEUI. Sungguh sangat ironis bukan ?

Rokok, saat ini menjadi materi yang sangat unik, sudah diketahui banyak bahayanya namun disisi lain kehadirannya sangat dibutuhkan oleh pemerintah, tidak perlu kita pungkiri, bea-cukainya yang mencapai sekitar 22, 3 triliun untuk tahun ini -malah diperhitungkan atau barangkali diharapkan mencapai 26 triliun bagi yang berkepentingan di tahun mendatang- menjadi pemasukan yang instan bagi pemerintah, ironisnya kementrian kesehatan dalam kampanyenya terkait bahaya rokok justru menggunakan biaya dari cukai rokok ini, seperti yang disampaikan Komisi VII DPR, diharapkan cukai rokok ini dapat dimanfaatkan untuk mendanai kampanye Indonesia sehat. Jadi, 50% dari cukai rokok itu akan dialokasikan untuk kesehatan, dan hal itu tentu saja termasuk untuk kepentingan kampanye larangan rokok.

Rokok tidak bisa dilepaskan dari tembakau, dan tembakau juga tidak terlepas dari nasib petani dan kelangsungan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dipabrik rokok, dengan menutup pabrik rokok, maka PHK massal memang benar-benar akan terjadi, sangat tidak kita inginkan memang. Secara kasat mata, memang realistis, tapi kawan mari kita kihat sejenak,

Pertama, data dari Departemen Pertanian menunjukkan bahwa jumlah petani tembakau tahun 2004 adalah 686.000 petani, sekitar 1,6 persen dari jumlah tenaga kerja di sektor ini atau 0,7 persen jumlah tenaga kerja di Indonesia. Jadi gertakan dari beberapa pihak yang mengatakan bahwa ada 22 juta petani tembakau di Indonesia itu belum tentu sepenuhnya benar.

Kedua, nilai tawar dari petani di Indonesia terhadap perusahaan rokok masih sangat minim, hal ini dikarenakan kualitas tembakau ditetapkan oleh grader (pengumpul yang menilai kualitas tembakau), tanpa sepengetahuan petani, tanpa standar kriteria yang digunakan, sementara harga tetap ditentukan oleh tengkulak atau pembeli. “Dengan sistem kemitraan, posisi tawar petani menjadi lebih rendah. Meski ada jaminan pembelian, tetapi harga jual tidak berubah walaupun harga pasar naik,” kata Dr Widyastuti Soerojo dari Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) di Jakarta.

Ketiga, mari kita lihat upah yang didapat dari para petani tembakau, Data Statistik Upah 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa upah petani tembakau per hari sebesar Rp 3.637 adalah terendah di antara enam komoditas pertanian (tebu, kelapa sawit, teh, kopi, tembakau, dan cokelat) dan merupakan separuh rata-rata upah petani tebu sebesar Rp 6.677 per hari. Belum lagi, Studi yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebut tiga penghasil utama tembakau (Bojonegoro, Kendal, dan Lombok Timur) baru-baru ini menemukan bahwa upah rata-rata buruh tani per bulan adalah Rp 413.000 atau 47 persen dari upah rata-rata nasional. Nah, bahkan dengan tumbuh pesatnya rokok seperti saat ini, bahkan petani pun masih ‘megap-megap’ dalam hal ekonomi, jadi bahwa pendapat tentang ditutupnya perusahaan rokok akan sangat berdampak besar bagi para petani, ternyata tidak demikian adanya, tidak terlalu besar mengingat para petani hanya menanam tembakau 4 bulan selama satu tahun, dan itupun hasil upah yang didapat dari sektor tembakau tidak terlalu signifikan.

Permasalahan selanjutnya adalah besarnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan untuk penanganan bahaya rokok tersebut. Sangat mencengangkan ketika kita tahu bahwa ternyata dari 1 bungkus rokok saja biaya kesehatan rata-rata dunia mencapai Rp 1-2 juta, padahal seorang perokok bisa menghabiskan berbungkus-bungkus rokok dalam sehari. Hal ini dilakukan oleh peneliti yang melakukan penelitian di spanyol, dimana harga rokok rata-rata di banyak negara yang sudah melakukan ratifikasi tembakau adalah sekitar US$ 4-7 atau (sekitar Rp 38.000-66.000). Tentu hal ini tidak bisa kemudian kita konversikan dengan kondisi Indonesia dimana harga satu bungkus rata-rata hanya dibawah US$ 1 dan satu catatan lagi sampai saat ini kita belum juga melakukan ratifikasi tembakau seperti yang sering dan hampir setiap saat diteriakkan oleh masyarakat anti tembakau di Indonesia.

Upaya Pemikiran

Ada beberapa solusi yang coba ditawarkan penulis,

Pertama, permasalahan ini tidak mungkin tidak untuk melibatkan pemerintah, karena mereka yang memang kendali eksekusi bagaimana policy tentang rokok ini dijalankan, seperti yang sering diungkapkan Mahfud MD, bahwa untuk menjadikan bangsa ini besar, dibutuhkan kepemimpinan yang desesif, kepemimpinan yang tidak harus menunggu semua pihak merasa senang dan puas dengan setiap kebijakan yang dibuat, tapi kepemimpinan yang selalu menitikberatkan kebenaran dalam setiap keputusan yang dibuat. Tentu kita tidak bisa menunggu 200-an juta orang di negeri ini senang dengan keputusan kita, tapi apa yang menurut kita benar, maka jalankan keputusan itu, siapapun yang menghalangi kita lindas, itulah kepemimpinan desesif.

Kedua, menjalin hubungan yang sinergis dan saling menguntungkan antara pihak perusahaan rokok dan petani tembakau, bukan hanya menempatkan petani tembakau sebagai ‘tameng’ ketika terjadi permasalahan regulasi tentang rokok, tapi membangun hubungan yang saling menguntungkan, dimana perusahaan juga membuka lahan baru bagi petani untuk menanam tambakau, perusahaan tidak hanya bertindak sebagai tengkulak tapi mendukung petani dalam pertanian dan bisnis tembakau, sehingga nilai tawar kualitas tembakau dari petani bisa lebih ditingkatkan sesuai dengan standart kualitas perusahaan rokok.

Ketiga, dan mungkin ini yang paling penting, pemerintah segera meratifikasi Kerangka Kerja Konvensi Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control. Hal ini penting karena hasil tembakau sudah tidak terkendali, peredarannya sudah sampai pada tangan anak–anak dibawah umur, iklan–iklan rokok yang makin menegaskan ketidaksesuaian antara yang disampaikan dengan realita yang ada tentang bahaya rokok. Hal ini pada nantinya akan menaikkan beban cukai rokok secara bertahap, sehingga harga rokok menjadi lebih tinggi dan ini akan membuat masyarakat makin sulit untuk menjangkaunya.

Penulis yakin, mimpi itu ada selama kita masih mau menggenggamnya.

There’s a will, there’s a way.

Fuad Pribadi

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: