Skip to content

Memilih Obat yang Aman untuk Bumil dan Sang Janin

10/07/2011

Penulis ingat betul, sewaktu  magang di Apotek beberapa bulan lalu, beberapa pasien datang dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti :

“Obat batuk yang aman untuk ibu hamil apa ya?”

“Obat ini aman nggak ya untuk ibu hamil?”

PENTING!!!

Informasi terkait keamanan penggunaan obat pada saat kehamilan tentunya menjadi salah satu kebutuhan dan hak konsumen/pasien.

Pengaruh kondisi kehamilan terhadap penggunaan obat

Obat pada dasarnya adalah senyawa toksik bila dosis dan penggunaannya tidak disesuaikan dengan kondisi badan pasien maupun penyakitnya. Penggunaan obat untuk bumil (ibu hamil) harus sangat diperhatikan. Pada bumil (ibu hamil), jantung dan ginjal bekerja ‘lebih keras’, sehingga beberapa perjalanan obat di dalam tubuh berlangsung lebih cepat dari biasanya. Oleh karenanya, ada kemungkinan bumil membutuhkan obat dengan dosis yang lebih tinggi atau lebih sering (frequent). Beberapa obat dapat membahayakan janin di beberapa stage kehamilan tertentu saja, ada juga yang dapat membahayakan di seluruh stage kehamilan. Masa kehamilan dibagi menjadi 3 periode, tiap 3 bulannya disebut dengan trimester. Absorpsi obat pada pasien dalam kondisi hamil dapat terpengaruhi oleh adanya penurunan motilitas usus, peningkatan pH lambung. Selain terpengaruhinya absorpsi obat, proses eliminasi obat dari tubuh pun akan terpengaruhi. Hormon maternal dapat meningkatkan metabolisme beberapa obat di hati dan menghambat pada beberapa obat yang lain. Beberapa obat dapat menembus dinding plasenta, sehingga dapat membahayakan kondisi janin. Plasenta ini dapat menjadi organ tempat pertukaran beberapa zat antara ibu dan fetus, termasuk obat.

Kenali obat anda

Bukan hanya obat-obat keras saja yang mungkin berbahaya bagi ibu hamil maupun kondisi janin, obat bebas yang dijual di pasaran (OTC atau Over-the-Counter) pun bisa jadi berbahaya loh untuk kehamilan.

Dalam kasus obat keras, penggunaan dapat lebih terkendali karena obat ini notabene hanya dapat ditebus bila ada resep dokter. Untuk obat OTC/bebas, perlu ada pengetahuan dari pasien, penggalian informasi oleh pasien, edukasi maupun konseling dari tenaga medis yang berperan, apoteker.

Dengan mengacu pada ketentuan yang digunakan oleh FDA (Food and Drug Administration) US, terdapat lima kategori keamanan obat untuk kehamilan.  Pembagian kategori ini didasarkan pada risiko obat terhadap sistem reproduksi, risiko efek samping, dan perbandingan manfaat dengan risiko.

Obat Kategori A: Studi terkontrol pada kehamilan tidak menunjukkan adanya resiko bagi janin pada kehamilan trimester 1 (dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester berikutnya) dan kecil kemungkinannya obat ini berbahaya bagi keselamatan janin.

Contoh : Ascorbic acid atau Vitamin C per oral. Namun obat ini dapat termasuk ke kategori C jika dosisnya melebihi US RDA

Obat Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak menunjukkan adanya resiko bagi janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi terhadap reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak didapati pada studi terkontrol  terhadap kehamilan trimester pertama (dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trimester berikutnya).

Contoh : Aciclovir per oral, topical, parenteral ; Caffein per oral

Obat Kategori C: Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping pada janin (bersifat teratogenik atau embriosidal atau yang lainnya) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau belum ada studi terhadap wanita dan binatang percobaan. Obat dalam kategori ini hanya boleh diberikan jika besarnya manfaat yang diperoleh melebihi besarnya risiko pada janin.

Contoh : Allopurinol per oral, parenteral ; Dextromethorphan per oral ; Ascorbic acid atau Vitamin C per oral jika dosisnya melebihi US RDA

Obat Kategoti D: Ada bukti positif mengenai risiko obat ini terhadap janin, tetapi obat ini masih diperbolehkan untuk diberikan pada wanita hamil jika besarnya manfaat yang diperoleh melebihi besarnya risiko terhadap janin (misalnya jika obat ini diperlukan untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa atau penyakit serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).

Contoh : Aspirin per oral jika digunakan dosis penuh pada trimester 3 ; Propanolol per oral maupun parenteral pada trimester 2 dan 3

Obat Kategori X: Studi pada binatang percobaan atau manusia memperlihatkan abnormalitas pada janin atau terbukti berresiko terhadap janin dan besarnya risiko obat ini pada wanita hamil jelas-jelas melebihi manfaat yang diharapkan. Dikontraindikasikan pada wanita hamil atau yang memiliki kemungkinan untuk hamil.

Contoh : Lovastatin per oral

Sumber : MIMS

 

Nah, jadi konsumen bisa mengecek kategori keamanan obat yang akan digunakan berdasarkan list pada indeks penggunaan obat untuk kehamilan, misalnya yang terdapat pada MIMS.

 Photo credit : disini

Pada indeks ini terdapat kolom nama obat generik dan kolom kategori nya. Selain melalui pengecekan indeks ini, keterangan informasi keamanan untuk kehamilan dapat diperoleh juga dengan melihat adanya tanda kategori Kehamilan (♀) dan informasi pada bagian perhatian (P) dan kontraindikasi (KI). Akses informasi dari MIMS bisa juga didapatkan secara online : www.mims.com

Pengecekan lainnya dapat dilakukan dengan melihat informasi obat pada kemasan dan brosur. Pada bagian Perhatian (P) atau Kontraindikasi (KI), tercantum informasi keamanannya bila digunakan pada kehamilan.

Pada prinsipnya, untuk membantu pemilihan pengobatan yang tepat pada penggunaannya selama masa kehamilan yaitu dengan memilih obat yang telah lama digunakan dan dinyatakan aman.

Also, pregnant women should be discouraged from self-medication.

Nah kan, tentu saja para tenaga professional kesehatan seperti dokter, perawat, dan apoteker dapat membantu konsumen dalam memilih obat-obatan yang tepat untuk penggunaan pada kehamilan atau untuk wanita yang akan hamil. IT’S THEIR JOB. Jangan ragu untuk konsultasi yaa🙂

Referensi :

American Council for drug education’shttp://www.acde.org/parent/Pregnant.htm (Diakses tanggal 6 Juli 2011)

FDA (Food and Drug Administration’s) US :

http://www.fda.gov/ForConsumers/ByAudience/ForWomen/WomensHealthTopics/ucm117976.htm (Diakses tanggal 6 Juli 2011)

http://www.fda.gov/ScienceResearch/SpecialTopics/WomensHealthResearch/ucm251314.htm (Diakses tanggal 6 Juli 2011)

MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 9. 2009/2010

Dipiro. Pharmacotherapy Handbook, 6th Edition. 2006. McGraw-Hill.

One Comment leave one →
  1. yoes, Apt permalink
    23/08/2012 9:16 am

    ijin share ya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: