Skip to content

Kisah Saya dan Ujian Apoteker ITB

02/11/2011

Well, hey hello. We finally meet again here…

Saya mau berbagi tentang masa-masa ujian apoteker kemaren. Here we go.

Ujian apoteker ITB itu penuh tantangan dan lika liku. Ini adalah ujian terpanjang dalam hidup saya. Selama 2 bulan saya mempertaruhkan sebagian besar waktu saya untuk ujian ini. Ujian yang menguras tenaga, pikiran, mental, dan tentu saja uang.

Saya sangat lega bisa melewatinya dengan baik sehingga bisa memperoleh gelar Apt yang kemudian akhirnya disisipkan di belakang nama saya. Alhamdulillah ya Allah.

Ujian apoteker ITB terdiri dari 2 tahap antara lain tahap 1 meliputi Ujian Penelusuran Pustaka (UPP) dan Ujian Lisan (Sidang) serta tahap 2 meliputi Ujian Lab.

Ujian Penelusuran Pustaka (UPP) Ini merupakan tahap inisiasi dari ujian apoteker. Beberapa minggu menjelang UPP, saya masih sibuk berkutat dengan laporan dan tugas khusus PKPA (atau bisa disebut juga Kerja Praktek a.k.a KP). Tidak banyak persiapan yang saya  lakukan, cuma baca hal-hal penting dan kira-kira penting atau yang tidak dimengerti.

Hari H ujian…

Sebelum ujian dimulai, peserta ujian dipanggil satu per satu untuk mengambil undian soal. Dan tiba giliran saya. Deg-degan bukan main, akhirnya saya buka gulungan kertas itu dan tadaaaa… “Sirup Acyclovir”. Senyum-senyum agak lega. Salah satu dosen saya yang jadi panitia ujian yang kebetulan berdiri disitu senyum-senyum liat saya sambil bilang, “Gampang kan? Kamu pasti bisa lah”.Saya melihat pustaka dan ternyata sukar larut air dan tidak larut alkohol. Oh uh. Sediaan ini tidak bisa dibuat larutan sejati maupun pelarut campur (eliksir). Saya pikir satu-satunya cara yaitu dibuat suspensi atau tablet. Dannnn, dilihat di pustaka, ternyata di pasaran ada dibuat menjadi suspensi. Oke, diputuskan bahwa sediaan ini akan dibuat dalam bentuk suspensi.

Ujian Penelusuran Pustaka berjalan tanpa hambatan berarti. Lancar.

Beberapa hari kemudian, Ujian Lisan.

Ujian Lisan (Sidang) Sebelum diuji, saya diberi waktu untuk klarifikasi kesalahan pada saat UPP. Ada seorang dosen dari Kelompok Keahlian Farmakologi yang tiba-tiba nongol di ruang sidang. Padahal beliau bukan dosen penguji yang tercantum di daftar penguji ruangan itu. Deg-degan sangat. Setelah saya berceloteh 5-10 menit menjelaskan mengenai tugas saya, dosen penguji yang tiba-tiba muncul itu bertanya mengenai kekuatan sediaan yang saya pakai. Sumpah, saya gak kepikiran sama sekali itu adalah hal yang fatal. Akhirnya saya diminta untuk melakukan klarifikasi dan mencari solusi jawaban yang sekiranya lebih benar. Salah satu penguji sidang saya adalah kepala BPOM. Wuoooow. Beliaulah orang pertama yang menguji kemampuan dan pengetahuan saya mengenai perapotekeran. Well, satu per satu penguji bertanya. Sebagian tidak terjawab dengan baik. Keluar dari ruang ujian, mau nangis sejadi-jadinya. Merasa tidak yakin lulus.

Tiba saatnya pengumuman kelulusan tahap 1. Semua orang menggambarkan wajah cemas, takut, khawatir. Akhirnyaaaaaaaa, selembar kertas yang berisi nama-nama peserta ujian yang menentukan hidup mati kami ditempel juga. Alhamdulillah puji Tuhan Diha Madihah LULUS tanpa peringatan. Mukjizat Tuhan banget deh itu.

Ujian Lab Ini adalah tahap yang paling merepotkan. Jujur ya, di tahap ini saya lebih optimis. Hehehe. Tapi tetep aja hectic dan menyebalkan. Banyak hal yang saya korbankan demi ujian tahap ini. Kalo sampe tahap ini gagal, lebih baik saya lari ke gunung atau ke pantai.  Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan, tetek bengek yang diperlukan untuk ujian lab.

Tibalah saatnya ujian lab. Proses pembuatan suspensi itu cukup sulit. Titik kritis dari pembuatan sediaan ini adalah pengembangan suspending agent dan pembasahan zat aktif. Nyam nyam… awalnya suspensi acyclovir hasil karya saya cukup memuaskan dan teman-teman se-lab saya memuji “Bagus banget suspensi kamu, Dihaaa”. Uh, I was so flattered.

Akan tetapi, keesokan harinya malapetaka muncul. Di dasar wadah, muncul endapan yang ketika dikocok (dengan sepenuh tenaga-pun) tetap tidak bisa di redispersi. Oh uh. Pengawas saya bilang itu caking. Yah, akhirnya dibahas kenapa bisa terjadi caking dan blablabla.

Hari Pengumuman Hasil Ujian

Diha Madihah lulus tanpa peringatan. ALHAMDULILLAH…

Dan tepat pada tanggal 12 Oktober 2011, saya dan teman-teman calon apoteker lainnya menyatakan Sumpah dan kami resmi jadi apoteker. Hore.

Once again, terima kasih Tuhan. Semoga gelar ini membawa berkah untuk diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya.

2 Comments leave one →
  1. zainul permalink
    07/03/2014 12:02 am

    lumayan kak hahaha
    add balik yaa😀

  2. 10/08/2015 11:10 am

    Kak Diha kereeen.. Semoga saya bisa lancar kuliah di ITB dan bisa lanjut apoteker ITB. Sukses terus kak Diha. sekarang kerja dimana?? Kata ica di garudafood, masih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: