Skip to content

ASPAL (ASLI ATAU PALSU)

14/07/2011

Bayangkan jika kita salah memilih obat, ketika obat yang kita pilih dan kemudian kita minum itu adalah obat yang palsu.Tentu saja mengonsumsi obat palsu adalah kesalahan yang tidak disadari. Hmmm. Bagaimana ya akibatnya?

Bahaya mengonsumsi obat palsu dapat dirasakan secara langsung ataupun tidak. Kesehatan pasien yang mengonsumsi obat palsu dapat semakin terganggu, tidak segera sembuh atau target pengobatan tidak tercapai, semakin parah, muncul penyakit baru, bahkan dapat menyebabkan kematian. Selain masyarakat sebagai konsumen, industri farmasi di Indonesia juga tentu saja turut menanggung kerugian akibatnya meskipun tidak secara langsung.

International Pharmaceutical Manufacturers Group memperkirakan peredaran obat palsu di Indonesia pada tahun 2011 mencapai nilai 15%-20% dari proyeksi total pasar farmasi nasional pada tahun ini. Angka ini  meningkat 11% dibanding tahun lalu. Dalam angka rupiah nilai tersebut sebesar 3,7 triliun sampai 7,6 triliun rupiah. Peningkatan tersebut kemungkinan karena tingkat konsumsi obat yang juga meningkat. Obat palsu yang beredar di Indonesia ada yang dibuat di dalam negeri maupun diimpor secara ilegal dari beberapa negara seperti Singapura dan Malaysia. Obat-obat yang biasanya dipalsukan adalah obat yang tingkat konsumsinya tinggi, misalnya obat untuk penyakit degeneratif, antibiotik, obat peningkat stamina pada pria, obat malaria, TBC, HIV/AIDS, dan sebagainya. Maraknya obat palsu ditengarai karena mahalnya harga obat menyebabkan masyarakat cenderung memilih obat yang harganya murah, lemahnya pengetahuan konsumen tentang obat, lemahnya penegakan hukum terhadap pemalsu obat, dan terbatasnya tenaga pengawas di bidang obat.

Obat palsu tidak hanya beredar di negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju. Badan Perdagangan Dunia menyebutkan, jenis  obat yang banyak dipalsukan di negara maju antara lain hormon, obat kanker, dan obat HIV/AIDS.

Bagaimana ya supaya terhindar dari obat palsu? Ada baiknya kita tahu terlebih dulu apa itu obat palsu. Ada enam kategori obat palsu yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, yaitu obat yang tidak memenuhi persyaratan, obat dengan bahan aktif yang tidak sesuai dengan penggunaan produk obat, obat dengan bahan aktif di bawah standar, obat yang tidak mengandung bahan aktif sama sekali, obat yang diproduksi oleh produsen yang tidak berhak berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, atau obat dengan penandaan meniru identitas obat lain yang telah memiliki izin edar.

Obat palsu sering ditemukan di toko obat tidak berijin, kios, pedagang keliling, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Kemasan juga dapat menjadi indikator obat palsu. Sebelum membeli, perhatikan apakah warna, tulisan, gambar, dan komponen lain sesuai dengan kemasan yang biasa diperoleh dari sumber resmi. Amati pula karakter dari obatnya itu sendiri, misalnya tablet lebih rapuh, larutan seharusnya jernih tetapi keruh, dan sebagainya. Dari segi harga pun perlu diperhatikan. Merek yang sama, obat palsu umumnya dijual lebih murah daripada aslinya, meskipun tidak selalu demikian.

Nah, ada beberapa tips supaya terhindar dari obat palsu :

  • Pertama dan yang paling utama adalah pilih tempat yang aman untuk membeli obat, yaitu apotek atau toko obat berizin yang telah resmi diakui oleh pemerintah.
  • Perhatikan nomor registrasi. Nomor registrasi merupakan petunjuk bahwa obat sudah mendapat ijin edar resmi. Eits, tapi pernah terjadi juga lho pemalsuan nomor registrasi. Daftar nomor registrasi dan produk obat yang telah mendapat ijin edar dari BPOM dapat dilihat di halaman web BPOM RI.
  • Periksa kualitas fisik obat dan kemasan.
  • Untuk obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter hanya boleh dibeli di apotek bukan di toko obat yang sudah berijin sekalipun. Berdasarkan perundangan toko obat tidak boleh melayani permintaan obat yang harus dengan resep dokter, yaitu obat dengan logo lingkaran berwarna merah pada kemasannya dan di dalam lingkaran itu terdapat huruf K. Selain itu ada pula obat yang boleh diberikan tanpa resep dokter akan tetapi hanya dapat dibeli di apotek, yaitu obat-obatan yang pada kemasannya terdapat logo lingkaran berwarna biru. Sedangkan toko obat hanya boleh menjual obat yang pada kemasannya terdapat logo lingkaran berwarna hijau.
  • Perhatikan tanggal kadaluwarsanya.

Referensi:

http://www.stopobatpalsu.com/index.php?modul=bersama&cat=BBerita&textid=306747284324

Unit Layanan Pengaduan Konsumen Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandung

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: