Skip to content

Praktikum Fitokimia : Alam itu Kaya!

04/06/2011

Kuliah di farmasi tidak akan jauh-jauh dari praktikum di laboratorium. Lab-ing! Beberapa teori yang sudah didapat di kuliah akan diaplikasikan di laboratorium. Dari sekian banyak praktikum yang dilakukan, fitokimia menjadi salah satu yang berkesan bagi penulis. Kenapa? Seingat penulis, praktikum ini cukup menghabiskan waktu dan prosedurnya cukup banyak. Tapi menarik, karena praktikum ini berkutat dengan tanaman obat. You will praise HIS nature even more. 

Secara umum, dalam praktikum ini, mahasiswa yang dibagi ke dalam beberapa kelompok ditugaskan untuk mengisolasi suatu zat aktif yang terkandung di tanaman obat. Di dalam berjuta-juta jenis tanaman yang ada di alam kita, ternyata banyak terkandung zat-zat yang dapat berkhasiat menjadi obat. Hebat ya?! Sampai obat-obatan pun disediakan oleh alam milik-Nya ini.

Untuk mengisolasi zat dari tanaman obat, dilakukan beberapa tahapan proses. Mulai dari penyiapan bahan/ tanaman, ekstraksi, pemisahan, sampai pengujian/ identifikasi.

Pada tahap penyiapan bahan, tanaman yang sudah dikumpulkan akan disortir  basah, untuk kemudian dicuci dan dikeringkan. Pengeringan ini bertujuan agar simplisia (tanaman yang telah dikeringkan) lebih awet dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama.

Dalam satu tanaman, kandungan zatnya tidak hanya satu. See? Tanaman alam ini sangat kaya! Karena kandungannya yang lebih dari satu, maka untuk mengisolasi salah satu zat nya, harus dilakukan pemisahan terlebih dahulu. Pemisahan dilakukan untuk mengambil zat yang akan diisolasi dengan memisahkan zat tersebut dari zat yang lain. Metode dengan ekstraksi merupakan salah satu metode pemisahan.

Oleh karenanya, setelah bahan dikumpulkan dan disiapkan, kemudian dilakukan proses ekstraksi. Di dalam kehidupan sehari-hari, proses ekstraksi ini juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dalam kehidupan kesehariannya. Misalnya pada saat merebus suatu tanaman obat atau bahkan pada saat menyeduh teh dari daun teh yang sudah kering. Dengan menggunakan air panas, beberapa zat yang terkandung di teh (misalnya tanin, kafein) dapat terambil ke bagian airnya dan terpisahkan dari zat lain yang tidak bisa diambil oleh air. Bedanya, di laboratorium tidak menggunakan cangkir, apalagi langsung diminum. Hehehe… Selain itu, pelarut yang digunakan bukan hanya air panas, banyak pelarut-pelarut jenis lain yang bisa digunakan. Beberapa pelarut ini sifatnya toksik (racun). Metode ekstraksinya pun bermacam-macam. Beberapa jenis metode pemisahan antara lain : maserasi, perkolasi, dan ekstraksi. Hasil dari proses ekstraksi ini adalah suatu ekstrak. Diharapkan dalam ekstrak ini terkandung zat yang diinginkan tadi. Praktikum yang dilakukan di laboratorium fitokimia, khususnya pada tahap ekstraksi/ pemisahan, pada beberapa kasus cukup memakan waktu. Praktikan pun bekerja dengan banyak bahan toksik, jadi pada saat pengerjaannya harus hati-hati dan fokus. Praktikan harus menggunakan perlengkapan untuk perlindungan diri, seperti sarung tangan, masker, kacamata laboratorium, dll.  We are the geeks in a lab suit. 😀

Kemudian tentu saja harus bisa dibuktikan apakah ekstrak yang didapat itu mengandung zat yang diinginkan atau tidak. Oleh karenanya, setelah didapatkan ekstrak, dilakukanlah pengujian/ identifikasi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengujian dapat dilakukan dengan beberapa metode, tergantung dari sifat dan karakter ekstrak dan zat yang akan diisolasinya.

Setelah semua proses yang bertahap dan panjang tersebut,tiap kelompok praktikan kemudian mempresentasikan hasilnya dan dilakukan diskusi terbuka dengan kelompok praktikan yang lain. Pemilihan metode, teknik pelaksanaan, akan sangat mempengaruhi hasilnya. Tidak semuanya berhasil loh. Ada saja praktikan yang memble karena zat yang diinginkan ternyata tidak terdapat di ekstrak tanamannya. Hehe..

Menarik sekali, membayangkan dari tanaman yang disediakan secara cuma-cuma oleh alam-Nya ini ternyata banyak yang mengandung zat-zat yang berkhasiat.

Yap, betapa alam ini sangat kaya! Hebatnya lagi bukan hanya sekedar kaya, tapi juga dermawan.😀

One Comment leave one →
  1. Fadly permalink
    06/06/2011 8:56 pm

    Yang paling saya ingat itu, ketika disuruh nyari komposisi suatu penampak bercak yang “tidak lazim” dan tidak ditemukan di pustaka manapun yang saya baca (termasuk internet), trus iseng-iseng nanya seorang dosen. Eeh, ternyata dosenny juga pake penampak bercak yang sama pada disertasinya. Dan sang dosen pun mengeluarkan buku saktinya. Satu hal yang pasti, bukan buku berbahasa Inggris, tetapi bahasa Prancis Bro..!! Udah puyeng duluan sebelum membacanya. Dan akhirnya dosen yang baik hati itu menerjemahkannya. Dan satu hal lagi, dosennya juga bilang “jangan tanya saya ya tentang bagaimana mekanisme reaksinya, saya juga belum tahu”. Heh???:-/ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: