Skip to content

Quo Vadis Profesi Farmasi Indonesia

02/07/2011

Bila kita berusaha menengok kembali ke belakang bagaimana ilmu farmasi ini harus ada dan bagaimana keharusan obat itu ada di dunia, maka jawabannya sangat jelas, yaitu meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Namun, cobalah untuk sekedar memakai sedikit energi kita untuk melihat realita sebenarnya yang terjadi disekitar kita, alih – alih menjadi penolong bagi siapapun yang sedang menderita sakit, melainkan obat telah berubah menjadi barang mewah yang semakin hari semakin menunjukkan kekuatannya dalam menekan kehidupan masyarakat yang sudah tergolong miskin dan tak berdaya. Ambil contoh obat generik yang sampai saat ini selalu menjadi “dewa penolong” bagi masyarakat yang sudah tidak berdaya dalam hal ekonomi, malah ikut – ikutan menjadi barang mewah dengan adanya kebijakan pemerintah dengan kenaikan harga menjadi rata – rata 40 %, jika melihat prevalensi kondisi kesehatan masyarakat Indonesia di kalangan menengah ke bawah seharusnya obat generik menjadi sebuah solusi yang sangat ideal bagi mereka, ideal dalam artian normative, mereka mendapatkan harga yang murah untuk kualitas obat yang sama dengan obat bermerk, sehingga dengan harga yang mampu mereka jangkau mereka mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjamin, dan hal ini belum lagi ditambah dengan semakin banyaknya kasus kesehatan yang terjadi di masyarakat yang semakin hari semakin membuat masyarakat “sakit” karena harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Ironis bukan ?

Kesehatan adalah salah satu goods public yang akan selalu diharapkan kehadirannya, bagaimanapun keadaan masyarakat Indonesia, pasti mereka akan butuh apa yang namanya sehat, semiskin apapun kita, kita akan masih butuh kehadiran kesehatan, karena kesehatan adalah salah satu potensi ilmiah yang harus dimiliki oleh setiap orang, karena dengan sehat maka kita akan bisa mencari nafkah, berjalan mengais rezeki dan berpikir bagaimana cara mengubah hidup untuk tidak lagi menjadi miskin, terlebih masyarakat Indonesia yang masih banyak dipenuhi masyarakat kalangan menengah ke bawah, rasa sakit akan menjadi ancaman terbesar dalam hidupnya dalam menjalani hidup sebagai manusia yang produktif.

Yang manjadi pertanyaan sekarang adalah kenapa biaya pelayanan kesehatan sampai semahal itu ? kenapa obat generik harus naik ( seperti halnya kita bertanya kenapa harga BBM naik ? ) apa yang salah dengan kesehatan ? apakah esok kita tidak boleh sehat dan tidak boleh sekedar menikmati hidup yang tidak dikejar – kejar rasa sakit ?

Maka, saatnya untuk membuka mata dan hati dengan berusaha untuk melihat realita yang telah berkembang sangat pesat dan mengerikan dalam sebuah drama kehidupan dimana ada kelompok praktisi kesehatan dan masyarakat yang menjadi lakonnya. Seperti halnya sebuah drama, kebebasan penafsiran dari para tokoh tersebut sepenuhnya ada pada anda ( baca : pembaca ).

Penulis berusaha menggambarkan drama ini dengan meminjam kata dari Muhammad ichsan sebagai “conspiracy of silence”, seperti “kentut”, terasa ada terkatakan tidak. Kenapa? Karena aromanya sangat mengganggu dan merusak suasana. Anda pernah / sering berobat ke dokter ? Ketika kita berobat ke dokter, pasti harapan kita adalah kesembuhan. Kita tidak tahu apa penyakitnya, kitapun juga tidak tahu pilihan obat yang tepat untuk kesembuhan penyakit yang kita derita, sehingga kita datang berobat ke dokter, karena kita yakin bahwa dokterlah yang selama ini disebut sebagai orang yang paling tahu penyakit dan obatnya, dan kemudian kita menyerahkan sepenuhnya pilihan obat untuk kesembuhan kita pada dokter yan kemudian ditulis pada selembar kertas bernama RESEP. Namun tanpa disadari, begitu kita datang berobat ke dokter, ada kepentingan lain diluar hubungan kita dan dokter yang menyertai. Perusahaan farmasi berharap bagaimana agar dokter yang memeriksa kita meresepkan obat-obatan produksi mereka. Obat yang diresepkan sang dokter kemudian kita tebus ke apotik. Dan sesaat kemudian kita akan terkejut, ternyata obat yang sangat diperlukan untuk proses kesembuhan penyakit kita sangatlah mahal dan diluar perkiraan kita. Dalam keadaan demikian hanya ada dua pilihan ; pembelian obat ditunda atau kita “cuma” menebus separohnya. Kita tidak tahu kenapa obat yang kita butuhkan itu mahal, seperti juga kita tidak akan tahu kenapa dokter meresepkan obat yang mahal. Dan kita juga tidak akan pernah tahu apakah jenis dan kualitas obat mahal yang diresepkan itu berguna atau tidak bagi kesembuhan penyakit kita.

Benar, kita bagaikan korban yang harus siap menanggung segala kerugian dari praktek kolusi “kentut” antara perusahaan faramsi dan para dokter tersebut. Kenapa obat dari resep dokter semahal itu ? karena ada prinsip marketing dibalik itu semua. Obat yang mahal berasal dari perusahaan farmasi yang mempunyai kepentingan untuk kesehatan kita dan tentunya kepentingan peresepan yang dilakukan oleh dokter, dengan kata lain sakit yang kita derita dan resep yang ditulis dokter adalah substansi dari sebuah prinsip kapitalis dengan wajah strategi marketing. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita selama ini tahu bahwa kita memerankan tokoh korban dari drama tersebut? tidak akan pernah tahu, dan merekapun juga tidak ingin kita tahu akan hal itu, yang penting anda sakit, pergi ke dokter, dapat resep, tebus di apotek dan dapat tagihan yang mahal. Entah obat dalam resep tersebut yang kadang harus pakai dua kertas karena begitu banyaknya obat, berkhasiat untuk kesembuhan penyakit kita atau tidak, kita tidak akan pernah tahu. Dan itulah harapan mereka.

Dalam hal ini, perusahaan farmasi menempatkannya sebagai biaya promosi dimana perusahan farmasi akan memberikan imbalan yang menggiurkan pada para dokter yang mau menerima “obat titipan”, praktek yang sama – sama untung, perusahaan dapat dengan mudah menjual obatnya dengan marketing yang sangat efektif sedangkan dokter dapat biaya seminar gratis, uang / barang, biaya wisata keluarga atau bahkan pembayaran angsuran apapun. Dan biaya promosi tersebut yang dianggap menaikkan biaya produksi, kemudian dibebankan sepenuhnya pada konsumen yang dalam hal ini adalah pasien, sehingga yang ada sekarang harga obat semakin mahal dan sangat sulit dijangkau oleh lapisan masyarakat kalangan menengah ke bawah. Syofarman Tarmizi, Direktur Pemasaran PT. Kimia Farma waktu itu memperkirakan jumlah dana yang masuk ke dokter-dokter sekitar Rp. 10,5 triliun dari jumlah Rp. 20,3 triliun total market obat di Indonesia. “Drama” termahal didunia bukan ?

Adanya dua kepentingan seorang apoteker yang berada pada daerah hulu ( perusahaan farmasi ) dan di daerah hilir yang diwakili para apoteker yang ada di apotek dan rumah sakit inilah kenapa kemudian penulis sebut sebagai quo vadis profesi farmasi, bagai pedang bermata dua, karena kita terjebak pada dua posisi yang sangat dilematis, dan bahkan banyak yang mengatakan akhir drama ini hanya dapat ditentukan oleh salah satu tokoh yakni apoteker, ketika apoteker menempatkan dirinya sebagai tokoh protagonis, maka drama akan berujung pada happy ending ( bagi masyarakat ), tapi sebaliknya jika apoteker dalam posisi antagonis, habislah dunia, kita tidak akan pernah sempat melihat sehat yang bersahabat ( bagi masyarakat ) dan selamanya masyarakat termasuk kita sebagai korban. Korban konspirasi dan kolusi. Conspiracy victims.

Apa yang harus dilakukan apoteker ?

Berusaha untuk melihat kembali sejarah perkembangan pelayanan kefarmasian, maka saat ini kita telah berada pada era Patiend oriented, bukan lagi Drug oriented. Asuhan kefarmasian yang biasa kita kenal sebagai Pharmaceutical care, lebih menitikberatkan pada kualitas terapi pasien. Disaat pabrikasi obat di industri telah dilakukan oleh berbagai alat mesin, maka kemudian yang kita pikirkan adalah bagaimana obat hasil pabrikasi tersebut sampai pada pasien dan pasien merasa meningkat kualitas hidupnya karena telah tersehatkan oleh obat yang dia minum. Dengan konsep ini apoteker harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dengan pasien, mampu melakukan konseling yang baik, dan dapat menyampaikan informasi obat berdasarkan khasiat dan keadaan yang sebenarnya. Terciptanya komunikasi yang efektif dengan pasien inilah yang akan menjadi pintu gerbang utama pelayanan kefarmasian yang bertajuk Pharmaceutical care, asuhan kefarmasian. Untuk itu kompetensi harus terus ditingkatkan bagi seorang calon apoteker dan bagi yang sudah mendaulat diri sebagai apoteker. Hanya demi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Tanpa berusaha untuk mengacuhkan posisi seorang farmasis di industri yang memang telah tergeser oleh mesin pencetak tablet dan sejenisnya, juga kondisi kapitalisme yang ada dibelakang bisnis besar obat – obatan, saatnya apoteker menegaskan diri sebagai kelompok penyelamat dalam kondisi seperti ini, apoteker di apotek maupun rumah sakit yang notabene berada di bagian paling hilir dalam pelayanan terapi obat dari resep dokter, harus mulai berani untuk mengatakan “tidak” untuk resep yang ditengarai berisi “obat titipan”, semua itu untuk kesehatan masyarakat yang sustain. Tentu dengan kompetensi yang mumpuni, apoteker harus lebih dari mampu untuk bisa mengetahui komposisi obat dalam resep yang berupa “obat titipan” yang kadang terlalu banyak dan bahkan lebih banyak dari obat yang sebenarnya, yang dibutuhkan oleh pasien dalam proses penyembuhan penyakitnya.

Selebihnya, apoteker melalui organ – organ gerakannya seperti IAI dan Ismafarsi harus lebih erat lagi untuk bergandengan tangan dalam memikirkan kembali langkah – langkah strategis untuk dapat menjadikan drama conspiracy of silence ini menjadi sebuah akhir yang bahagia bagi masyarakat, drama yang happy ending. Pendidikan pada masyarakat tentang obat harus mulai digiatkan kembali sehingga masyarakat akan semakin paham dan akhirnya pasien akan semakin cerdas untuk mulai bertanya pada penulis resep terkait obat yang dia terima setiap berobat ke dokter. Edukasi pada masyarakat harus ditunjang dengan langkah – langkah advokasi real dengan proses pendampingan pada setiap permasalahan yang berkembang di kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan peningkatan kualitas terapi pasien. Hal ini dapat dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan komunitas masyarakat dan puskesmas untuk tindakan preventif dan kuratif.

Pemerintah dalam kondisi seperti ini juga harus memiliki perhatian serius, yang dalam hal ini adalah Departemen Kesehatan dan BPOM untuk lebih mengupayakan tindakan dan regulasi yang berkenaan dengan bentuk promosi obat dari perusahaan farmasi kepada praktisi kedokteran, bentuk promosi harus diperketat dan harus mempunyai batasan – batasan yang proporsional terutama pada bentuk insentif untuk dokter atau hibah dan sejenisnya. Karena kebijakan apapun yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatasi drama ini, ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan bahkan terkesan useless, mulai dari Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) maupun Etika Promosi Obat tak lebih dari alat untuk tetap melestarikan kepentingan kelompok tertentu dengan regulasi yang terbatas dan tidak dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan di Indonesia. Buktinya harga obat masih mahal dan praktek kolusi masih ada. Maka, saatnya bagi kita untuk mengembalikan obat pada fungsi yang sebenarnya, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa memberikan beban pada mereka. Wallahu’alam…

Fuad Pribadi

Mahasiswa Apoteker Program Pelayanan Farmasi, Institut Teknologi Bandung

Lulusan Farmasi Universitas Jember, Jawa Timur


2 Comments leave one →
  1. atma permalink
    06/09/2011 3:19 pm

    tulisan yang sangat bagus =)
    salam kenal, dari rekan seperjuangan =)

  2. Ria, apt permalink
    30/09/2011 12:09 am

    seTuJu… namUn dGaN harGa oBAt yg muRaH apaKAh kiTa tdak berpikIr, dri mNa dTgnya bHAn yg muRah, biaYA produKsi Yg muRAH??? bLom Lgi biAy2 riSeT, dll sebeNarNya haL itu jusTru akAn meNimbuLkan masLAh barU… sepErTi kejAdian tiDAh adAnya asmEf dll saaT harGa oBAt ditetApkan menkEs. prOduSen tDAk aKAn memProduKsi oG kareNA muRAh, dan hyA memprodUksi Ob. branD name… yG ruGi masYAraKAt juGa. aLAngKAh LebiH baiK kiTA menghiLAngKAn oBAt muRaH…. daN mengguNAkan istiLAh oBAt dg harGA terJAngKau….. keMudiAn TTg apt indusTri dan aPt koMuniTas… marILAh bersaTu, tDAk meNgguNakan jaSA reP utK proMo… aLAngKAh LbiH bgUs setiaP oBAt baRu d inFoKAn ke sejaWAt d koMuniTAs, dan denGAn begiTU merEka menYediaKAn setelaH meLaLui proSes seLeksi dan dokTer di iNfokAn olh aPt komunItas ttG oBat tsB. sHgga tDak aDA Lgi bIAya pRoMosi oBAt yg melOnjak krn iMing2 yG snGat exPensiVe…. daN unTuK oBAt2 yG seDiaaNnya tDak trSedia d PAsarAn, apt komuniTAs biDA memberI inpuT kepDa aPt indiustri utk surVey dan memProduKsiNYa…(mis dLu bLom aDA syRuP ferro sulFaT, akiBAtNya Fe tabLet d gerus, pDaHAL akaN terOksiDasi dan tDAk mengHasiLkan efEK….. atw oBat2 enzim peNcerNaan doSis uTk anKA2… yg aKhirNya d gerUs pDaHaL tDAk memiLiki efEk yg di iNginKan…..)
    dgan hal tsB mari kiTA berSatU….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: