Skip to content

Oseltamivir, Antara Keberuntungan dan Kreativitas.

02/02/2012

“It is health that is real wealth and not pieces of gold and silver.”

-Mahatma Gandhi-

Wabah flu burung akhir – akhir ini mulai mewabah lagi, banyak ditemukan kejadian wabah flu burung di belahan bumi ini, dimulai akhir tahun lalu ketika hongkong dibayang – bayangi kematian unggas akibat terinfeksi virus H5N1, setelah di temukannya bangkai ayam yang terinfeksi  virus H5N1di pasar grosir Cheung Sha Wan pada hari Selasa 20 Desember 2011 (kompasiana:2012). Kemudian pada periode Oktober 2011 juga ditemukan kasus di Jimbaran Bali, akhir tahun ada kejadian pasien suspect flu burung di Jakarta, dan banyak kejadian lain yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini, bahkan awal tahun ini saja ditemukan 2 kasus di Indonesia. Kejadian – kejadian ini seolah kembali mengingatkan kita pada wabah beberapa tahun lalu yang begitu menakutkan. Banyak orang yang meninggal akibat virus flu burung, banyak unggas yang dimusnahkan, dan lebih dari itu, tenaga, pikiran dan investasi besar-besaran terkuras untuk mengatasi wabah tersebut.

Sayangnya, sampai saat ini baru ada satu obat yang bias dikatakan dapat diandalkan untuk melawan virus tersebut, kalaupun dulu ada amantadine dan rimantadine, sudah diketahui bahwa kedua obat tersebut sudah mencapai tingkat resistensi yang tidak bisa melawan virus flu burung untuk starin H5N1. Dan sekarang kita kembali ‘hanya’ mengandalkan satu obat yang biasa kita kenal dengan nama Tamiflu, dengan nama generic oseltamivir. Maka dari itu, marilah kita berdongeng sejenak terkait bagaimana obat tersebut ditemukan.

Seorang pakar rekayasa protein, Dr. Dr Arif B Witarto, MEng seperti yang tertulis di harian kompas tahun 2006 silam mengungkapkan bagaimana oseltamivir ini ditemukan dengan berbagai aspek kecanggihan, kreativitas dan tentu saja keberuntungan.  Telah kita ketahui bersama bahwa oseltamivir termasuk dalam kelompok antivirus neuraminidase inhibitor dimana mekanisme kerjanya adalah menghalangi tertempelnya neuraminidase dari virus ke asam sialat yang terdapat pada permukaan sel sehingga dapat menghalangi protein neuraminidase dari virus tersebut dalam memotong permukaan sel sehingga kemudian virus dapat melepaskan diri dari sel induk tersebut. Protein NA ini menjadi sangat penting bagi virus, sekaligus menjadi titik tolak kenapa oseltamivir dan ‘temannya’ zanamivir ditemukan, berawal dari keberuntungan Graeme Laver dari Universitas Nasional Australia pada tahun 70-an ketika mampu memekatkan protein NA dari virus, kenapa dikatakan keberuntungan, dikarenakan Graeme laver tersebut ‘hanya’ dengan proses sederhana yaitu sentrifugasi mampu mendapatkan kristal protein, padahal saat ini untuk mendapatkan kristal protein RNA, harus dilakukan di ruang antariksa dengan menggunakan pesawat ulang –alik. Dan keberuntungan tersebut membawa berkah yang luar biasa bagi proses pengembangan sebuah antivirus yang sampai saat ini tidak tergantikan untuk memberantas virus flu burung yang makin hari makin bermutasi dengan cepat menjadi strain – strain baru.

Proses selanjutnya, kristal NA yang didapat tersebut menjadi barometer penelitian untuk mengetahui bagaimana struktur molekul protein NA dari virus tersebut berikatan dengan asam sialat dari permukaan sel, dari struktur Kristal protein tersebut juga diketahui pergantian asam amino mana yang dapat menyebabkan perubahan antigen, dan juga diketahui sebaliknya bahwa posisi asam amino yang sama dari berbagai tipe virus yang berbeda. Bahkan karena bentuk kristal yang begitu indah dari kristalografi protein NA tersebut, dengan struktur asam amino yang saling berikatan dengan yang lain, ilmuwan Amerika saat itu menjulukinya sebagai rangkaian bunga mawar.

Dengan berbekal kecanggihan teknologi saat itu, disertai logika para ilmuwan terkait mekanisme dan struktur dari protein NA, maka dibuatlah senyawa yang mirip dengan substrat alami dari protein NA yang saat itu dinamakan DANA. Namun karena kekuatan ikatannya hanya 10 mikromolar, maka kekuatan ikatannya tidak cukup kuat untuk melumpuhkan aksinya, penelitian lebih lanjut didapatkan bahwa pada satu sisi ikatan asam sialat tersebut diisi oleh gugus hidroksil yang berukuran kecil yang dapat menghalangi ikatannya dengan ion negatif dari gugus asam glutamate yang terdapat pada sisi aktif protein NA, penelitian selanjutnya adalah dengan mengganti gugus hidroksil tersebut dengan gugus positif seperti gugus amin dan guanidine, dengan substitusi gugus amin tersebut didapat senyawa turunan asam sialat yang mampu berikatan sebesar 100 mikromolar dengan protein NA, sedangkan dengan guanidine, didapat senyawa turunan asam sialat dengan ikatan nanomolar yang lebih kuat. Maka kemudian munculah pertama kali obat turunan pertama dari inhibitor neuraminidase yang kemudian dinamakan zanamivir yaitu dengan penambahan gugus guanidin, ironisnya justru dengan adanya guanidine inilah menyebabkan zanamivir tidak dapat digunakan secara oral dikarenakan obat yang dalam bentuk ion tidak akan dapat menembus membrane sel yang notabene sebagai pintu pertama untuk beredar keseluruh tubuh. Maka kemudian kita kenal obat zanamivir dalam bentuk obat hirup (local). Dan karena manfaatnya tidak sebaik obat oral, maka penelitian selanjutnya adalah bagimana menemukan jawaban obat antivirus tersebut dikembangkan menjadi obat oral yang relative lebih bias diterima oleh semua pasien dengan rentang umur dari anak – anak hingga dewasa.

Atas permasalahan tersebut, maka munculah usaha keras dan ide kreatif dari para peneliti waktu itu dengan menggunakan kimia kombinasi, yaitu dengan cara sintesa acak dengan membubuhkan berbagai gugus kimia pada senyawa inti, dari proses terbutlah maka kemudian didapat satu gugus dari ratusan ribu gugus kimia yang mempunyai kekuatan ikatan yang setara dengan zanamivir namun tidak ada gugus positif yang menggantikan gugus hidroksil seperti pada zanamivir, gugus inilah yang kemudian diberi nama GS 4071 (singkatan dari Gilead Sciences-penemu gugus tersebut-) yang mampu membentuk kantong hidrofobik setelah berikatan dengan protein NA. namun pekerjaan tidak berhenti disini, berbeda dengan zanamivir, obat turunan kedua ini harus mampu menjawab masalah dari obat pertama sekaligus mempunyai keunggulan lain yang bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat dunia dengan menjadikannya menjadi obat dengan rute oral, bagiamana caranya? Yaitu dengan menambahkan atau dengan kata lain menutupi gugus karboksil yang bermuatan negative tersebut dengan gugus yang tidak bermuatan ion. Hasilnya adalah ditambahkannya GS 4104 dalam struktur obat yang nantinya ketika dalam tubuh dapat berubah menjadi GS 4071, dan obat inilah yang kemudian diberi nama oseltamivir yang dalam tubuh akan mengalami proses hidrolisis pada bagian ester dan berubah menjadi bentuk aktifnya yaitu oseltamivir karboksilat.

Memang penuh dengan keberuntungan, kecanggihan teknologi serta hasil kreatifitas serta  kerja keras dari para peneliti sehingga obat ini lahir dan menjadi pilihan pertama dan terakhir untuk penyakit flu burung, namun pada tahun 2008 silam telah ditemukan berbagai efek samping yang cukup berbahaya bagi perkembangan mental remaja, kasus yang terjadi di Jepang dan Korea membenarkan fakta bahwa oseltamivir mampu mempengaruhi keseimbangan mental dan otak untuk anak – anak dan remaja, 1.268 kasus perilaku luarbiasa yang dilaporkan dan 85% adalah remaja. Mereka dilaporkan melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari gedung – gedung atau mobil. (The Korean Times:2008). Terlepas dari pernyataan seorang wartawan Jerry D. Gray dalam bukunya Deadly Mist yang mengatakan bahwa virus flu burung sengaja diciptakan untuk upaya membentuk tatanan dunia baru, entah dia menyebutnya sebagai senjata massal yang kemudian ditambahkan oleh menkes kita waktu itu Siti Fadilah Supari tentang dominasi dan rahasia dibalik penyebaran virus flu burung, namun virus ini telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup manusia, sementara obat yang kita gunakan sangat terbatas sementara dari waktu ke waktu perkembangan mutasi virus menjadi strain – strain baru, maka pertanyaan selanjutnya bagi kita apakah kita akan selalu berlomba dan berkejaran waktu dengan virus untuk kembali menciptakan dan mengembangkan obat antivirus baru yang masih mempunyai khasiat untuk mengatasi penyebaran virus flu burung. Menarik untuk ditunggu akhir dari ‘race’ ini. Karena sehat adalah kekayaan yang sebenarnya.

-fuadpribadi-

One Comment leave one →
  1. 02/02/2012 12:17 pm

    kisah penemuan obat selalu menarik untuk disimak dan sebagian besar berawal dari ‘ketidaksengajaan’
    makasih infonya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: