Skip to content

Demi Sebuah Senyum

30/10/2011

“Don’t cry because it’s over, smile because it happened” -Dr. Seuss-

Akhir September. Hari yang biasa tapi penuh makna karena dihari itulah akhirnya dapat melihat senyum mereka, senyum dari orang-orang yang berharap pada kelulusanku dari ujian apoteker ITB. Ya, senyum merekalah yang selalu menjadi semangat bagi saya dan mungkin bagi teman-teman yang lain untuk terus berjuang, mengeluarkan segala kemampuan terbaiknya untuk melihat namanya terpampang di papan pengumuman sebagai lulusan apoteker ITB.

Selama dua bulan kami berjuang, selama itu pulalah segala doa dan usaha yang paling maksimal dari yang pernah kami lakukan hanya untuk satu kata yang dahsyat, LULUS!!

Wajah serius, sedih, capek telah menghiasi seluruh teman-teman yang saat itu berjuang di ujian apoteker. Terlihat di wajah mereka rasa capek yang luar biasa, tentu saja tidak hanya capek secara fisik tetapi juga capek secara mental dengan tekanan yang sangat besar. Textbook bahan ujian yang begitu banyak seolah telah menafikan teori dari Frank Zappa bahwa terlalu banyak buku, maka terlalu sedikit waktu yang kita punya. Pembenaran pada satu hal bahwa efek psikologi lebih penting bagi kami daripada berpikir soal waktu atau pun apakah memang benar akan dipakai semua buku tersebut, yang terpenting bagi kami adalah terlalu banyak buku, maka akan ada banyak pula ketenangan yang hadir dalam semua persiapan kami menghadapi ujian apoteker.

Ketenangan itulah yang selalu menjadi bahan “doktrin” bagi sebagian besar dosen kami saat dilakukan tutorial yang menjadi salah satu bagian dari proses persiapan ujian apoteker. Menurut mereka, ketenangan inilah yang akan menjadi poin terpenting bagi seorang mahasiswa saat menerima soal ujian apoteker. Menurut mereka, ketika hati tenang, maka pikiran dan hati akan bersatu padu untuk memperjernih potensi analisis individu sehingga mampu berpikir kemana dan apa yang harus dikerjakan. Hal itulah yang menjadi dasar bagi kami ketika kami berada di tempat belajar masing-masing. Tumpukan buku sampai foto-foto keluarga kami, yang seolah menjadi pelecut semangat saat mata mulai meredup, berjuang melawan rasa capek selama ujian apoteker.Hari pertama ujian apoteker itu pun tiba saat ketegangan di wajah-wajah kami belum hilang sepenuhnya, bahkan ada yang terlihat makin tegang dan tidak berhenti berdoa, semua berharap, semua berdoa, dan semua berpasrah diri pada Yang di Atas untuk diberi kemudahan dan kelancaran saat proses ujian apoteker selama dua bulan ke depan. Jam pun menunjuk angka 8, saat itu pulalah undian soal dilakukan. Saya mendapat urutan terakhir nomor ujian, maka ketegangan pun makin menjadi setelah melihat wajah-wajah penuh ekspresi dari teman-teman yang kebagian undian terlebih dahulu. Pada akhirnya giliran saya tiba, saya mendapat soal yang membuat saat itu tidak tahu harus berekspresi seperti apa, entah mau senyum atau apa. Bagaimana tidak, soal itu belum pernah saya baca, dengar ataupun lihat, satu-satunya alasan bagi saya buat tersenyum hanyalah sediaan dari soal tersebut yaitu tablet yang bagi saya relatif lebih mudah dibanding sediaan yang lain.

Saat kembali ke tempat duduk, sama seperti yang dilakukan teman- teman yang lain, mulailah saya membuja list bahan-bahan ujian, ternyata obat saya tidak ada di Farmakope Indonesia (FI) 4, juga tidak ada di ISO maupun MIMS. Sampai saat itu saya berusaha tetap tenang, tenang dan tenang walaupun kecemasan yang luar biasa tergambar dari wajah dan tangan yang mulai berkeringat. Sembari menunggu giliran fotokopi pool book yang sudah disesuaikan kampus, saya pun buka buku farmol yang ada di meja, AHFS pun saya buka, dan betapa kagetnya saya ternyata obat yang saya cari-cari dan gak ketemu di FI, ISO atau MIMS itu adalah obat untuk flu burung. Dalam hati saya hanya bergumam, bagaimana saya bisa menemukan data obat ini kalau patennya saja masih ada dan baru berakhir tahun 2014. Baiklah… itulah kata pertama yang muncul begitu tau obat tersebut.

Akhirnya giliran saya ke depan untuk fotokopi buku-buku yang ada di pool book. Mulailah dengan penuh harap saya buka USP yang dibilang buku wajib, tapi tidak sebaik pikiran saya, ternyata data di USP 32 untuk obat tersebut tidak ada. Pikiran ini penuh tanya, data untuk Oseltamivir yang kata AHFS untuk avian influenza ini tidak ditemukan di monografi manapun yang ada di jejeran pool book di depan, baik USP 32 maupun seri USP yang lebih lama, BP 2008, JP, Clark’s maupun Florey. Buku-buku yang selalu menjadi senjata kami saat mengerjakan bagian bab pertama sampai bab analisis. Rasa penasaran saya membuncah dengan berkali-kali, bolak-balik ke depan untuk memeriksa kembali. Mungkin mata saya kurang jeli melihat data monografi. Saya percaya pada pernyataan seorang dosen bahwa tim panita ujian apoteker tidak akan pernah mengeluarkan soal yang tidak ada di monografi yang ada. Alhasil, hari pertama saya hanya menyelesaikan bagian farmakologi, cuma 1 bab diantara 7 bab yang harus selesai selama 2 hari.

Jam pun menunjuk angka 5, itu tandanya bagi saya untuk harus mulai mencari data kemanapun saja, demi mendukung analisis soal ini. Terdengar samar-samar suara lantunan ayat Al-Qur’an dari masjid, tepat saat sang qori’ membaca ayat Al-Qur’an, yang kurang lebih artinya setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Ayat yang sama yang selalu diputar teman-teman se-asrama saat masih SMA dulu ketika menjelang maghrib. Tidak seperti dulu yang sering acuh, sekarang lantunan ayat itu benar-benar bermakna artinya, sekaligus berharap memang ada kemudahan setelah ini.

Saya pulang dengan muka kucel karena keruwetan saat mengerjakan soal di kampus. Kemudian, ternyata ada teman yang membawa kabar gembira, sebuah kabar yang memperpanjang napas saya, Dua halaman USP 34 tertera informasi mengenai Oseltamivir phosphate. Inilah yang langsung membuat raut muka yang tadinya kucel langsung berubah menjadi senyum yang lebar. Dua halaman yang selama satu hari pertama ini saya cari ternyata ada di USP 34 yang baru launching bulan agustus ini. Ya.. Bertepatan saat saya menghadapi ujian apoteker ini. Ckckck.. Memang benar pernyataan bapak dosen, bahwa tidak akan mungkin mengeluarkan soal yang tidak ada di monografi. Hmmmm.. Bahkan SF pun belum punya buku USP 34 ini. Ternyata pustaka soal ini harus dicari di industri farmasi, bukan di SF. Memang benar, setelah kesulitan, maka akan ada kemudahan. Dari dua halaman inilah, dua sampai empat bab bisa terselesaikan. Mulailah malam itu juga sampai jam 02.30 pagi saya menyelesaikan 6 bab yang belum saya tulis di hari pertama, sehingga besok harinya tinggal menulis di lembar ujian.

Hari kedua, mata masih sangat berat, tapi jam di dinding terus berteriak meminta tubuh ini bergerak bersiap menghadapi ujian ujian di hari kedua. Dengan berbekal semua bahan yang dikumpulkan saat malam tadi, hari kedua ini saya berangkat ke kampus dengan kondisi lelah, tapi tetap bersemangat untuk segera menyelesaikan ujian tahap pertama ini. Jadilah hari kedua ini benar-benar menjadi juru tulis, robot, dan entah apa namanya. Yang jelas selama 8 jam tidak pernah berhenti menulis dan meminta lembar jawaban. Akhirnya ujian tahap pertama dari ketiga tahap ujian apoteker ini juga

Ujian tahap kedua adalah ujian lisan, berhadapan dengan 9–12 penguji dari berbagai bidang, lengkap mulai dari praktisi industri farmasi, apotek, pemerintahan, sampai rumah sakit menguji kami tentang pengetahuan umum kefarmasian dan tentu saja jurnal yang sudah kami tulis di ujian tahap pertama. Kami berharap lolos dari ujian tahap kedua ini dan membawa kabar gembira pada orang tua kami ketika pulang kerumah saat libur lebaran. Kabar gembira yang akan membuat lebaran kami menjadi penuh makna kemenangan, walaupun masih ada satu tahap lagi, tapi itu sudah cukup membuat mereka tersenyum. Saya dapat jadwal sidang terakhir hari ini, sehingga memungkinkan melihat teman-teman yang sebelumnya sudah masuk ruang sidang. Makin gemetaran ketika ada kawan yang keluar ruang sidang dengan pandangan nanar, namun ada sebuah ketenangan yang tergambar di wajahnya. Sedikit tergambar, bagaimana mengerikannya ruang sidang itu ibarat ruang eksekusi bagi kita. Baiknya tahun ini adalah ketika diadakannya konfirmasi dari peserta sidang untuk setiap kesalahan yang dilakukan saat penelusuran pustaka di ujian tahap pertama. Mungkin hal ini baik untuk beberapa orang, tapi justru mimpi buruk bagi yang lain karena dengan konfirmasi ini lah ada beberapa kawan yang justru keluar sidang dengan wajah masam yang berarti dinyatakan tidak lulus.

Saya pun sempat mengerutkan dahi saat keluar karena dengan konfirmasi inilah obat saya dibilang under dose. Saya pikir ini sangat fatal, sampai beberapa hari setelah itu sebelum pengumuman kelulusan tahap kedua, saya pesimis bisa melanjutkan ujian ke tahap terakhir. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, mendengar doa saya demi melihat senyum-senyum mereka, maka saat hari pengumuman itupun tiba, nama saya dinyatakan lulus walaupun ada peringatan bidang farmasetika. Tentu tidak jadi soal. Saya pun akhirnya bisa berlebaran dengan kabar gembira, walaupun saya yakin masih harus berjuang lagi setelah ini.

Ujian tahap terakhir dilaksanakan setelah liburan lebaran, dengan bekal bahan segala hal tentang avian influenza dan Oseltamivir, saya pun siap dan tenang menghadapi ujian tahap akhir ini. Ujian tahap akhir yang dilalui berbeda dengan tahun sebelumnya, kami dari peminatan pelayanan kefarmasian (PF) harus melakukan penelusuran pustaka lagi tapi lebih pada kasus penyakit yang berkaitan dengan soal pada ujian tahap pertama. Penelusuran pustaka dilakukan selama dua hari, ini pun saya lalui dengan lancar karena dilihat dari data farmakologi sangat lengkap bahkan ada di SK menkes maupun buku panduan pharmaceutical care dari binfar alkes untuk penyakit flu burung. Hasil penelusuran pustaka inilah yang akan menjadi bahan kita untuk ujian praktek sehari terakhir, ujian praktek yang dibagi dalam 2 bagian, pertama untuk profesional dan kedua untuk nonprofessional. Ujian tahap ketiga ini pun saya lalui dengan lancar. Alhamdulillah.. Ternyata memang benar bahwa sesudah kesulitan akan ada kemudahan, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mundur, putus asa untuk mengejar mimpi kita, sebuah mimpi yang akan menghasilkan nikmat yang luar biasa ketika kita mau bersungguh-sungguh dalam menggapainya.

Seperti kata Einstein, hidup seperti halnya mengendarai sebuah sepeda, untuk membuatnya tidak jatuh, maka kita harus terus bergerak, menggerakkan seluruh potensi kita untuk terus mengejar mimpi-mimpi kita. Saat ini mimpi saya demi melihat senyum mereka, senyum orang tua saat melihat selembar ijazah apoteker ada di genggaman tangan saya, senyum mereka saat melihat saya menerima gelar apoteker, senyum ketulusan yang tidak akan pernah terbayar oleh apapun juga di dunia ini.

Akhirnya, tetap berjuanglah kawan..teruslah bergerak sehingga “sepeda” itu tidak jatuh dan membuat kamu menjadi sakit. Kayuhlah dan kamu akan melihat pemandangan yang sangat indah di ujung nanti.

Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did so. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover. -Mark Twain-

-Fuad Pribadi-

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: