Skip to content

Osteoarthritis

26/06/2011

Beberapa dari rekan – rekan pembaca mungkin masih asing dengan penyakit ini. Ya, memang ini merupakan salah satu penyakit yang biasanya umum diderita oleh para lansia. Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada sendi diarthrodial karena ketidakseimbangan proses pembentukan dan degradasi tulang rawan artikular, kondrosit, matriks ekstraseluler dan tulang subchondral.

Ribet ya definisinya? Hehe.

Jadi, bisa dikatakan bahwa osteoarthritis ini merupakan penyakit yang berkaitan dengan “bantalan” di antara ruang sendi tulang – tulang kita. Penderita OA akan mengalami penyusutan ruang sendi akibat menipisnya kartilago atau “bantalan” diantara ruang tersebut secara progresif, yang mengakibatkan terjadinya gesekan antara tulang di persendian. JIka semakin parah, maka dapat menyebabkan kerusakan pada tulang, ligament, bahkan jaringan neuromuskular. OA biasanya umum menyerang daerah persendian seperti lutut, pinggang, dan tangan. Osteoarthritis dapat berkembang dengan dua cara:

  1. Bahan penyusun kartilago sendi dan tulang di bawahnya normal, namun beban yang diberikan (misal: bobot tubuh) berlebihan, sehingga mengakibatkan kerusakan.
  2. Beban yang diberikan tidak berlebihan, namun materi penyusun kartilago serta tulang di bawahnya memang tidak cukup kuat.

Proses kerusakan yang menyebabkan kartilago semakin menipis secara degeneratif terjadi akibat ketidakseimbangan proses perbaikan kartilago dengan kerusakan yang terjadi.
Beberapa terapi obat yang biasanya digunakan antara lain :

  •  Asetaminofen

Asetaminofen merupakan senyawa yang bekerja sebagai analgesik (penghilang nyeri) yang direkomendasikan oleh The American College of Rheumatology sebagai first-line terapi obat untuk mengatasi nyeri akibat OA. Asetaminofen bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin, senyawa yang berperan dalam timbulnya rasa nyeri. Perlu diingat bahwa asetaminofen juga memiliki resiko walaupun sudah tergolong aman, Penggunaan dalam jangka panjang memiliki potensi terjadinya hepatoksisitas dan juga toksisitas pada ginjal. Selain itu, interaksi dengan isoniazid dapat meningkatkan resiko hepatotoksik dan pada pasien yang sedang menggunakan warfarin, dapat meningkatkan efek antikoagulan.

  • Sediaan Topikal (pemakaian luar)

Selain sediaan oral, terdapat juga sediaan topikal yang digunakan untuk pemakaian luar, contohnya sediaan yang mengandung kapsasisin. Senyawa yang banyak ditemukan pada cabai atau lada merah ini memiliki khasiat menghilangkan sakit pada sendi. Penggunaan kapsaisin dapat berupa terapi tunggal maupun kombinasi dengan analgesik oral lain. Agar memiliki kerja yang efektif, kapsaisin harus digunakan secara teratur, dan baru dapat menimbulkan efek setelah 2 minggu pemakaian.

  • NSAIDs (Non-Steroid Anti Inflammatory Drugs)

NSAIDs sering diberikan pada pasien OA yang meberikan hasil yang kurang efektif dengan asetaminofen. Senyawa – senyawa yang termasuk dalam golongan NSAIDs antara lain diklofenak, ibuprofen, flubiprofen, asam mefenamat, dll. NSAIDs bekerja dengan menghambat sistesis enzim COX-1 dan COX-2 sehingga dapat meredakan nyeri dan juga inflamasi. Efek samping yang sering dikeluhkan adalah gangguan pada saluran pencernaan, selain itu terkadang juga ditemukan efek mual, dyspepsia, anoreksia, kembung, dan diare. NSAIDs sebaiknya diberikan dengan makanan atau susu, kecuali untuk sediaan salut enterik karena susu atau antasid dapat menghancurkan salut enteric tablet tersebut.

  • Analgesik Opioad

Jika terapi dengan mengunakan asetaminofen, NSAIDs, injeksi intrartikular, maupun topikal belum juga menunjukkan hasil yang diinginkan, maka barulah dapat digunakan analgesik opioid dosis rendah.Sediaan dalam bentuk lepas lambat biasanya memberikan control nyeri yang lebih baik sepanjang hari dan hanya digunakan jika opioid tunggal tidak efektif.

  • Glukosamin dan Chondroitin

Pada uji in vitro, diketahui bahwa kedua senyawa ini memang memiliki kemampuan untuk memicu sintesis proteoglikan. Namun efeknya sebagai pencegahan belum ada perbedaan signifikan terhadap placebo. Kedua senyawa ini memiliki khasiat mengurangi rasa sakit dan meningkatan gerak.

  •  Kortikosteroid

Senyawa golongan ini memiliki kerja sebagai antiinflamasi yang diberikan dengan cara disuntik. Namun, terapi sistemik dengan menggunakan kortikosteroid tidak dianjurkan untuk pasien OA karena memiliki resiko efek samping, seperti hiperglikemik, edema, peningkatan tekanan darah, dll.

Selain terapi dengan obat, terdapat juga terapi non-farmakologi yang dapat diberikan seperti program penurunan berat badan dengan diet, berjalan menggunakan alat bantu, terapi fisik dengan latihan fisik, atau dengan cara operasi.

Gimana? Sudah cukup paham?

Semoga bermanfaat!

Referensi:
Dipiro, Joseph T., et.al., 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 7th Ed, New York: Mc Graw Hill, p. 1505-1515
Kasper, Dennis L., et.al., 2005, Harrison’s : Principal of Internal Medicine, 16th Ed, New York: Mc Graw Hill, p. 2036-2045

5 Comments leave one →
  1. Andhika Mahardhika permalink
    27/06/2011 7:16 am

    Deteksi OA gimana caranya kak? Pemeriksaan hematologi nya mencakup apa aja? hehe. makasih

    • 27/06/2011 9:12 am

      Ada beberapa pengujian yang bisa dilakukan untuk mendeteksi OA :
      1. Pemeriksaan fisik. Biasanya ditandai dengan kekakuan sendi, krepitasi (bunyi gesekan antar tulang), dan pembesaran sendi.
      2. Pemeriksaan radiologi, untuk melihat apakah terjadi penyempitan ruang sendi akibat semakin hilangnya kartilago. Dapat juga digunakan MRI untuk mendeteksi kerusakan kartilago ligament dan tendon yang tidak dapat dilihat melalui X-Ray.
      3. Uji laboratorium. Sebenarnya tidak ada uji spesifik untuk OA, namun ada beberapa tes yang dapat digunakan untuk mendeteksi OA, seperti analisis cairan synovial dan Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR). Melalui analisis cairan synovial dapat diketahui adanya leukositosis ringan (<2000 WBC/μL) dengan banyak sel mononuclear. Sedangkan ESR berfungsi sebagai indikator non-spesifik terjadinya inflamasi pada bagian2 tubuh. Misalnya pada OA di bagian pingggul, nilai ESR < 20mm/jam.

  2. Andhika Mahardhika permalink
    28/06/2011 8:40 am

    Itu ketiganya perlu dilakukan atau hanya satu saja?
    Diagnonsis OA sendiri klo ketiga”nya hasilnya positif kak?

    • 01/07/2011 1:05 pm

      Dhikaa.. maaf ya baru sempet dibales.
      *lagi kape nih* hehe.

      Dari ketiga uji itu sebenernya yang paling (mendekati) tes untuk deteksi OA adalah yang X-Ray, karena hasil rontgennya bisa menunjukkan perubahan (penyempitan) ruang antar sendi yang meng-indikasikan OA. Sedangkan yang pemeriksaan fisik biasanya hanya mengarahkan ke dugaan diagnosa OA, karena hanya seperti simptom aja. Hasil uji lab, bisa sebagai pendukung hasil rontgen. Ketiganya ga harus dilakukan, tapi diantara ketiganya yang paling besar deteksinya yang X-Ray. Kalau hasilnya terdapat penyempitan ruang sendi (bisa didukung dengan hasil lab dan melihat gejala yang ada) bisa dikatakan pasien menderita OA.

      CMIIW.😀

  3. 16/08/2015 10:31 pm

    Makasih atas infonya , Adria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: