Skip to content

Vitamin E

22/12/2011

Akhirnya setelah sekian lama di sibukkan dengan proses perubahan status calon apoteker menjadi apoteker, sekarang berkesempatan untuk “bercerita” melanjutkan kisah vitamin  yang sempat dibahas pada artikel sebelumnya. Berawal dari maraknya perbincangan dan juga penggunaan vitamin E baik berupa sediaan obat, suplemen oral maupun topikal pada produk-produk kosmetik, nampaknya ulasan tentang vitamin E  cukup menggiurkan untuk digali.

Vitamin E atau dikenal dengan istilah tocopherol merupakan vitamin larut lemak yang banyak terkandung dalam susu, mentega, sayuran hijau, selada, kacang-kacangan, telur, dan buah-buahan.Vitamin ini sering kali disebut-sebut sebagai antioksidan dengan beragam “kepercayaan” pada penggunanaannya. Berikut adalah bahasan tentang efek farmakologi vitamin E:

Antioksidan

Vitamin E merupakan salah satu dari sekian jenis vitamin yang memiliki efek antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat membantu melindungi tubuh kita dari serangan radikal bebas, selengkapnya dapat dilihat pada artikel sebelumnya tentang antioksidan.

Vitamin E sebagai antioksidan ini menghambat kelanjutan reaksi radikal bebas. Dengan asupan vitamin E dapat mencegah induksi kerusakan atau pecahnya sel darah merah (hemolisis). Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian, bahwa dengan rendahnya  konsentrasi vitamin E dalam plasma darah, berkorelasi dengan peningkatan hemolisis oleh agen pengoksidasi.

 Pada penanganan pasien Alzheimer atau demensia,juga menggunakan vitamin E, meskipun mekanisme pastinya belum diketahui. Namun, diketahui bahwa vitamin E dapat berinteraksi dengan membran sel, menangkap radikal bebas, dan menghentikan reaksi pengerusakan sel. Sedangkan penyakit Alzheimer ini melibatkan reaksi oksidasi dan akumulasi penumpukkan radikal bebas. Oleh karena itu, pemberian vitamin E pada pasien Alzheimer atau demensia dapat menghambat perkembangan penyakittersebut.

Berdasarkan data epidemiologi  menunjukan bahwa peningkatan asupan antioksidan seperti vitamin E berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Vitamin E menghambat peroksidasi lemak pada LDL (Low Density Lipoprotein), sehingga dapat membatasi pembentukan plak pada pembuluh darah jantung (atherosklerosis) dan manifestasi klinisnya. Vitamin E juga menghambat agregasi dan adhesi platelet.

 Masih berdasarkan pembuktian epidemiologi, yang menyatakan bahwa konsumsi sayur dan buah-buahan menurunkan risiko kanker, maka dilakukanlah uji klinik penggunaan antioksidan (Viramin E, β-karoten). Dari penelitian tersebut, menyatakan bahwa suplemen antioksidan dapat menurunkan risiko kanker.

 

Imunologi

Hasil penelitian menunjukan bahwa vitamin E dapat meningkatkan respon imun pada lanjut usia dan menghambat produksi prostagalndin E2 yaitu hormon pengaturan dilatasi dan konstriksi pembuluh darah, berkaitan dengan respon inflamasi dan infeksi yang dapat menginduksi demam.

Efek pada Kulit

Selain sebagai antioksidan, vitamin E juga dikenal khasiatnya terhadap perlindungan dan pemulihan kerusakan kulit. Pembahasan efek vitamin E pada kulit ini sudah banyak dikaji berikut dengan klaim khasiatnya, bahkan dari jurnal ilmiah pun terdapat beragam kesimpulan. Diantaranya menyatakan bahwa kombinasi vitamin E dan C mengurangi reaksi terbakar sinar matahari, sehingga dapat menurunkan risiko kerusakan kulit karena paparan sinar ultraviolet (Bernadette et al, 1998). Sedangkan untuk penyembuhan bekas luka operasi pada kulit, sebuah pengujian menyatakan sebanyak 90% kasus dalam penelitian menunjukan bahwa pemberian vitamin E secara topikal tidak memberikan efek dalam penyembuhan (Baumann & Spencer, 1999).

 

Kekurangan Vitamin E

Kekurangan vitamin E umumnya jarang terjadi, karena seharusnya dapat  terpenuhi dengan asupan makanan sehari-hari. Kekurangan vitamin E biasanya terjadi pada individu yang tidak dapat menyerap vitamin atau terjadi keabnormalan genetik. Kekurangan vitamin E pada orang dewasa tidak mengakibatkan suatu penyakit khusus, hanya saja fakta dilapangan membuktikan bahwa dengan asupan vitamin E dapat menurunkan risiko terserang penyakit kronis, terutama penyakit jantung. Kekurangan vitamin E umumnya dapat menimbulkan periferal neuropati, yaitu kerusakan sistem syaraf  tepi. Sedangkan pada bayi prematur, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan iritasi, edema (volum cairan di luar sel meningkat), anemia hemolitk, dan trombosis yaitu pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Kekurangan vitamin E ini ditangani dengan pemberian suplemen vitamin E sebelum terjadi kerusakan syaraf permanen.

Kebutuhan Vitamin E

The National Academy of Sciences (NAS) merekomendasikan dosis vitamin E untuk ibu hamil usia 14-50 tahun sebesar 15 mg, dan untuk ibu menyusui sebesar 19 mg. Sedangkan berdasarkanKeputusan BPOM tahun 2003 Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin E adalah sebagai berikut:

Kategori

Vitamin E

Umum

10 mg

Bayi 4-12 bulan

5 mg

Bayi 2-6 bulan

5 mg

Vitamin E, seperti vitamin-vitamin lainnya yang juga tergolong dalam mikronutrisi memang hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil pada kondisi normal. Oleh karena itu, dengan asupan makanan sehat sehari-hari pun kebutuhan vitamin E ini sudah terpenuhi. Bijak memilih dan memutuskan, karena anda lah yang paling mengerti kebutuhan sehat untuk tubuh anda, JJ.

Referensi :

American Society of Hospital Pharmacist. AHFS drug information 2007. Bethesda: American Society of Health-System Pharmacists, p.3645-3649

Bernadette et al. 1998.Protective effect against sunburn of combined systemic ascorbic acid (vitamin C) and d-α-tocopherol (vitamin E). Journal of the American Academy of Dermatology, Volume 38, Issue 1, p.45-48

Baumann & Spencer. 1999. The effects of topical vitamin E on the cosmetic appearance of scars. University of Miami Department of Dermatology and Cutaneous Surgery, Miami, Florida, USA

 

4 Comments leave one →
  1. lia handayani permalink
    23/12/2011 5:34 am

    Maaf, saya ingin bertanya mba, saya pernah liat dosis vit e di kemasan yg dijual di pasaran koq dlm bentu “UI” ya? Artinya apa? Setara g dengan dosis vit E dlm bntuk miligram? Trimakasi mba…

  2. Dewi Nurjanah permalink*
    26/12/2011 8:16 am

    Untuk menyatakan dosis vitamin, selain miligram biasanya dinyatakan dalam bentuk International Unit (IU), yang berkaitan dengan aktivitas biologi.

    Vitamin E natural sebenarnya terdiri dari beberapa bentuk 8 (4 tocopherols dan 4 tocotrienols), yang tiap bentuknya punya nilai kesetaraan antara IU dan miligram.

    Bentuk vitamin E yang biasanya digunakan dan memiliki aktivitas antioksidan adalah d-alpha-tocopherol (natural) dan dl-alpha-tocopherol (sintetis).

    1 mg d-alpha-tocopherol (natural) setara dengan 1,49 IU
    1 mg dl-alpha-tocopherol (sintetis) setara dengan 2,22 IU
    atau
    1 IU d-alpha-tocopherol (natural) setara dengan 0,67 mg
    1 IU dl-alpha-tocopherol (sintetis) setara dengan 0,45 mg

    Misalnya :
    Vitamin E 15 mg, setara dengan berapa IU?
    15 mg x 1,49 IU/mg = 22,35 IU (natural)
    15 mg x 2,22 Iu/mg = 33,3 IU (sintetis)

    Referensi : AHFS 2007
    Dietary Supplements – National Institutes of health

    Terimakasih atas kunjungannya🙂

  3. heldya permalink
    11/06/2012 1:19 pm

    oh ya mbak, kalau vit e dan vit c yg kita konsumsi 1000 mg (utk vit c) dan 200 IU (utk vit e) apakah itu pas utk tubuh dan kulit?tq

  4. 17/06/2013 9:01 pm

    apakah ketika kita mengkonsumsi vitamin E harus jg mengkonsumsi vitamin C, dikarenakan efek vitamin E yang jika penggunaannya berlebihan akan menjadi pro oksidan dan bukan antioksidan lagi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: