Skip to content

Menkes Umumkan Hasil Survei Cemaran Bakteri E. sakazakii pada Susu Formula Bayi

11/07/2011

Beberapa waktu belakangan ini masyarakat cukup diresahkan dengan pemberitaan yang menyatakan bahwa beberapa merek susu formula bayi tercemar bakteri Enterobacter sakazakii (ES). Kasus ini bermula dari hasil penelitian Fakultas Kedokteran Hewan IPB pada tahun 2006. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disebutkan bahwa 5 dari 22 sampel susu formula mengandung bakteri ES. Bakteri ES sendiri merupakan bakteri gram-negatif yang tahan panas dan tidak membentuk spora. Efek jangka pendek yang dapat ditimbulkan oleh bakteri ES adalah berupa demam dan diare, sedangkan efek jangka panjang yang dapat ditimbulkan berupa gangguan saraf (radang selaput otak dan radang otak).

Dalam menjalankan tugasnya, Badan POM melakukan pengawasan susu formula melalui premarket evaluation sebelum pemberian izin edar dan post market control setelah produk beredar. Pemeriksaan cemaran mikroba sendiri merupakan bagian dari pemeriksaan rutin Badan POM terhadap produk pangan (termasuk susu formula) di samping cemaran jamur, logam berat, dan lain-lain. Hasil pemeriksaan cemaran tidak dipublikasikan sebagaimana Prosedur Tetap (Protap) yang berlaku di berbagai Badan Pengawas Obat dan Makanan di dunia. Jika terdapat hasil yang tidak memenuhi syarat, tindak lanjut yang akan dilakukan adalah dengan memanggil produsen untuk menarik produk dari peredaran untuk kemudian dimusnahkan. Produk tersebut baru boleh beredar kembali setelah dilakukan pemeriksaan dengan hasil memenuhi syarat. Hal ini dilakukan Badan POM dengan tujuan agar dapat tetap melindungi masyarakat tanpa menimbulkan keresahan dan kebingungan di masyarakat. Sementara itu, dalam pengujian yang dilakukan Badan POM sendiri berturut-turut sejak 2008, 2009, 2010 dan awal Februari 2011 tidak ditemukan adanya bakteri ES dalam susu formula.

Tidak puas atas hasil penelitian BPOM tersebut, Advokat David Tobing melakukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Dalam putusan kasasi MA dinyatakan bahwa Kemkes, Badan POM, dan IPB diminta mengumumkan merek susu formula yang tercemar bakteri ES. Menyikapi putusan MA tersebut, Kemkes menyatakan tidak dapat melaksanakan putusan itu karena tidak terlibat dalam penelitian dan tidak mempunyai daftar merek susu formula yang tercemar bakteri ES. Untuk itu Kemkes  melakukan  peninjauan kembali (PK) dengan menunjuk Jaksa Pengacara Negara untuk mewakili di persidangan.

Menurut Menkes, survei dilakukan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat tentang keamanan susu formula bayi khususnya untuk batas Enterobacter sakazakii dan batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan sebagaimana yang dipersyaratkan Badan POM No. HK. 00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan. Untuk menjamin validitas pengujian, sampel susu formula bayi diuji di tiga tempat yaitu Balitbangkes Kemkes, Badan POM, dan IPB dengan menggunakan metode yang sama dan mengacu pada ISO/TS 22964 : 20006 (Milk and milk product – Defection of Enterobacter Sakazakii).

Pengambilan sampel dilakukan oleh Petugas Badan POM. Sampling dilakukan terhadap semua nama dan jenis susu formula bayi yang beredar di Indonesia tahun 2011. Setiap item diambil 2 bets dan setiap bets masing-masing sebanyak 3 kemasan ukuran 400 gr (2 kemasan untuk pengujian dan 1 kemasan untuk retain sample). Retain sample diperlukan untuk menguji ulang manakala ada perbedaan hasil uji pada 2 laboratorium di Badan Litbangkes dan IPB.

Sampel yang diambil adalah susu formula untuk bayi berusia 0 – 6 bulan yang dikemas dalam karton dan kaleng yang beredar di pasar swalayan dan pasar tradisional. Untuk representatif sampel, pengambilan sampel susu formula dilakukan di 23 propinsi mencakup 7 (tujuh) cluster yaitu Sumatera, Jawa-Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Maluku Utara, serta Papua. Pengambilan, pengumpulan, dan penanganan sampel dilakukan oleh petugas BPOM pada bulan Maret – April 2011.

Susu formula yang diambil sampelnya adalah sebanyak 47 item dari 74 item yang terdaftar di Badan POM karena 27 item lainnya tidak diimpor dan tidak diproduksi lagi. Dari hasil sampling BPOM terhadap 47 merek susu, terdapat 41 produk mempunyai 2 nomor bets dan 6 produk hanya ada 1 nomor bets, sehingga jumlah keseluruhan sampel adalah 88 sampel. Berdasarkan kesepakatan, 88 sampel susu formula bayi dianalisis dan setiap sepertiga dari jumlah tersebut dianalisis di 3 laboratorium. Dengan demikian 59 sampel diuji Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, 60 sampel oleh Badan POM, dan 64 sampel oleh IPB. Survei dilakukan pada bulan Maret – Juli 2011 sesuai Roadmap Pelaksanaan Rencana Aksi Pemeriksaan/Surveilan/Kajian Susu Formula Bayi.

Pengujian dilakukan dalam dua tahap. Pengujian tahap pertama dilakukan untuk pengujian terhadap Enterobacter sakazakii dan pada tahap kedua dilakukan uji terhadap mikroba lain seperti Angka Lempeng Total (ALT), MPN Coliform, Escherichia coli, Salmonella dan Staphylococcus sp. Dalam uji ulang ini laboratorium IPB hanya melakukan pengujian tahap I, sedangkan Badan Litbangkes Kemkes dan BPOM melakukan pengujian tahap I dan II.

Dari hasil survei ketiga institusi tersebut menunjukkan bahwa produk formula bayi yang beredar di Indonesia memenuhi standar yang dipersyaratkan dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan No. HK. 00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan, dan Standar Codex (CAC/RCP 66-2008). Dalam arti produk susu formula bayi yang beredar di Indonesia tidak mengandung bakteri E. sakazakii (negatif). Hal ini disampaikan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., Dr.PH, pada acara jumpa pers di kantor Kemkominfo mengenai hasil survei susu formula terhadap Enterobacter Sakazakii (ES) dan cemaran mikroba lainnya. Acara dipandu Menkominfo Ir. Tifatul Sembiring dan dihadiri Kepala Badan POM dra. Kustantinah, Apt., dan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto.

Berdasarkan hasil survei tersebut di atas, Pemerintah menegaskan bahwa susu formula bayi yang beredar di Indonesia aman untuk dikonsumsi. Kendati memenuhi standar, masyarakat dihimbau agar mengikuti petunjuk penyimpanan, penyiapan, dan penyajian sebagaimana tercantum dalam label. Selain itu, Menkes dalam pengantarnya tetap meminta kepada para ibu agar memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan, dan dilanjutkan sampai anak berumur 2 tahun dengan ditambah makanan pendamping ASI, karena ASI seratus persen memenuhi kebutuhan gizi bayi. Di samping itu, dengan ASI bayi akan memperoleh kekebalan tubuh dari ibunya, tegas Menkes. Pemberian susu formula hanya diberikan pada kondisi dengan indikasi medis tertentu, yaitu kondisi medis bayi dan/atau kondisi medis ibu yang tidak memungkinkan dilakukan pemberian ASI eksklusif.

Referensi :

One Comment leave one →
  1. titis permalink
    13/07/2011 1:41 pm

    lebih penasaran sama metode yg dipakai IPB pas pertama kali meneliti susu2 ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: