Skip to content

Wujudkan Mimpi Itu, Kawan !!!

13/07/2011

Ambisimu telah mengalahkan kemampuanmu!

(nasehat Casey Stoner untuk Valentine Rossi)

Sebuah ‘nasehat’ yang sarat makna dari seorang casey stoner untuk sang legenda hidup Moto GP Valentine rossi, nasehat yang diberikan stoner setelah jatuh karena overtake dari sang legenda saat balapan di jerez tersebut menggambarkan bahwa ambisi harus sejalan dengan kemampuan, ketika salah satu melebihi yang lain, maka hasilnya pun nihil, nihil karena apa yang kita inginkan tidak akan pernah kita dapat, nihil karena kita terlalu memelihara ambisi kita sementara tidak pernah mau bercermin bahwa ternyata kemmmpuan kita terbatas.

Mimpi tentu beda dengan ambisi, mimpi adalah sesuatu hal yang terukur dan sistematis, sementara ambisi adalah implementasi dari sebuah keinginan yang berlebihan terlepas seseorang mampu meraih atau tidak, mimpi hanya meletakkan target pada tempatnya, berpijak pada realita yang ada, dan yakin bahwa ‘target’ nya akan menghasilkan hal yang nyata dan berhasil untuk dirinya sendiri maupun elemen – elemen yang ada disekitarnya.

Stoner tetaplah stoner, rossi pun juga demikian, tetaplah rossi sang legenda moto GP, tapi kisah keduanya bisa menjadi panutan bagi kita sebagai apoteker dalam meletakkan ambisi dan mimpi pada posisi yang sebenarnya, tentu, disini penulis tidak akan mengkebiri orang – orang yang mempunyai ‘ambisi’ yang besar, seperti yang pernah disinggung Pramoedya ananta tour bahwa hakim dari tulisan kita yang sebenarnya adalah pembaca, terserah bagaimana mereka menginterpretasikan tulisan yang kita hidangkan. Maka disinilah penulis ingin meletakkan mimpi kita sebagai apoteker serta menyelaraskan ambisi kita sebagai tim kesehatan.

Lets see..

Mimpi kita sebenarnya terwujud ketika Raja Jerman Frederick II dengan dekrit terkenalnya “Two Silices” telah memisah antara peramu obat (apoteker) dengan dokter, mulai saat itulah kita telah mempunyai tempat dan fungsi yang sebenarnya. Dan dari sanalah dapat dilihat bahwa sebenarnya akar dari ilmu farmasi dan kedokteran adalah berawal dari tanah dan benih yang sama, sehingga seharusnya berbuah yang sama enaknya untuk dinikmati.

Namun, ternyata proses berjalannya mimpi itu tidak semulus mimpi kita, atau setidaknya mimpi para pendahulu kita (peramu obat), saat inipun bisa kita lihat perjalanan kefarmasian masih tertatih tatih, disaat benih yang lain telah begitu megahnya, berbuah yang sangat manis sehingga banyak orang yang berkumpul dibawahnya, tidak hanya sekedar untuk meminta ‘perlindungan’, tapi tentu saja untuk mencicipi buah yang manis itu untuk membuat mereka sembuh atau meningkat kualitas hidupnya dengan bebas dari segala penyakit, dan sampai saat ini pun orang – orang masih menganggap ‘benih’ itu sebagai dewa penyembuh. Tapi, coba kita lihat ‘benih’ yang lain, sudah maniskah seperti ‘benih’ saudara tuanya? Sudah tumbuhkan ‘benih’ itu menjadi pohon yang rindang yang dapat memberi naungan untuk orang – orang yang ingin mencari perlindungan terhadapnya dengan sekedar berteduh dibawahnya? Hmmmmm…ternyata benih dari akar dan tanah yang sama tersebut berakhir berbeda.

Yaa..saat yang lain sudah meneguhkan diri sebagai ‘dewa penyembuh’, kita masih berkutat pada regulasi yang tidak pernah berujung, ibarat kita masih sibuk mengumpulkan dahan dan ranting untuk membuat pagar demi melindungi benih tersebut dari pemangsa, alih – alih dengan menyirami dan memupuk benih tersebut, bahkan benih yang belum juga tumbuh tersebut terus kita pagari setinggi mungkin dengan berbagai regulasi yang ada dan tanpa ujung, bahkan menghalangi sinar matahari yang justru menjadi energy bagi benih tersebut untuk bisa tetap tumbuh.

Kawan, apa yang dilakukan oleh raja Frederick II adalah sesuatu yang mulia, mimpinya adalah melihat bahwa akan terbentuk tim yang sempurna dengan fungsi serta tugas yang terpisah sehingga akan dihasilkan pelayanan kesehatan yang optimal, sang raja berharap bahwa ‘benih – benih’ itu akan tumbuh bersama, saling melengkapi dan saling menghormati satu sama lain, mampu tumbuh menjadi sepasang pohon yang rindang dan berbuah manis sehingga bermaslahat bagi orang yang berharap kesembuhan dari sinergi keduanya.

Berbagai pemikiran

Kawan, apoteker adalah profesi kita dan telah menjadi harapan bagi semua orang, beberapa dari mereka telah lama menunggu tumbuh dan kembangnya benih itu menjadi pohon yang tidak hanya berbuah manis tapi juga menyediakan buah yang dapat membuat mereka ‘kenyang’ ketika mereka menikmatinya.

Apoteker punya semua syarat untuk menjadi pohon harapan tersebut, apoteker tentu punya lebih dari elemen – elemen yang menasbihkan mereka sebagai profesi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, tentu dengan support dari berbagai pihak, baik itu IAI sebagai organisasi profesi maupun apoteker itu sendiri.

Penulis dalam hal ini, beberapa waktu yang lalu sering berdiskusi dengan ketua IAI Jatim periode lalu, bahwa yang sebenarnya kita butuhkan untuk perkembangan apoteker saat ini adalah mimpi dari tiap apoteker itu sendiri, artinya bahwa apapun regulasi dari pemerintah, sebanyak apapun undang – undang yang dibuat, jikalau apoteker masih tidak mau beranjak dari posisi nyamannya sekarang, maka mimpi – mimpi itu hanyalah busa ditengah lautan, terlalu banyak tapi kosong realita!

Mimpi kita jelas kawan, menjadi profesi yang diakui sebagai expert of medicine, tentu tidak hanya ‘diakui’ yang justru terkesan sarkastis, tapi mampu mengaplikasikan ilmu kita sesuai porsi dan fungsi yang SEBENARNYA!!. Memberi pelayanan kefarmasian yang paripurna kepada masyarakat adalah mimpi kita bersusah – susah mencari ilmu di bidang kefarmasian bukan?

Para apoteker, semuanya, harus bergerak bersama untuk sekedar mau beranjak dari zona nyaman nya, zona nyaman yang selama ini telah menyembunyikan bisul – bisul di -maaf- bokong kita. Janganlah kita memelihara ambisi untuk bisa menjadi lebih tinggi dari pohon – pohon lain, sementara tubuh kita terlalu kurus untuk menyokong lebatnya daun dan banyaknya buah kita, sehingga justru akan merobohkan pohon kita, tapi fokuslah pada apa yang menjadi mimpi kita, yaitu menjadi pohon yang kuat, akar yang kuat mencengkram tanah, daun yang hijau dan rindang, serta buah yang manis. Demi orang – orang yang membutuhkan tangan kita.

Tulisan ini sekedar pembuka dari kami untuk memberi solusi bagi perkembangan dunia kefarmasian, semoga anda pembaca mempunyai kesabaran yang lebih untuk sekedar berdiskusi dengan kami, dan kami tentu dengan senang hati menyeduh kopi buat anda nikmati sembari berdiskusi tentang solusi-solusi ini.

Karena, tentu tidak baik bagi kami, calon apoteker memberi nasehat bagi para apoteker, ini hanyalah solusi yang bisa sekedar jadi bahan bagi kita saat ‘menikmati kopi’…😀

“Do what you can, with what you have, where you are.”
– Theodore Roosevelt

Fuad Pribadi
Mahasiswa Apoteker Program Pelayanan Farmasi, Institut Teknologi Bandung
Lulusan Farmasi Universitas Jember, Jawa Timur

5 Comments leave one →
  1. 14/07/2011 12:59 pm

    Masalah yg multidimensi. Multikepentingan.
    Ayo tmn2, saya tunggu di arena praktek kefarmasian yg “nyata”. Smoga tmn2 kelak tersebar di berbagai formasi, lalu sm2 kita bangkit wujudkan mimpi itu dari berbagai sisi.
    😀

  2. Monika Oktora permalink
    15/07/2011 8:15 pm

    waaa.. suhu afinna, doakan kami bisa disumpah secepatnya, trus terjun ke lapangan deh (lapangannya apa yaa?) hehehe. udah pengalaman dimana aja skrg pinaa??

  3. 26/07/2011 7:37 am

    hahaa..amin aminnnn..smoga cpt beres ujian yahhhh monikk dan kawan2, trus disumpah dehhh..
    apin pas lulus sempet k industri bbrp bulan..trus skrg di BPOM dehhhh..

  4. Fuad permalink
    14/08/2011 11:15 am

    Hehehe..
    Siiiippp..siiiippp..
    Makasih ya ibu apin buat suportnya,tnggu aja..suatu saat mimpi kami akan trwujud..

  5. 18/08/2011 12:37 pm

    hey fuad, sombong amat.. “mimpi kami”.. mimpiii kita smuaaaa hrsnyaaa.. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: