Skip to content

Tanggung Jawab Itu

10/07/2011

“Responsibility is the price of greatness”

-Winston Churchill-

Dan misran pun akhirnya memenangkan gugatannya di mahkamah konstitusi, gugatan yang berujung pada diperbolehkannya semua mantri dan perawat di seluruh Indonesia untuk melakukan praktek seperti halnya apa yang dilakukan oleh dokter atau apoteker. Walaupun ada kata tambahan ‘hanya dalam keadaan darurat’ tentu ini sudah menjadi pukulan yang sangat telak bagi kita, Apoteker. Sebuah ironi sekaligus anomali bagi dunia kefarmasian (baca = kesehatan). Ironi karena disaat kita gencar – gencarnya ingin menunjukkan eksistensi kita sebagai tenaga kesehatan, dan anomali disaat semua orang mulai sadar bahwa kesehatan adalah kebutuhan primer bagi setiap orang, tapi sekarang kita mendapati keadaan kesehatan yang absurd, tanpa ada batasan makna yang jelas bahwa sejatinya profesionalisme dan tanggungjawab adalah dua hal yang harus selalu beriringan. Dulu dunia kesehatan telah lama ‘hidup’ bersama dukun, mereka melakukan segala hal tugas tenaga kesehatan, mulai dari anamnesa, diagnose sampai pada peracikan obat. Dan absurditas tersebut ternyata kembali di saat kita makin jelas melihat bahwa antara profesionalisme dan tanggungjawab tersebut terselip sebuah nilai etika.

Tentu kita semua paham bahwa kesehatan adalah salah satu goods public yang sangat diharapkan kehadirannya bagi setiap manusia. Dengan sehat, maka setiap orang akan mampu menjalankan segala aktivitasnya, bagaimanapun keadaannya, mereka akan selalu mengharapkan keadaan tubuh yang sehat, karena kesehatan adalah salah satu potensi ilmiah yang harus mereka miliki, karena dengan sehat maka mereka akan bisa mencari nafkah, berjalan mengais rezeki dan berpikir bagaimana cara mengubah hidupnya.

Dan disinilah kenapa kemudian obat begitu menjadi dominan bagi setiap orang yang membutuhkan kesehatan, obat telah mengalami transisi menjadi sebuah kebutuhan primer, sehingga menjadi sesuatu yang sangat lumrah bagi semua orang untuk ‘bermain’ di wilayah ini dengan menjadikan obat sebagai komoditas yang akan banyak menghasilkan banyak profit, seperti halnya cerita sang petani dengan ayamnya, maka obat saat ini telah berubah menjadi telur emas bagi sang petani, begitu banyak merubah keadaan sang petani yang awalnya bersahaja dan hidup penuh keikhlasan berubah menjadi rakus dan tamak tanpa lagi memperhatikan kewajibannya mengurus ladang, sehingga saat ayam itu pun mati, maka kemudian sang petani pun telah lupa bagaimana harus mengais rejeki di ladang seperti saat ‘komoditas’ berupa telur emas itu masih ada.

Obat harus diletakkan pada fungsi yang sebenarnya, obat bukan hanya sekedar komoditas yang selalu mendatangkan profit bagi yang bermain disana, obat bukanlah komoditas yang akan selalu diperas demi mendatangkan ‘telur emas’ bagi pemiliknya, karena jauh dibelakang itu semua terdapat profesionalitas, tanggungjawab dan tentu saja etika yang selalu mengiringi keberadaan obat tersebut ditengah masyarakat.

Profesionalitas dari semua orang yang mempunyai kepentingan dengan obat, profesionalitas dari semua tenaga kesehatan yang berhubungan dengan obat. Profesionalitas yang didukung dengan basic ilmu yang memadai, tidak hanya terlatih dari pengaruh empiris, namun terlatih karena memang mempunyai ilmu yang berkaitan dengan obat. tentu Kita semua juga paham dan sepakat, bahwa yang berhak memberikan obat hanyalah apoteker, bukan perkara arogansi tapi murni pada wilayah profesionalitas dari seorang apoteker dalam pemberiaan obat yang didapat dari pendidikan dan pelatihan tentang obat. Dan lagi – lagi kita semua paham bahwa profesionalitas tidak hanya didapat dari empiris, tapi pendidikan dan pelatihan yang memadai.

Tanggungjawab dari profesional kesehatan terhadap keselamatan pasien juga menjadi faktor penting kenapa kemudian harus tenaga kesehatan tertentu yang mempunyai hak untuk memberikan obat. Tanggungjawab, menurut filsuf Hans Jonas, bersifat total dan menyeluruh. Karena bersifat menyeluruh, dalam pelaksanaannya tanggungjawab harus berkelanjutan, tidak boleh sepotong – sepotong dalam menjalankannya. Lebih mengerikan lagi ketika tanggungjawab itu menyangkut hidup mati seseorang, maka tidak ada tawaran lagi bagi seseorang dalam menjalankan tanggungjawabnya, tidak ada alasan karena factor empiris maka kemudian seseorang diperbolehkan untuk melakukan praktek yang memang bukan tanggungjawabnya.

Sementara muara dari itu semua adalah bagaimana kita meletakkan etika sebagai dasar bagi setiap insan manusia yang profesional serta bertanggungjawab dalam menyelamatkan manusia dari penyakit yang dia derita, memberi kebahagiaan yang menyeluruh bagi manusia yang berharap terbebas dari penyakitnya. Etika seperti yang diungkapkan Socrates sebagai ‘eudocmonic’, kebahagiaan sebagai ‘barang yang tertinggi’ dalam kehidupan. Seseorang yang beretika mampu memberi kebahagiaan yang menyeluruh bagi manusia yang lain atas dasar prinsip professional dan tanggungjawab.

Mungkin sang petani diatas telah lupa pada nilai profesionalitas dan tanggungjawabnya karena hatinya sudah tertutup dengan limpahan telur emas, sehingga mendapati dirinya yang rakus dan lupa bahwa sesuatu yang instan hanyalah dasar dari absurditas yang pada akhirnya hanya berujung pada penderitaan bagi sang petani itu sendiri.

Pada akhirnya, kita harus yakin bahwa mimpi dari Raja Jerman Frederick II dengan “Two Silices” nya benar – benar terwujud, didasari pada professional, tanggung jawab dan tentu saja beretika untuk menjadikan manusia yang lain berbahagia, mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Semoga…

 

“you only live once, but if you do it right, once is enough”

-Mae West-

Fuad Pribadi
Mahasiswa Apoteker Program Pelayanan Farmasi, Institut Teknologi Bandung
Lulusan Farmasi Universitas Jember, Jawa Timur

11 Comments leave one →
  1. Nazerita Nidyasari permalink
    10/07/2011 4:23 pm

    keren euy bang fuad bahasanya….
    salut juga buat teman2 yg tergabung dalam penulis apotekerbercerita.wordpress.com..\m/

    sebagai informasi, trend ke depannya (sedang dgiodog gagasan ini) obat tidak akan lagi jadi komoditi bagi apoteker di pelayanan, HET akan dihapus, dan “nilai jual kita dalam bentuk pelayanan-lah” yang akan jadi komoditi…:)

    salam semangat untuk semua profesional kesehatan..:)!!

    • Dwi Putri Y. Y. permalink*
      10/07/2011 9:58 pm

      wah, kabar bagus itu HET akan dihapus, tapi gak nutup kemungkinan buat pemain bisnis ningkatin harga sampe berlebihan, harus tetap hati2.. pemantauan untuk pelaksanaan pelayanan kefarmasian harus diperketat ni *CMIIW

      ditunggu cerita ttg HET-nya ya sari😀

  2. Dewi Nurjanah permalink*
    10/07/2011 7:40 pm

    iya saluut buat fuad,,

    Eh jeng sari, gimana kisah nya si HET ini akan dihapus?

  3. diha madihah permalink*
    11/07/2011 8:01 pm

    this is brilliant.

  4. 13/07/2011 6:51 am

    Hehe..makasiih..
    Wahh..HET dihapus?hmmm..perlu dskusi lbih pnjang lg tuh..

  5. 13/07/2011 2:03 pm

    Nice post!!

    Tmn2 calon apoteker, mumpung masi kuliah..ayoo manfaatin kesempatan semaksimal mungkin utk belajar, untuk mengenal (lebih tepatnya MEMAHAMI) peran, fungsi, dan tanggungjawab profesi kita ini.. Cari bekal sebanyak mungkin, karena kelak di dunia kerja kita akan berhadapan dgn berbagai kepentingan yang bertentangan dgn idealisme kita, dan sebagai “newcomer” terkadang kita seolah-olah dituntun untuk mengikuti arus tsb..

    Lalu apa yg hrs dilakukan? Kenali dulu arusnya, kemudian cari peluang untuk bs mengubah arah arus itu ke arah yg lbh baik sesuai dgn nilai luhur dan etika profesi. Lakukan untuk kebaikan kita sendiri, dan tentunya untuk profesi kita.
    Maka kelak profesi ini akan menjadi profesi yang dibanggakan, profesi yang diperhitungkan. Majuuu teruuusssss apoteker indonesiaa!! (^_^)

    “Tanggung jawab adalah kepercayaan, tanggung jawab adalah kehormatan, dan yang terpenting TANGGUNG JAWAB ADALAH AMANAH”

    • 13/07/2011 3:32 pm

      halo afinna.. a.k.a apin, msh inget marin gaak? hehe.. *OOT* :p

      anyway..
      iya, apoteker fresh graduate atau ‘newcomer’ di tempat praktek pekerjaan kefarmasian manapun seringkali disebut ‘anak idealis’.
      saya setuju kok, kita lihat dulu kondisi nyata nantinya seperti apa dan bukan nggak mungkin untuk pelan-pelan berubah jadi lebih baik.🙂

      • 14/07/2011 11:01 am

        hihiii..iyaaaa marin, ingettt kokkk.. :p

        dunia kerja itu warna-warni.. hitamnya ada, tp putihnya jg ada..
        yg penting tanamkan terus niat utk berubah jd lbh baik.. ga mudah emg, aplg kalo udh bertentangan dgn “sang pembuat keputusan”.. yahhh, slama masi kerja buat org lain, kdg susah buat berdiri dgn idealisme kita.. tp bnr kt marin, bukan ga mungkin buat bikin profesi ini naik kelas k posisi yg lbh baik, yg lbh diperhitungkan..
        Smngt tmn2😀

  6. Fuad permalink
    14/07/2011 12:36 pm

    @afinna
    Kalah lahh sama yg udah hidup di dunia yg berbeda..banyak pengalaman,tntu dah banyak nasehat jg..hihihi..
    Tetep jg idealismenya..🙂

    • 26/07/2011 7:46 am

      hahaa.. sbntr lagi jg menyusul kan, kawan2?
      sukseeeesssssss yah.. *sampaiketemudidunianyata*😀

  7. 11/08/2011 5:04 pm

    mas fuad sebelum menyimpulkan amar putusan Mk tolong deh lebih memahami makna dibalik bahasa hukum tersebut. bahasanya lebih dicermati lagi…kalau perlu diskusikan dulu dengan ahli hukum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: