Skip to content

Mari Mengenal HIV/AIDS

29/03/2012

Pasti anda sudah sering mendengar tentang penyakit AIDS! AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) , di mata masyarakat mungkin penyakit yang menakutkan. Ya menakutkan, namun yang harus disadari adalah, walaupun menakutkan bukan berarti kita harus menghindari penderita AIDS, atau yang dikenal dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). AIDS yang mengakibatkan menurunnya sistem imun, diakibatkan oleh terinfeksinya penderita oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Human Immunodeficiency Virus). Bahayanya adalah penderita yang sudah terinfeksi HIV, tidak langsung mengalami tanda (sign) ataupun gejala (symptom) segera setelah infeksi terjadi. Gejala penyakit AIDS biasanya baru mulai muncul selama 5-10 tahun setelah terinfeksi, dan biasanya penderita memeriksakan kesehatannya karena sudah pada state yang parah, karena sudah mengalami infeksi opportunistik (yang menyertai AIDS) karena menurunnya sistem imun dan penyakit oportunistik  ini biasanya merupakan penyakit infeksi.

Struktur HIV

AIDS memang merupakan penyakit menular, tapi penularannya pun tidak sembarangan, tidak bisa melalui udara seperti penyakit tuberculosis (TBC). AIDS dapat ditularkan melalui hubungan seksual, melalui transfusi darah atau luka terbuka yang menyebabkan HIV dapat masuk ke peredaran darah dan melalui plasenta dari ibu ke anak (maternal). Akan sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan pasangan anda! Hal ini menjadi sangat penting, karena AIDS di dunia paling besar terjadi melalui hubungan seksual suami istri, suami yang sudah mengetahui bahwa ia memiliki AIDS, dengan sengaja menularkan ke istrinya yang tidak mengetahui tentang kondisi suaminya dan bahayanya adalah penularan bisa terjadi pada janin, jika istri tsb hamil, maka pemeriksaan medis (medical check up) pra nikah menjadi penting. Menghindari penyebabnya (tindakan prevetif) memang tindakan yang paling benar daripada menyembuhkan (kuratif) maupun promotif. Jika ada orang yang terkena AIDS di sekeliling anda, jangan khawatir, AIDS tidak akan menular hanya dengan bersentuhan tangan atau berpelukan, namun bisa saja penularan terjadi karena infeksi oportunistik yang dialami oleh ODHA.

Tindakan preventif yang dapat dilakukan untuk menghindari infeksi HIV adalah:

  1. Mempraktekan seks yang aman.
  2. Penggunaan kondom saat seks.
  3. Menghindari penggunaan jarum suntik bersamaan.
  4. Skrining pada darah yang akan ditransfusi.
  5. Skrining HIV pada orang-orang yang beresiko (seperti pekerja seks komersial/PSK, orang yang suka berganti-ganti pasangan atau pada pengguna narkoba).
  6. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesadaran dan pencegahan AIDS.

Penegakkan diagnosis untuk mendeteksi AIDS bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan memeriksa antibodi terhadap HIV dan atau pemeriksaan CD4+ (cluster of differentiation 4+), yaitu glikoprotein yang diekspresikan pada sel T-helper, monosit, makrofag dan sel dendritik atau secara global bisa diartikan sebagai bagian dari sel darah putih yang berperan dalam sistem imun tubuh. Pemeriksaan ini tentu saja tidak langsung dilakukan, karena umumnya ODHA mengalami berbagai komplikasi penyakit, yang membuat kebingungan para dokter. Bila positif, hal pertama yang harus dilakukan keluarga terdekat adalah melakukan pengecekan darah pada anak ODHA (terutama bila anak tsb masih berumur 1-10 tahun) serta suami ODHA.

Infeksi HIV ini terjadi pada beberapa tahap, yaitu :

  1. Tahap akut
  • Tahap ini terjadi pada beberapa minggu setelah infeksi HIV.
  • Hal yang terjadi pada tahap ini adalah demam yang terjadi secara akut, sakit kepala, lemas (malaise), limfanodenopati (pembesaran kelenjar getah bening), radang tenggorokan dan kemerahan pada kulit.
  • Kemudian gejala berkurang dan menghilang dalam beberapa minggu, kemudian penderita menjadi asimptomatik (tidak mengalami gejala).
  1. Tahap Asimptomatik (Tanpa Gejala)
  • Terjadi beberapa minggu setelah terjadinya infeksi akut.
  • Berlangsung selama periode waktu tertentu (biasanya 5-10 tahun) di mana tidak adanya gejala, namun terjadi destruksi persisten terhadap CD4+ yang mengakibatkan makin melemahnya sistem imun.
  1. Tahap Simptomatik
  • Terjadi saat kadar CD4+ telah menurun secara drastis.
  • Tahap ini ditandai dengan munculnya infeksi opportunistik, yang terjadi karena telah menurunnya sistem imun. Infeksi oportunistik yang biasanya terjadi meliputi: pneumonia pneumocystis (infeksi pada paru-paru), kandidiasis (infeksi pada rongga mulut), infeksi ini merupakan infeksi yang sering pada ODHA. Infeksi lainnya adalah toksoplasma, TBC, infeksi Cryptococcal (pada otak), Cytomegalovirus (herpes) dll.
  • Tahapan ini dibagi lagi menjadi beberapa tahap sesuai dengan jumlah CD4+.
  • Kanker juga dapat terjadi pada tahap ini, biasanya menyerang kulit, nodus limpa dan rongga perut.
  • Pada tahap infeksi HIV yang telah parah, dapat terjadi manifestasi pada syaraf, seperti dementia (pikun), gangguan psikologis dan kehilangan kontrol pada fungsi motorik (pergerakan).

Jadi, hati-hatilah jika orang di dekat anda mengalami gejala-gejala tsb. Namun, jangan khawatir! ODHA masih tetap dapat hidup normal, asalkam infeksi opportunistik tsb disembuhkan dan ODHA mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan secara teratur, untuk menghindari resistensi. Walaupun butuh pengobatan seumur hidup, obat untuk AIDS ini merupakan obat program, yakni obat yang diberikan gratis oleh pemerintah. Obat-obat HIV/AIDS adalah obat anti virus, yang dibagi menjadi golongan protease inhibitor, non-nukleosida reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) dan nukleosida reverse transcriptase (NRTI) dan biasanya telah disusun menjadi fixed combination. Contohnya adalah Lamivudin/Zidovudin, FDC (Lamivudin, stavudin dan nevirapin), DDI (Didanosine), LPV-RTV (lopinavir/ritonavir), D4T (Staviral, Stavudine)3TC (Hiviral, Lamivudin), NVP (Nevirapin), EFV (Efavirenz), ZDV (Reviral), dll.

Terutama untuk keluarga ODHA harus mendapatkan edukasi mengenai HIV/AIDS, agar keluarga tidak takut akan tertular oleh ODHA. Keluarga merupakan sumber kekuatan bagi ODHA, maka jangan menghindari ODHA, karena ODHA tidak berbahaya jika kita tahu cara menanganinya.

 

 

Referensi :

Essentials of Pathophysiology for Pharmacist: Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) p. 51-58

Pharmacotherapy Pathophysiological Approach : Human Immunodeficiency Virus Infection p. 2065-2082

Ditulis oleh: Yositalida K.F- Apoteker ITB

7 Comments leave one →
  1. 29/03/2012 6:54 pm

    Reblogged this on serpihan pelangi and commented:
    yang sudah meng-endemi, mari kenali

  2. 29/03/2012 7:23 pm

    kak yostal, saya reblog ya, lagi geregetan juga sama hiv,😀
    salam kenal, chamidah stf09 :))

  3. 29/03/2012 8:03 pm

    holla chamidah! iya boleh2…makasih ya udah direblogged!

  4. nanang sumarto permalink
    03/06/2012 12:53 pm

    Sya mau tnya,tiap tdur di ruang AC bdan saya hangat.ada apa dg bdan syang

  5. 17/04/2015 5:51 pm

    bagaimana cara mengatasinya gan?
    makasih😉

  6. 19/06/2015 1:30 pm

    apa saja sih penyebab hiv itu dok?
    terimakasih ;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: