Skip to content

Pharmacotherapy: Drugs and Patient Therapy

09/07/2011

Ada pertanyaan menggelitik yang membuat saya bergumam dalam hati “oh iyaya, bener juga”. What is exactly the question? Ada seorang dosen yang bertanya seperti ini kepada mahasiswa-mahasiswanya di tengah-tengah kuliah.  Pertanyaan tersebut adalah, “Siapa diantara kalian yang sedari kecil punya cita-cita jadi apoteker?”. Tidak ada satupun mahasiswa di kelas itu yang mengangkat tangan.

Hampir semua anak kecil ketika ditanya mau jadi apa, mereka menjawab “Mau jadi dokter!”, “Aku mau jadi astronot!”, “Mau jadi guru!”, and et cetera. Oh poor pharmacists, padahal cita-cita ini sangat mulia dan memiliki banyak keuntungan untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat kita. Saya sendiri, tidak pernah bercita-cita mau jadi apoteker. Ini adalah ide ayah saya yang menginginkan saya menjadi seorang apoteker. Pada mulanya saya berpikir, “Apa kerennya jadi apoteker?”. Tapi seiring berjalannya waktu saya menemukan manfaat menjadi seorang (calon—AMIN) apoteker. Selain bisa mengerti segala sesuatu tentang obat (salah satu kebutuhan terbesar manusia di bumi), saya juga bisa mengerti tentang berbagai penyakit (yang tidak akan berhenti mengintai manusia).

Well, saya menyukai salah satu mata kuliah di kuliah profesi apoteker yaitu Farmakoterapi. Farmakoterapi adalah terapi menggunakan obat berdasarkan jenis penyakit dan kondisi penderita. Di mata kuliah ini, mahasiswa diajarkan bagaimana cara memilih obat berdasarkan jenis dan tanda-tanda penyakit. Jadi selain mempelajari mengenai obat-obatan (mulai dari bentuk sediaannya hingga farmakokinetika dan farmakodinamikanya), kami juga mempelajari mengenai berbagai penyakit (mulai definisi penyakit, prevalensi, patofisiologi, etiologi, diagnosis, tanda dan gejala, faktor resiko, penanganan non-farmakologi, penanganan farmakologi, hingga interaksi obat).

Apakah apoteker memerlukan Farmakoterapi?

The answer is absolutely yes. Alasannya adalah, dengan mengetahui mekanisme atau penyebab penyakit, apoteker dapat memilih obat yang rasional. Selain itu, apoteker dapat memberikan informasi obat kepada pasien, perawat, dan dokter. Dalam hal ini, bukan berarti apoteker diperbolehkan mendiagnosis penyakit, diagnosis penyakit merupakan tugas para dokter. Apoteker tidak berhak mendiagnosis penyakit, tetapi farmakoterapi dapat berguna ketika pasien ingin melakukan swamedikasi (self medication).

Manfaat belajar farmakoterapi:

  • Membantu apoteker dalam memahami penggunaan obat pada penyakit tertentu
  • Apoteker mampu memilih obat yang tepat
  • Apoteker mampu memberikan informasi obat (Misalnya mengenai efek samping obat, kontraindikasi obat, interaksi obat dengan obat lain atau interaksi obat dengan makanan, dan sebagainya)
  • Apoteker mampu berinteraksi dengan dokter dan tenaga medis lainnya.
  • Apoteker membantu pasien melakukan self medication

Mata kuliah pendukung dalam mempelajari farmakoterapi diantaranya:

  • Farmakologi
  • Farmakokinetik
  • Patofisiologi
  • Mikrobiologi
  • Parasitologi
  • Virology

Bagaimana implementasi ilmu farmakoterapi?

Pertama, apoteker harus mengetahui secara jelas bagaimana penyakitnya dan harus menemukan diagnosis yang tepat. Sebelum memilih obat, sebaiknya apoteker menawarkan kepada pasien “terapi non-farmakologi” dengan melakukan modifikasi gaya hidup (misalnya dengan melakukan diet tertentu, olah raga tertentu, berhenti merokok dan berhenti mengkonsumsi alkohol, dan lain-lain). Modifikasi gaya hidup dilakukan tergantung dengan tipe dan jenis penyakit pasien. Jika terapi non-farmakologi tidak berhasil, lakukan tahap selanjutnya yaitu terapi farmakologi (terapi dengan menggunakan obat). Terapi farmakologi dimulai dengan pemilihan obat yang tepat dan dengan dosis rendah dan dalam waktu sesingkat mungkin (tetapi harus tetap memberikan efek terapi). Pemilihan obat berdasarkan gejala-gejala yang dirasakan oleh penyakit dan harus menggunakan obat yang sudah terbukti melalui uji klinis. Penggunaan obat baru dilakukan jika obat baru memiliki kelebihan secara signifikan dibandingkan obat lama (new is not always better, remember?).

Hal yang harus diperhatikan adalah lama terapi obat (menentukan efikasi dan efek samping), interaksi obat dengan obat lain, interaksi obat dengan penyakit, interaksi obat dengan makanan, dan lain-lain. Selain itu, regimen obat sebaiknya dibuat sederhana untuk mempermudah pasien. Kegagalan terapi dapat disebabkan oleh seleksi obat tidak memadai, kesalahan penggunaan dosis, munculnya penyakit lain, terjadi interaksi obat, adanya factor genetik dan faktor lingkungan, dan lain-lain.

Bagaimanapun, pasien merupakan prioritas apoteker untuk mencapai kesembuhan pasien. See, how noble pharmacists’ jobs are.

3 Comments leave one →
  1. keff permalink
    02/09/2011 11:23 am

    kalo itu khan farmanya… tapi apa untungya jd apoteker itu sendiri?

  2. 24/12/2011 8:11 pm

    Okeey kali yaak dalemin klinis… Hoaaamss…
    Lelaaahnyaa..😦

  3. Martha permalink
    01/05/2012 11:28 am

    profesi apoteker seharusnya saat ini dijajarkan dengan klinisi lainnya seperti dokter ..
    Tapi kenyataannya di Rumah Sakit besar *no mention* saja apoteker hanya berada di ruang instalasi farmasi dan tidak diintegrasikan bersama klinisi lain sehingga kurang berpotensi dan kurang bisa mengaplikasikan ilmunya secara langsung …

    Tapi tetap saja,,,Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang diharapkan lebih banyak andilnya di masyarakat *peminatan Rumah Sakit maupun industri*
    Semoga profesi ini semakin dikenal oleh masyarakat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: