Skip to content

Nasib Apoteker di Apotek

16/07/2011

Sebagai salah satu pengisi di blog ini, sejujurnya saya akui rubrik sharing praktikum adalah rubrik yang kurang saya sukai karena selama saya kuliah di farmasi tidak ada praktikum yang benar-benar saya sukai. Akan tetapi, saya dituntut untuk harus menulisnya. Karena ini adalah salah satu tanggung jawab saya. So, here I’m writing this article for you all the readers.

Baiklah, saya akan berbagi mengenai pengalaman saya selama Kerja Praktek yang katanya praktikum di masa perkuliahan profesi apoteker. Sebagai mahasiswa yang mengambil spesialisasi Pengawasan Produk dan Mutu di profesi apoteker saya diwajibkan mengikuti Kerja Praktek di 3 tempat yaitu Industri, Pemerintahan, dan apotek. Diantara ketiga tempat Kerja Praktek itu, tidak ada yang saya benar-benar saya sukai tetapi kalau disuruh memilih saya akan menunjuk industri. Alasannya, realistis saja, karena gajinya lebih besar.

Di tulisan ini, saya akan membicarakan mengenai apa yang saya kerjakan selama Kerja Praktek di Apotek. Selama Kerja Praktek di apotek, saya banyak menemukan hal-hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Call me idealist, tetapi saya geregetan melihat hal-hal yang sebenarnya saya tidak harapkan. Misalnya, antibiotik yang termasuk ke dalam golongan obat keras dan harus dibeli dengan resep dokter bisa diperoleh dengan mudah seperti membeli permen. Jumlahnya pun suka-suka, bisa beli lima buah tablet bahkan dua buah tablet. Lebih mencengangkan lagi, yang menyerahkan obat itu mempunyai gelar apoteker di belakang namanya. Sometimes she gave it without giving any advice or something. Kalau memang mau disebut swamedikasi (self medication), at least berikan mereka (para pembeli obat) informasi mengenai obat yang mereka beli.

Apotek ini mempunyai slogan “Tiada Apoteker Tiada Pelayanan”. Nah lho, tetapi yang saya lihat, ada atau tidak ada apoteker, tetap saja pembeli dilayani. Toh yang penting pemasukan tetap mengalir.

Saya akan bandingkan kondisi perapotekan di negeri ini dengan negeri sebelah. Sewaktu saya mengikuti internship program di salah satu universitas di Malaysia, saya ditempatkan di salah satu apotek di universitas tersebut. Sangat kontras dengan kondisi disini, apoteker di Malaysia selalu ada di apoteknya dan langsung melayani pembeli obat serta memberikan informasi obat. Dan obat-obatan yang memang digolongkan ke dalam golongan obat keras tidak bisa dijual sembarangan begitu saja.

Sebenarnya, kita tidak bisa membandingkan begitu saja. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memperbaiki kondisi per-apotek-an di Indonesia. I’m telling you here, pendapatan yang diperoleh selama bekerja di apotek tidak sebanding dengan pendapatan bekerja di  industri atau pemerintahan. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa banyak apotek yang apotekernya jarang ada di tempat, cuma nama dan fotonya terpampang di depan apotek.

Banyak yang bilang, calon apoteker muda itu pikirannya idealis. Mereka belum tahu sih bagaimana kondisi di lapangan. Makanya, kalau mau dibuat realistis, kita buat resolusi dan melakukan revolusi untuk memperbaiki nasib apoteker di apotek. Toh tidak ada salahnya juga kan kita langsung terjun ke lapangan menghadapi pasien. Hitung-hitung meng-eksis-kan diri di masyarakat. Selama ini apoteker tidak dikenal oleh masyarakat, nah apotek lah tempat kita memperkenalkan diri pada mereka.

Jika sudah tahu dimana kesalahannya, ada baiknya kita memperbaiki kesalahan itu kan. Tidak ada kata terlambat.

16 Comments leave one →
  1. mosa :) permalink
    16/07/2011 3:53 pm

    that’s right sist!! Idealis atau realistis? sbnrnya yg anda katakan memang benar2 terjadi diindonesia. memang hal yg terjadi dilapangan jauuuh berbeda dgn apa yg slama ini anda fikirkan. Anda akan menemukan jawabannya ktika anda sudah terjun dilapangan itu sndiri. Dan bukan tidak mungkin ada akan berkata ‘oh iya juga ya..’

    • diha madihah permalink*
      18/07/2011 12:21 am

      iya tapi masi ada kesempatan untuk mengubah hal2 yang gak diinginkan. anyway, thanks for visiting our blog!🙂

  2. kamelia sri maryanti permalink
    16/07/2011 9:45 pm

    hem..stuju di.. knapa kebanyakan orang berfikir ketika di dunia nyata kadang idealisme sudah tidak relevan lagi? padahal dengan usaha keras dan niat yg benar idealisme itu bisa memperbaiki realitas yang ada sekarang.. moga kita bisa membuat perubahan yg lebih baik saat kita terjun ke dunia kerja kita *dimanapun lahan kita, industri, distribusi, RS, komunitas* nanti🙂

    • diha madihah permalink*
      18/07/2011 12:25 am

      well, we can’t be both being an idealist and realist at the same time. hehe ayo kamel sebagai generasi penerus bangsa ini lah saatnya kamu beraksi🙂

  3. 17/07/2011 7:37 am

    Nice post, cantik..😉
    memang di segala lini pekerjaan kefarmasian ada aja ‘idealis vs realistis’ nya. bukan cuma di apotek, pas saya KP di industri nih, wah, hampir semua apoteker yg berkecimpung di dalamnya, hampir semuanya menganut paham bahwa ‘gak bisa selalu idealis’, karena jujur di industri tempat saya KP ini, ada jg hal-hal yg gak sesuai sama CPOB sebutlah, ya tapi alasan mereka seperti itu..🙂
    dan kita masih patut bersyukur, bahwa, IMHO, ada jg kok apotek yg sudah menerapkan peraturan dan prinsip pelayanan kefarmasian dengan benar. i’ve seen it myself.. ya walaupun gak sesempurna itu juga..🙂

    soal kehadiran apoteker di apotek, mungkin di sinilah peran penting Apoteker Pendamping atau Apoteker PIO ya.. yg biasanya kesempatan kerjanya terbuka buat kita-kita yg nantinya akan keluar sebagai ‘fresh graduate’. nah, furthermore, kita-kita yg ceritanya udah tau apotek itu baiknya seperti apa, semoga saja mau berkontribusi di ‘lahan’ yg satu ini, seperti yg diha bilang, terjun langsung ke lapangan menghadapi pasien..

    niat ini, termasuk niat yg bisa dibilang ‘idealis’ juga bukan? mengingat seperti yg tersirat di artikel ini, bahwa gaji di apotek nggak lebih besar dari gaji di industri… tinggal balik ke kita lagi, siap atau tidak?😀

    • diha madihah permalink*
      18/07/2011 12:30 am

      thank you marinaa hihi. iya pasti ada 1 dari 1000 apotek di indonesia yang mengikuti peraturan dan tetek bengeknya, atau mungkin sedang menuju kesana. mungkin ada baiknya gaji apoteker dinaikin, gaji yg didapetin itu gak sebanding sama kuliahnya yang lama dan susah. hehe. jujur aku sih mikir berkali-kali kalo mau kerja di apotek dgn gaji yang mungkin ga seberapa itu. mendingan jadi apa kek.
      btw, di industri juga ada kok ga ngikutin2 bgt CPOB, ya tujuannya cari keuntungan.

      • Monika Oktora permalink
        19/07/2011 6:03 am

        kalo gaji apoteker di apotek dinaikin mgkn susah dihaa.. (buat di indonesia yg negara berkembang), karena inventornya apoteknya kan pengen balik modal, pengen untung, ngejer omzet, jadi biaya2 gaji itu yg diteken. itulah yang bikin apoteker ga mau ada di apotek, gajinya dikit kok, mending di apotek jadi sambilan. beda sama di luar negeri yg kefarmasiannya udah mapan. apoteker pasti ada di apotek. gaji apoteker pun termasuk yg tinggi.
        padahal sejatinya pekerjaan apoteker itu ya di apotek. kalau kata pak leo utk di indonesia yg 80% apoteknya adalah apotek kecil, lebih baik apoteker itu punya apotek sendiri, hehehe…

  4. Dwi Putri Y. Y. permalink*
    17/07/2011 8:38 am

    tergelitik berkomentar…😀
    diawali dengan quotes
    “Ada yang pernah bilang kalau idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh generasi muda….” ~ saya pinjam dari Donny Dhirgantoro pengarang novel 5cm

    Idealisme vs realita,
    saya setuju dengan konsep terjun langsung ke lapangan menghadapi pasien, yang berarti tempat praktek apoteker adalah apotek. Saya selalu ingat juga pesan salah seorang dosen kita Diha, “apoteker boleh saja memilih – milih pekerjaannya, pada akhirnya tempat praktek profesinya ya tetap saja di apotek”

    *selingan* And now i know kenapa ujian visi misi saya tidak mendapat nilai sempurna karena tidak menuliskan cita – cita untuk memiliki apotek. *selingan*

    Hanya saja disini, IMHO, ketika kita terjun ke lapangan bukan lagi hanya pikiran memajukan profesi ini yang harus ada di benak kita. Semua ini terkait secara sistemik.

    Peraturan perundang-undangan dibuat menuliskan segala praktek ke-idealisme-an, masalah praktek di lapangan masih jauh dari sana ya karena semua hal butuh proses. Seperti yang kita tahu, kan peraturan perundang – undangan sendiri dibuat dengan 3 tujuan utama, melindungi masyarakat dalam penggunaan perbekalan farmasi, melindungi masyarakat dari praktik tidak bertanggung jawab, dan melindungi profesi farmasi dari orang – orang yang tidak kompeten.

    Adanya penetapan DOWA (Daftar Obat Wajib Apotek)di Permenkes 924/1993, bukankah selain untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri, disana juga tersirat pesan bahwa ayo dong kamu apoteker eksis! secara jelas di peraturan tersebut dinyatakan peran apoteker dalam pelayanan KIE dan pelayanan obat perlu ditingkatkan… tinggal kembali ke tanggung jawab masing – masing..

    Pertimbangan-pertimbangan begini baru sedikit saya pahami ketika saya diberi kesempatan banyak berdiskusi saat PKPA Pemerintahan.

    Satu hal lagi yang terpikirkan oleh saya tentang masalah idealisme vs realita, ingat kasus misran yang dituliskan teman kita, Fuad Pribadi? Kasus Misran, beliau seorang mantri yang akhirnya memenangkan gugatan yang akhirnya berujung pada diperbolehkannya semua mantri dan perawat di seluruh Indonesia untuk melakukan praktek seperti halnya apa yang dilakukan oleh dokter atau apoteker.

    Nah, kalau mau berpikir idealis, bagaimana dengan hal tersebut? kalau benar2 mau memberikan pelayanan yang menyeluruh, siapkah kita menggapai tempat – tempat yang boleh dibilang ‘somewhere only they know’ itu? Membuka praktek (baca: apotek) di sana?

    hmm.. Dunia ini punya wilayah putih;abu-abu;dan hitam.. saat ini kita belajar, kita ada untuk mengenal dunia yang putih agar tahu mana yang termasuk hitam, mungkin suatu saat kita bisa berada di wilayah abu – abu yang tentunya harus diseret menjadi putih!
    😀😀😀

  5. 28/07/2011 11:32 am

    numpang nimbrung ya.. we share a little knowledg.

    sbtulny saat ini kta bleh bngga dgn status kta sbagai apoteker, krna sdh bnyak ilmu kedokteran yg scara tdk sngaja kta curi, sperti mendiagnosa swatu pnyakit, y trmasuk pnatalaksanaan terapi., kalo kta mau dan mmpu mmbuat masyrkat prcaya, bisa jdi peran kta bsa lbih besar d banding peran para dokter, ap lgi skrang bnyak obat-obatan golongan G yg djual bebas dipasar.

    sbetulny mslah Gaji sih tdak trlalu bisa d prmasalahkn, kalo mau gaji selangit ya sya setuju dngan saran ny mbak monika, punya apotek sendiri..

  6. 28/07/2011 4:51 pm

    salahnya itu ya gaji apotek yang kecil

    opik pernah ngobrol2 ama kang irul, dan emang menyedihkan nasib apoteker di pelayanan, udah gaji kecil, ga dihargai lagi ama dokter maupun pasien. soalnya ngeliat sendiri dia bagaimana orang yang pinter segala macem, yang ngajarin dia segala macem, saat jadi apoteker di RS gaji dan penghargaannya ya cuma segitu aja.

    jadi pengen nanya, sebanding ga sih biaya kuliah dengan kerjaan kita nanti?

    klo soal apotekernya ga bener sih opik juga kadang-kadang suka heran. Waktu itu pernah opik menjumpai pembeli yang dicurigai karena beli obat A, dan si asisten apotekernya juga udah ga mau memberikan karena obatnya bisa buat B, tapi apotekernya malah memberikan. opik juga baru sadar ketika pembelinya dah pergi dan ketika ngobrol2 ama si AA-nya.

    soal eksistensi farmasi, opik kembali ke tugas farmasi itu sendiri, farmasi itu the art of compounding and dispensing. seni meracik dan menyerahkan. harapannya farmasi dipandang bukan sebagai pedagang saja, tapi seorang praktisi kesehatan.

    sedikit cerita yang mencerahkan, ni pengalaman si iman

    dia memberikan informasi bahwa obat herbal yang diminum ibu menaikkan tekanan darahnya, soalnya obat herbal tersebut mengandung jahe, dan ibu itu langsung sangat berterima kasih pada Iman karena sejak itu masalah yang sering menghampirinya menghilang

    yah, apa yang kita anggap kecil di mata seorang farmasis bisa bernilai besar bagi pasien kita,
    contoh aja cara minum obat atau obat harus disimpan dimana biar tetap stabil, itu hal yang sangat berarti.

  7. BUDI ARTO permalink
    28/07/2011 9:37 pm

    Yang jelas Apoteker Itu harus Profesional, jangan sampai mau beli Vitamin malah dikasih Obat Muntaber or disentri. Untung kalo ngerti tuh Pasien kalo ngga…langsung ditenggak aja ..Just my experience as a patient,,,,

  8. Kangaboed permalink
    28/07/2011 9:43 pm

    Yang jelas Apoteker Itu harus Profesional n jangan asal baca tulisan dokter jangan sampai mau beli Vitamin malah dikasih Obat Muntaber or disentri. Untung kalo ngerti tuh Pasien kalo ngga…langsung ditenggak aja ..Just my experience as a patient,,,,

  9. May permalink
    01/10/2011 11:45 am

    That’s why kok sampai saat ini saya tidak mau pegang apotek milik PSA…saya hanya akan pegang apotek kalau apotek itu milik saya sendiri…( menuju ke sana nih …mohon doanya ya )…karena bukan hanya masalah jasa apoteker saja lebih lagi harga diri sebagai apoteker yang seharusnya partner kerja tapi di apotek milik PSA sering kali apoteker hanya bisa menurut PSAnya, kalo ngga nurut maunya PSA…ciaaaaat bisa rame sampe dinkes…SEMOGA saudara/i rekan Apoteker bisa menjalankan panggilannya sebagai apoteker sebagaimana mestinya … not for money, not for PSA…lebih lagi untuk menjalankan profesi anda…

  10. noname permalink
    14/12/2011 1:55 pm

    nice post..
    tapi realistis aja, bahwa apoteker masih di gaji sangat, sangat, sangat rendah sekali..di jogja aja masih ada apoteker yang harus diem di apotek dan hanya di gaji 1 juta, senin-minggu harus ada di apotek..
    uang jajan saya waktu kuliah ma gaji apoteker di apotek aja masih gedean uang jajan..ini yang bikin banyak apoteker yang jarang ada di apotek karena mereka mencari penghasilan lain di luar sana. Sebaiknya qt pikirin bagaimana cara meningkatkan kesejahteraan kita? perlukah ada kebijakan laen, seperti qt galakkan program IAI, di apotek di buat ruang konsultasi obat bebas dengan pemberian royalti, tunjukkan fungsi kita di depan pasien, jangan bekerja di belakang layar terus, buat apa qt di ajarin farmakoterapi klo qt ga berani memberikan informasi n saran kepada pasien? tapi balik lagi kita hanya memberi saran, untuk antibiotik dan obat-obat yang perlu ditebus dengan resep dr, sebaiknya konsultasi dengan dr sebelumnya.
    semoga temen2 apoteker muda bisa membawa aspiraasi dari temen2 apoteker lain yang kesejahteraannya masih dibawah gaji buruh di bandung, 1.4 juta..sukses terus

  11. 24/12/2011 8:18 pm

    (˘_˘”) baru aja nyelesaiin praktek profesi..
    Yaah right.. Banyak banget yang gak sesuai aturan n bahkan teori2 yang di ajarin di bangku kuliah..

    Walhasil when nanya ma apoteker kok gini kok gitu.. Alih2 mereka cuman bilang, yaah suatu kalian bakal ngerasain dunia kerja yang nota bene gak sama dengan teori yang ada..
    Prihatin! Miris dan entahlah karena faktanya hal itu malah terekam di benak!
    -_-” (ˇ_ˇ¡¡)

  12. sheylla shafira permalink
    05/08/2014 7:39 pm

    Klo boleh tau gaji min apoteker brapa ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: