Skip to content

Two Tickets to be Pharmacist

01/11/2011

Akhirnya.. akhirnyaa.. akhirnyaaa.. Setelah tepat setahun menjalani program profesi, akhirnya apoteker juga. Di satu sisi senang di sisi lain sadar bahwa beban di dunia ini bertambah. But, never mind.. Sekarang waktunya saya cerita tentang dua tiket yang menghantarkan saya menjadi seorang Apoteker. Tiket pertama disebut UJIAN APOTEKER dan yang kedua disebut PENGAMBILAN SUMPAH APOTEKER.

“UJIAN APOTEKER”

Saya, mendaftar di program profesi apoteker pada kelompok peminatan Produksi dan Pengawasan Mutu (PPM). Seperti yang telah diceritakan teman-teman saya sebelumnya, dalam ujian apoteker kali ini saya harus melalui dua tahapan yang sungguh menguras otak, otot, dan perasaan, yaitu:

  1. Ujian Penelusuran Pustaka dan Ujian Lisan
  2. Ujian Praktikum

Ujian penelusuran pustaka merupakan penentu nasib saya di ujian apoteker ini. Kenapa? Karena di ujian ini dilakukan pengundian soal yang akan menentukan keberjalanan ujian saya.

Pagi-pagi di ruang ujian, rombongan panitia pembawa undian soal datang diiringi perubahan raut wajah cemas para peserta ujian. Satu per satu kami mengambil undian dan akhirnya tiba giliran saya. Berjalan mantap mengambil kertas undian yang ternyata berisi:

SUSPENSI NISTATIN 10 BOTOL

Sempat diam sepersekian detik menyadari tugas ujian ini merupakan antibiotik dan akhirnya memutuskan mengecek ulang. Cek cek cek.. tetap saja dia (nistatin.red) itu golongan antibiotik, tepatnya adalah suatu antijamur. Bukan apa-apa, bukan tidak suka antibiotik, hanya saja.. hanya saja… Ada uji yang bernama PENETAPAN POTENSI ANTIBIOTIK yang seringkali membuat saya gundah gulana.

Nistatin ini merupakan antijamur yang biasa digunakan untuk terapi kandidiasis (infeksi karena jamur Candida albicans). Tugas saya suspensi nistatin, bentuk sediaan ini biasa ditujukan untuk penggunaan pada pasien dengan indikasi kandidiasis pada rongga mulut, tepatnya bagian orofaring dan juga pada saluran cerna.

SRATTT SREET SRAATT SREETT.. Hari pertama berlalu, hanya berhasil menulis 15 halaman saja.

Hari kedua adalah hari menulis sedunia, 15 halaman disulap menjadi 51 halaman, jangan tanya bagaimana caranya, tapi ya inilah realita ujian penelusuran pustaka. Bagian paling berkesan dari penelusuran pustaka ini adalah membuat nama dagang dari sediaan yang ditugaskan. Sempat terpikir oleh saya sediaan suspensi nistatin ini akan saya beri nama NISTANYA, setelah dipertimbangkan matang-matang, kesannya nama tersebut terlalu negatif yaa.. dan akhirnya pilihan jatuh pada nama MIKOSIN.

Ujian berakhir di hari ke-2 saat pengawas berkata, ”waktu habis”

HUAAHH .. LEGA RASANYAA..

Kelegaan ini hanya berlangsung 10 menit saja, karena selanjutnya jadwal ujian lisan sudah terpampang manis menunggu untuk dilihat. YAP! Saya ujian lisan di hari ke-2, urutan ke-2.

Ujian lisan berlangsung dengan penguji dosen dan beberapa praktisi farmasi/kesehatan. Bagian pertama diawali dengan presentasi singkat jurnal penelusuran pustaka yang berarti menceritakan tentang SUSPENSI NISTATIN. Waktu yang diberikan 5 menit, tapi saya menuntaskannya hanya dalam waktu 1 menit. HAHA… tentu saja ini efek suasana ruang sidang.. DEGDEGAN bo!

Selanjutnya, sesi KLARIFIKASI JURNAL PENELUSURAN PUSTAKA, sesi ini adalah sesi paling menegangkan sepanjang ujian lisan berlangsung. Sebenarnya tujuan klarifikasi ini sangat mulia lhoo.. memberi kesempatan kedua bagi setiap peserta ujian yang benar-benar paham akan tugas ujiannya. Saya sendiri, mendapat tiga klarifikasi yang salah satu diantaranya tidak pernah saya temukan selama pemeriksaan ulang jurnal penelusuran pustaka di 8 hari sebelum ujian lisan. Alhamdulillah saya bisa mengklarifikasi dengan baik (*mungkin).

Kemudian ujian lisan komprehensif pun dimulai. Penguji pertama meminta saya menuliskan resep, penguji ke-2 menanyakan persoalan etika, penguji ke-3 menanyakan regulasi distribusi obat hingga detil terkecilnya, penguji ke-4 menanyakan segala hal yang berkaitan dengan Industri. Pertanyaan yang didapatkan pada bagian ini bertubi-tubi dan meluas, sangat berbeda dengan sidang sarjana yang cakupannya bisa ditebak. Pada sesi ini juga menyadarkan saya kalau di dunia luar kampus itu lebih banyak lagi hal-hal yang harus dipelajari.

TAHAP 1 –> STATUS LULUS TANPA PERINGATAN… ALHAMDULILLAH

Kisah ujian berlanjut ke tahap ujian praktikum. Saya mendapat tugas ujian di laboratorium pengujian mutu. FYI, apa yang saya bayangkan saat awal membuka lembar undian soal benar saja KEJADIAN..

Saya termasuk salah satu dari segelintir orang yang ditugaskan melakukan PENETAPAN POTENSI ANTIBIOTIK. Ini berarti saya harus melakukan ujian di dua laboratorium sekaligus: laboratorium mikrobiologi dan laboratorium analisis kimia. Karena tugas ini pula saya diberikan kesempatan untuk melakukan orientasi penetapan potensi.

Oiya, penetapan potensi ini dalam bahasa yang mudahnya bisa dibilang penetapan kekuatan obat. Orientasi dilakukan dalam waktu satu minggu sebelum ujian dan saya hanya mendapatkan 3 kali kesempatan karena masa inkubasi Candida albicans ini adalah dua hari dan kenyataan ini pula yang membuat saya semakin gundah gulana karena waktu ujian praktikum hanya tiga hari, keterlambatan menginkubasi biakan bisa menyebabkan saya tidak punya data.. HIKS!

Ini ada gambar salah satu hasil orientasi saya yang tidak digunakan karena diameter hambat yg dihasilkan kurang memuaskan:

Selanjutnya cerita ujian praktikum:

Bekerja di dua lab sekaligus itu sungguh melelahkan, apalagi lab mikrobiologi berada di lantai 4 dan lab analisis kimia berada di lantai 2. Hari pertama saya menyiapkan sampel saya yang luar biasa dengan alat yang belum pernah saya lihat selama lima tahun terakhir saya berada di farmasi. Sebuah stirrer antik yang.. hmmm.. ya luar biasa deh pokoknya. Setelah sampel disiapkan dilanjutkan dengan membawanya ke lantai 4. OK then, menunggu lift farmasi di pagi hari sama saja dengan menunggu kemacetan Jakarta berakhir (*lebay), alhasil bolak-balik lantai 2–lantai 4 dengan tangga.. HUH HAH keringat sekujur tubuh…

Hari kedua dan ketiga dihabiskan dengan mengerjakan semua pengujian hingga selesai. Akhirnya ujian praktikum ini pun dilewati.😀

TAHAP 2 –> STATUS LULUS TANPA PERINGATAN… ALHAMDULILLAH

Yeah tiket pertama untuk menjadi apoteker sudah dikantongi dan berarti hanya tinggal 1 tiket lagi yang harus dikantongi, yaitu SUMPAH APOTEKER yang dilakukan saat hari pelantikan. Prosesi sakral untuk mengemban tugas seumur hidup.

Alhamdulillah sekali lagi saya ucapkan setelah melalui semua rangkaian tersebut, apalagi teman-teman satu tim apoteker bercerita ini juga berhasil melaluinya. So, inilah kami para apoteker baru, semoga kami dapat terus berkontribusi melalui blog ini😀😀

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: