Skip to content

Sayuran Eropa sebabkan Infeksi, Bagaimana Nasib Impor Sayuran ke Indonesia?

14/06/2011

Sekitar pertengahan bulan Mei  2011, negara Eropa di hebohkan dengan wabah penyakit infeksi Escherichia coli  (E. Coli). Wabah ini mulai terjadi di Jerman dengan temuan  520 kasus haemolytic uraemic syndrome (HUS) yang mengakibatkan 11 kematian,  kemudian  1.213 kasus enterohaemorrhagic Escherichia coli (EHEC), dengan 6 diantaranya meninggal. Sehingga sampai saat ini, di Jerman terdapat 1.733 kasus dan 17 kematian.

Berdasarkan keterangan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementrian Kesehatan RI, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa selain di Jerman terdapat 11 negara lain yang juga menemukan kasus serupa yaitu Austria, Czech Republic, Denmark, Prancis, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swedia, Switzerland, Inggris dan Amerika Serikat. Dari data WHO Eropa, menyebutkan terdapat 3255 kasus HUS dan EHEC, dengan 35 kasus kematian di Eropa dan Amerika.

Wabah berbahaya yang telah mengakibatkan kematian ini diduga berasal dari sayuran mentah yang dikonsumsi masyarakat Eropa. Oleh karena itu, sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan dalam impor sayuran dan buah-buahan dari negara eropa. Seperti tindakan pemerintah Rusia yang melarang warganya untuk mengimpor sayuran mentah dari negara Uni Eropa. Kemudian Uni Emirat Arab juga melakukan larangan impor dari negara Spanyol, Jerman, Denmark, dan Belanda.

Menanggapi masalah wabah infeksi, peneliti gabungan Cina dan jerman melakukan upaya penelusuran terhadap galur bakteri pemicu infeksi mematikan tersebut.  Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa wabah tersebut disebabkan oleh bakteri E.coli galur baru yang sangat menular dan berbahaya.

Bagaimana dengan pemerintah Indonesia?

Pihak yang bertanggungjawab dalam pengawasan makanan segar, yaitu sayur dan buah-buahan, adalah Kementrian Pertanian. Selaku  wakil Mentri Pertanian,  Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, dalam jumpa pers pada Jumat, 10 Juni 2011 di Gedung Kementrian Kesehatan memberikan beberapa pernyataan terkait kasus sayuran impor yang  meresahkan masyarakat.  Beliau menyatakan, bahwa dalam rangka antisipasi, telah dibentuk Badan Karantina yang dilengkapi peralatan untuk pengujian sayuran mentah, termasuk uji keberadaan E.coli. Kemudian, jika kasus menjadi semakin serius, akan dilaksanakan dedicated port, yaitu impor hanya dapat dilakukan di  pelabuhan tertentu. Selain itu, wakil Mentri pertanian ini juga menyatakan bahwa,  selama tahun 2011, Indonesia belum pernah mengimpor tauge, timun dan selada segar dari eropa yang diduga sebagai faktor resiko penyebab terjadinya penyakit tersebut.

Dari Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementrian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, menyatakan bahwa impor dari Eropa ini akan ditangani dengan cermat dan dilakukan pengawasan khusus. Menurut Mentri perdagangan, Impor dari  Eropa utamanya berasal dari Inggris, Belanda, serta Prancis, sedangkan impor dari  Jerman paling sedikit. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan,  Tjandra Yoga Aditama menyatakan, bakteri E Coli belum menginfeksi manusia di Asia. Menurut Tjandra Yoga, bakteri ini baru menular di Amerika Serikat dan 15 negara Eropa.

Sedangkan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), selaku pengawas pangan olahan menjamin tidak ada satupun produk olahan yang sudah diambil sampelnya mengandung E.coli. Berdasarkan keterangan ketua BPOM, jumlah pangan olahan yang terdaftar di Badan POM adalah 44 ribu item, 30 di antaranya produk impor, dan tidak lebih dari 5%  produk pangan olahan berasal dari Eropa. Sementara itu, Kementrian Kesehatan Republik, Endang Rahayu Sedyaningsih mengimbau pada masyarakat agar waspada terhadap penyakit akibat bakteri E. Coli.  Kementrian Kesehatan memastikan buah dan sayur impor dari Eropa ke Indonesia masih terbebas dari bakteri E. Coli.

Pemerintah Indonesia, memang tidak melakukan tindakan pelarangan impor sayuran dari Eropa, dan hanya melakukan tindakan memperketat pengawasan impor untuk melindungi konsumen di indonesia. Masyarakat juga harus lebih waspada dalam mengonsumsi dan mengolah sayuran segar, karena bakteri E.Coli  biasanya menular lewat buah dan sayuran yang tidak dicuci. Kasus sayuran impor ini memang tidak hanya meresahkan dari sisi kesehatan dan keamanan masyarakat indonesia selaku konsumen. Namun, kasus ini juga menyentuh sisi kemandirian bangsa terhadap pemenuhan kebutuhan dalam negeri.  Haruskah produk sayuran dan buah-buah impor ini selalu mendominasi pasaran Indonesia?

Referensi :

http://www.euro.who.int

www.metronews.com

www.kompas.com

www.gatra.com

www.jurnalindonesia.com

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: